
Hari ini adalah hari dimana Felicia akan menikah dengan Bram, meskipun hanya diselenggarakan akad saja namun pernikahan mereka tetap sah.
"Hari ini adalah hari dimana statusku akan menjadi seorang istri dari Bram Wijaya, anak laki-laki orang terkaya nomor 2 di Asia. Seharusnya posisi gue ini menjadi idaman para cewek karena setelah ini otomatis kehidupan gue jauh lebih baik dan terjamin, sayangnya pernikahan ini diselenggarakan karena sebuah kecelakaan yang mengakibatkan hadirnya buah hati di rahimku, andai kami menikah karena saling mencintai, pasti pernikahan ini menjadi pernikahan yang bahagia." Batin Felicia sambil melihat dirinya di pantulan cermin.
Drrt.. drrt.. Dering hp Felicia.
"Halo Bram?." Sapa Felicia.
"Sebentar lagi aku sampai, jadi segera bersiap." Ucap Bram.
"Loh?? Kita menikah di KUA kan? Ngapain kamu sampai kesini?." Tanya Felicia heran.
"Cancel.. Kita menikah di mansionmu, apa orang tuamu gak kasih tau??." Tanya Bram membuat Felicia kaget.
"Loh?Iyakah?? Kok mamah dan papah gak ada yang ngasih tau sih?? Alasannya apa Bram?." Cecar Felicia penasaran.
"Ya intinya demi keamanan kita, tenang saja aku bawa selusin bodyguard, polisi dan TNI." Ucap Bram dengan angkuh.
"Astaga kenapa kayak konser sih, kamu lebay banget sih Bram, emang mereka piring pakai bilang selusin." Ucap Felicia geli.
"Serius calon istriku, lihat saja nanti. Memang pernah aku membual?." Tanya Bram.
"Pernah.." Jawab Felicia cepat.
"Kapan dan apa?." Tanya Bram penasaran.
"Ya waktu di villa tuh katanya aman karena kode akses hanya kamu yang tau, nyatanya?? Ada penyusup kan." Jawab Felicia kesal.
"Yaya maaf. Itu diluar kendaliku dan aku masih yakin penyusup itu bukan orang sembarangan." Ucap Bram menyesal.
"Makanya itu jangan sok-sokan jamin keamanan anak orang." Gerutu Felicia manyun.
"Stop berdebat deh, kita mau menikah loh dan beberapa menit lagi ijab qabul. Habis ini aku sampai di mansionmu." Ucap Bram lalu mematikan telfon.
"Aduh kenapa gue deg-degan gini sih, habis ini jadi istri orang." Gumam Felicia mondar mandir karena gugup.
Tok..tok..tok.. ceklek.
__ADS_1
"Mamah?." Sapa Felicia kaget.
"Hai sayang? Bram dan keluarganya udah sampai, yuk keluar." Ajak Vina lembut.
"Mah.. kenapa Feli gugup ya?." Tanya Felicia terus mondar mandir.
"Itu wajar sayang karena sebentar lagi statusmu berubah jadi seorang istri, gak terasa putri semata wayang mamah sudah dewasa dan menjadi seorang ibu. Mamah sebenarnya sedih karena sebentar lagi kita akan pisah tapi apa mau dikata, kamu nantinya jadi istri Bram dan kemanapun Bram pergi maka kamu akan ikut dan mematuhi perintahnya selagi itu masih wajar." Ucap Vina meneteskan air mata.
"Mamah.. Jangan gitu dong, Feli masih tetep anak mamah dan papah. Feli tetep anak kecil dimata kalian meskipun nantinya sudah jadi istri Bram dan punya anak." Rengek Felicia ikut menangis dan mereka saling berpelukan.
"Rasanya masih kemarin mamah melihatmu belajar jalan dan masuk fase sekolah, hari ini mamah harus ikhlas melepasmu menjadi istri Bram. Semoga rumah tangga kalian nantinya baik-baik ya sayang, mamah yakin Bram anak yang baik dan bertanggung jawab. Felicia anak mamah.. Sebentar lagi jadi istri Bram dan masuk dalam keluarga Wijaya." Ucap Vina terisak.
"Mamah... Tetep mamah perempuan yang sangat Felicia sayang, mamah menjadi role model Felicia nantinya ketika berumah tangga. Terima kasih mah sudah menjadi panutan dan contoh yang sangat baik bagi Felicia." Ucap Felicia terisak.
"Sama-sama sayang sebentar lagi kamu pun akan melakukan hal yang sama pada anakmu. Udah yuk usap air matanya nanti malah make up kita luntur, jangan larut dalam kesedihan, kasihan keluarga Bram sudah menunggu." Ucap Vina dengan tegar lalu menyeka air matanya dan Felicia.
