
"Sejak kapan Bram menikah? kenapa beritanya tidak terdengar?? Felicia.. sepertinya gak asing dengan nama itu, ini gak boleh di biarin, Bram harus bertanggung jawab," gumam Thalia lalu menelfon Bram.
Drrt.. drrt.. dering hp Bram.
"Nomer siapa nih? kenapa bolak balik nelfon gue terus, menganggu saja," gumam Bram kesal dan mengabaikan telfon dari nomor yang tidak ia kenal.
"Sial kenapa telfon gue di reject mulu?" gumam Thalia kesal lalu mengirim pesan.
Ting.. suara notifikasi hp Bram.
"Bram ini gue Thalia, please angkat telfonnya karena gue mau ngomong penting!!" isi chat Thalia.
"Ngapain dia masih mengusik hidup gue?? dia mau apa lagi?" gumam Bram kesal dan kembali mengabaikan panggilan dari Thalia.
Berhari-hari panggilannya selalu diabaikan oleh Bram bahkan chat darinya hanya di baca saja, merasa kesabarannya di permainkan membuatnya nekat mendatangi kediaman Bram.
Ting tong.. suara bel mansion Bram.
"Cari siapa nyonya?" tanya bi Iin.
"Apa Bram sudah di rumah, bi? saya mau bertemu dengannya, ada yang perlu di bahas dan ini urgent," tanya Thalia to the point.
"Maaf nyonya barusan saja mereka pergi, katanya mau kontrol kandungan nyonya Felicia, apa nyonya mau menunggu dulu?" tanya bi Iin memastikan.
"Oh.. Tidak usah bi saya langsung pulang saja, next time kembali lagi," tolak Thalia.
"Baiklah kalau begitu, kalau boleh tau siapa nama anda? biar nanti saya sampaikan pada tuan Bram," tanya bi Iin.
"Nama saya Thalia, nanti Bram tau itu," jawab Thalia dengan tersenyum kaku lalu bergegas pergi.
"Lagi-lagi zonk, enak sekali istrinya diantar kontrol kandungan dan selalu di perhatikan, sedangkan gue?? yang ada selalu di ancam dan di ancam, sialan bener nasib gue ini," gumam Thalia sambil melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Drrt..drrt.. dering hp Thalia.
"Bram? akhirnya dia yang duluan telfon gue, sok jual mahal sih," gumam Thalia tersenyum smirk lalu mengangkat telfon.
"Halo Bram? akhirnya kita bisa berkomunikasi kembali," ucap Thalia tersenyum smirk.
"Langsung intinya saja, ngapain loe ke rumah gue? mau bahas apa lagi hah? bukannya loe sendiri yang bilang kalau masalah kita udah selesai?? terus ngapain loe usik kehidupan gue, hah? sepenting apa masalahnya?" cecar Bram.
__ADS_1
"Slow baby.. Jangan terus tanya gitu dong gimana aku mau jawabnya," jawab Thalia gemas.
"Gue gak punya waktu meladeni wanita sepertimu, langsung to the point apa masalahnya atau gue blokir nomermu," gertak Bram emosi.
"Ini masalah yang serius Bram," ucap Thalia dengan serius.
"Apa masalahnya? cepat katakan!!"gertak Bram tak sabar.
"Apakah loe masih inget percintaan kita 3 tahun yang lalu?" tanya Thalia serius.
"Bisakah permasalahan itu jangan di bahas lagi, gue rasa sudah cukup gertakan gue waktu itu, apa masih kurang?" tanya Bram kesal.
"Gue maunya juga seperti itu Bram tetapi tidak bisa, apakah loe inget dengan Naomi? putri semata wayangku? bagaimana reaksimu ketika pertama kali bertemu dengannya?" tanya Thalia.
"Naomi? oh anak kecil itu, ya biasa aja memangnya apa hubungannya denganku? jangan bertele-tele, cepat jelasin apa masalahnya!!" gertak Bram.
"Baiklah.. jadi anak kecil yang gak sengaja bertemu denganmu itu adalah anakmu.. Naomi itu anakmu Bram, ini masalah yang ingin gue ucapin waktu kita bertemu.. hiks.. hiks.." ucap Thalia terisak.
"HA?? SANDIWARA APA LAGI YANG INGIN LOE LAKUIN THALIA!! JANGAN MENJEBAKKU DENGAN JEBAKAN RECEH SEPERTI INI, LOE MAU DUIT LAGI KAN? MAKANYA LOE JADIKAN DIA SEBAGAI ALAT!!" teriak Bram tak terima.
"Gue tau loe terkejut mengetahui ini, tapi serius Bram.. dia anakmu, gue jujur.." ucap Thalia dengan jujur.
"Hahaha jangan loe fikir gue gampang tertipu muslihatmu, loe butuh duit berapa lagi?" ejek Bram tersenyum sinis.
"ENAK SAJA!!! GAK... GAK AKAN GUE AKUI DIA SEBAGAI ANAK GUE!! KITA MEMANG PERNAH MELAKUKAN SUATU KESALAHAN TAPI GUE YAKIN HASIL KESALAHAN ITU TIDAK MENJADIKAN ANAK!!! GUE TAU BUKAN CUMA GUE SAJA YANG MELAKUKANNYA JADI GUE BISA PASTIKAN DIA BUKAN ANAK GUE, STOP MENGANGGU LAGI HIDUP GUE!! JANGAN LAGI MERENGEK PERTANGGUNG JAWABAN!!" teriak Bram dengan sangat emosi.