"Maaf nyonya dan non Felicia, ijab qabul sebentar lagi mau dimulai dan pak penghulu menunggu mempelai wanita." Ucap bibi dengan hati-hati karena tidak mau merusak momen haru majikannya.
"Baik bi makasih ya sebentar lagi kami turun." Ucap Felicia menyeka air matanya.
"Are you ready Felicia Agnesia Soetanoe yang sebentar lagi akan menjadi Felicia Agnesia Attirmidzi Wijaya?." Ucap Vina.
"Mamah.. Jangan gitu ah. Im ready mommy. cmon." Jawab Felicia dengan mantap lalu mereka berjalan beriringan menuju tempat akad.
Semua mata memandang Felicia yang sangat cantik dengan balutan kebaya yang simple namun elegan. Perut buncitnya hari ini tertutup sempurna dengan aksen manik-manik yang berkilau.. Orang tua Felicia merasa puas dengan desain kebayanya.
"Cantik sekali.. kamu sangat cantik Fel, ditambah aura kehamilanmu semakin menambah pesona tersendiri." Batin Bram terpana.
"Ehem.. bisakah acaranya dimulai?." Tanya penghulu membuyarkan lamunan Bram.
"Bi..bisa pak." Jawab Bram kaget.
"Baiklah.. Untuk pihak perempuan apakah anda sudah siap menikah dengan saudara Bram?." Tanya penghulu.
"Si..siap pak." Jawab Felicia terbata dengan jantung berdebar.
"Baiklah jika keduanya sudah siap dan saksi pun lengkap maka pernikahan bisa terlaksana.
__ADS_1
Saudara Bram Attirmidzi Wijaya bin Jaya Wijaya saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan perempuan pilihanmu sendiri yang bernama Felicia Agnesia Soetanoe binti Soetanoe dengan mas kawin emas batangan 30 gram dan uang tunai 1 miliar dibayar tunai." Ucap penghulu dengan mantap.
"Saya terima nikah dan kawinnya Felicia Agnesia Soetanoe binti Soetanoe dengan emas batangan 30 gram dan uang tunai 1 miliar dibayar tunai." Ucap Bram dengan sekali nafas dan lantang.
"Bagaimana saksi? sah?." Tanya Penghulu pada para saksi.
"Sah.." Jawab saksi kompak.
"Alhamdulillahirabbilalamin (lalu penghulu membacakan doa pernikahan)." Ucap penghulu lega dan hadirin yang hadir ikut mengaminkan.
"Akhirnya Felicia sudah menjadi istriku, setidaknya setelah ini dia akan aman berada di sisiku. Permasalahan yang sedang dihadapi sangatlah rumit dan bukan orang sembarangan, aku gak mau terjadi lagi Felicia masuk rumah sakit apalagi itu sampai menyangkut janinnya." Batin Bram dengan lega.
Felicia dan Bram saling memasangkan cincin pernikahan, setelah itu Felicia mencium tangan Bram dan dibalas kecupan di pucuk kepala Felicia.
"Kamu dan anak kita akan aman bersamaku." Gumam Bram membuat Felicia terkejut, mau bertanya tapi tidak enak karena masih ada keluarga.
"Apa maksudnya ngomong gitu? Kenapa juga ngomongnya harus di situasi banyak orang gini kan gue jadi malu mau nanyain. ish belum apa-apa udah bikin kesel." Batin Felicia menatap tajam Bram.
"Jangan saling pandang begitu nanti malam juga kalian bisa saling menatap sampai bosan. Untuk sekarang sabar dulu ya." Goda Wijaya menautkan kedua alis.
"Papah apaan sih siapa juga yang saling tatap." Bantah Bram kesal.
"Ahh shy shy cat. Nanti malam berubah jadi singa." Goda Wijaya.
"Papah..." Geram Bram kesal.
"Pah udah dong jangan jahilin anak kita, sekarang dia udah jadi suami dan kepala rumah tangga." Ucap Weny menimpali.
"Tambah satu mah, to be daddy." Ucap Wijaya terkekeh.
"Mah Pah please jaga image. Ini acaranya baru aja kelar." Geram Bram dengan kesal campur malu.
Disaat suasana bahagia sedang bersama mereka, di lain sisi ada salah satu bodyguard yang menjadi mata-mata.
Ting.. notifikasi hp bos besar yang menyuruh mata-mata.
"Hari ini mereka melangsungkan acara pernikahan dan berjalan dengan lancar bos, semua akses dijaga sangat ketat dan hanya pihak keluarga yang datang." Isi chat bodyguard sekaligus mata-mata.
__ADS_1