"Bram... gue berani membuktikan jika ini anakmu, please percaya kejujuran gue kali ini, gue pontang panting membesarkan Naomi seorang diri Bram.. hiks..hiks... loe papahnya Bram, gue gak berbohong.." rengek Thalia menangis histeris.
"STOP BERBOHONG!! SEKALI LAGI LOE BAHAS INI JANGAN HARAP HIDUPMU TENANG!!! SURUH TANGGUNG JAWAB SAMA SIMPENANMU LAH, KAN STOK COWOK TAJIRMU BANYAK!!! JANGAN ADANYA HANYA MERONGRONG GUE AJA KARENA GUE BUKAN ATM BERJALANMU!!!" ancam Bram serius.
"Bram.. tolong percayalah," rengek Thalia namun Bram tak menggubrisnya dan memilih memutus panggilan telfonnya.
"SIAL.. MASALAH APA LAGI INI? KEJADIAN UDAH LAMA KENAPA MINTA PERTANGGUNG JAWABANNYA SEKARANG? KALAU MEMANG DIA ANAK GUE YA HARUSNYA DARI DULU DONG NYARIIN GUE BUAT TANGGUNG JAWAB!!! DASAR CEWEK LICIK!" gumam Bram lalu mengobrak abrik semua benda yang ada di meja.
Felicia yang kebetulan masuk ke kamar sangat terkejut dengan amukan suaminya, baru kali ini ia melihat Bram semarah itu.
"Bram... kamu kenapa ha?" teriak Felicia terkejut karena barang-barang berserakan.
"Fel.. Felicia? ahh gak papa kok," Jawab Bram terkejut dan segera bersikap senormal mungkin.
__ADS_1
"Gak papa kenapa semua barang berantakan seperti ini? apa yang sedang kamu cari??" tanya Felicia heran.
"Gak ada.." jawab Bram ketus.
"Yang bener aja, gak ada apa-apa kamar berantakannya seperti ini, ada apa sih?" tanya Felicia penasaran.
"Bisa diam gak? saya tidak mau di ganggu," gertak Bram lalu keluar kamar dengan membanting pintu sangat keras.
"Kenapa sih dia kok aneh banget?? apa yang sedang di sembunyiin?" gumam Felicia lalu memanggil art untuk membersihkan kamarnya dan Felicia mengejar Bram.
"Tunggu Bram..." teriak Felicia.
"Kenapa lagi?" tanya Bram ketus.
"Pertanyaanku belum di jawab, kenapa kamu sampai seperti ini? apa yang menganggu fikiranmu?" tanya Felicia.
"Gak ada urusannya denganmu jadi jangan ikut campur, mengerti?" ucap Bram penuh penekanan.
"Gak.. kita ini suami istri, harusnya kalau ada apa-apa ya di selesaikan bersama, aku yakin masalah ini bukan masalah kecil, jujurlah Bram siapa tau aku bisa bantu," pinta Felicia.
"Jangan ikut campur, aku gak mau semuanya tambah runyam, oh iya satu lagi.. jangan berisik merengek-rengek ingin tau, aku gak nyaman," gertak Bram lalu pergi menaiki mobil entah kemana.
"Astaga.. masalah apa yang sedang menimpanya? kenapa dia sampai seperti itu padaku?? siapa yang menganggu fikirannya??" gumam Thalia sedih dan meneteskan air mata karena di gertak oleh Bram.
bi Iin yang melihat pertengkaran majikannya merasa gak tega melihat Felicia menangis seperti itu, ia tahu rasanya pasti sangat sakit di gertak orang yang di sayang apalagi posisinya hamil besar.
"Maaf nyonya bukannya bibi ikut campur, tapi bibi mau memberitahu sesuatu," ucap bi Iin ragu-ragu.
"Memberitahu apa bi?" tanya Felicia penasaran dan menyeka air matanya.
"Waktu tuan dan nyonya sedang pergi kontrol kandungan, ada tamu datang kesini mencari tuan Bram, dia bilang mau membahas masalah yang sangat penting dan urgent, ketika saya minta menunggu dulu, dia menolak nyonya.. katanya besok-besok mau kesini lagi," ucap bi Iin dengan ragu-ragu.
"Siapa namanya bi? kenapa bibi tidak bilang?" tanya Felicia penasaran.
"Maaf nyonya ini permintaan tuan Bram, bibi disuruh diam.. yang datang kemari adalah perempuan cantik namanya Tha.. oh iya namanya Thalia, nyonya," ucap bibi dengan ketakutan.
"Thalia?? dia datang kesini sendirian?" tanya Felicia terkejut.
"Tidak nyonya, dia kesini sama anaknya," ucap bi Iin tak berani menatap Felicia.
__ADS_1
"Terima kasih bi," jawab Felicia lalu bergegas masuk ke kamar.
"Thalia.. ada masalah apa sebenarnya antara kau dengan suamiku?? kenapa Bram menutupi ini?? Aku harus mencari tau ini secara diam-diam, jangan harap bisa lolos membohongiku," gumam Felicia berurai air mata.