
Felicia sudah tidak sabar ingin menanyakan perihal aset perusahaan dan masion mewah milik orang tua Thalia, setelah sampai di rumah dan masuk kamar Felicia langsung mencecar beberapa pertanyaan.
"Bram ada yang perlu di bahas," ucap Felicia serius.
"Apa sayang?" Tanya Bram lembut dan membelai pipi Felicia.
"Tentang orang tua Thalia beserta kekayaannya," ucap Felicia serius.
"Permasalahannya dengan kita apa sayang?" tanya Bram bingung.
"Jelas ada.. apa benar kamu memberikan mereka perusahaan dan juga rumah mewah?" tanya Felicia to the point.
"Sayang masalah ini tidak perlu dibahas karena itu tidak ada sangkut pautnya denganmu," ucap Bram meminta.
"Ohh jelas ada dong apa kamu lupa siapa aku dan apa posisiku?? apapun rahasia yang ada di belakangku meskipun itu masa lalu, aku harus mengetahuinya apalagi jika itu menyangkut masa depan, enak sekali ya kamu memberikan orang tuanya perusahaan secara cuma-cuma dan rumah mewah serta harta berlimpah, pantas saja Thalia gencar sekali mendekatimu," sindir Felicia emosi.
"Sayang bisa gak jangan bahas ini dulu? aku mau istirahat sayang.. kepalaku pening menghadapi masalah yang selalu datang, kini sudah selesai dan aku ingin ketenangan," pinta Bram.
"Tidak.. ini harus dibahas dan di selesaikan segera, semua itu terjadi karena dari kamu sendiri yang mengatakannya, aku gak terima Bram," protes Felicia.
"Gak terimanya karena apa sayang?" tanya Bram penasaran.
"Masih nanya lagi.. mana ada istri yang rela kalau harta suami dibagi dengan orang di masa lalunya, mereka bukan siapa-siapamu loh, ikatan darah persaudaraan pun bukan tapi kenapa kamu dengan gampangnya memberikan kekayaanmu pada mereka?? kamu waras Bram?" ucap Felicia emosi.
"Ada alasan khusus mengapa aku melakukan sejauh itu sayang dan aku rasa tidak perlu kamu mengetahuinya karena itu masa lalu.. aku memberikannya jauh sebelum memiliki hubungan apapun denganmu," ucap Bram.
"Tapi berlanjut sampai sekarang? sampai kamu menikah dan memiliki kedua anak?" sindir Felicia tersenyum sinis.
"Tidak sayang.. aku tidak sebodoh itu," protes Bram kesal.
"Lalu mereka dapat uang darimana bisa membeli perumahan mewah itu? kita saja tinggal di perumahan yang biasa, sedangkan mereka berada di lingkup perumahan mewah dan elite," ucap Felicia tak terima.
"Rumah kita ini salah satu rumah terbesar di kompleks sini sayang apalagi ini termasuk perumahan yang elite, tidak sebanding dengan tempat tinggal orang tuanya Thalia," bujuk Bram.
"Aku juga tidak bodoh Bram.. setidaknya aku tahu mana perumahan kelas atas dan standar, jujurlah kenapa kamu memberikan hartamu pada mereka," desak Felicia.
"Bukan memberikan.. lebih tepatnya sebagai ungkapan terima kasih pada mereka karena sempat menyelamatkan nyawaku ketika kritis, mamahnya Thalia dengan sukarela mendonorkan darah dan sebelah ginjalnya untukku, aku berhutang kehidupan padanya.. makanya itu sebagai hadiah aku memberikan anak perusahaanku dan juga sejumlah uang untuk membeli rumah," ucap Bram menjelaskan.
"Aku rasa ada yang lainnya juga," sindir Felicia.
"Ya kalau boleh jujur.. karena dulu aku sangat menyayangi Thalia makanya aku tidak tega melihatnya hidup sengsara, perusahaanya gulung tikar dan rumahnya disita oleh bank, ketika itu aku tidak tega melihatnya terpuruk makanya aku menolong sebisaku," ucap Bram.
__ADS_1
"Wow.. enak sekali ya jadi Thalia, masih jadi pacarmu aja udah dikasih perusahaan dan rumah, bagaimana kalau kalian sampai menikah??" sindir Felicia.
"Itu dulu sayang.. sekarang perasaanku padanya sudah hilang apalagi dia sampai memperalat Naomi agar bisa mendapatkan uang secara mudah, itu yang membuatku semakin membencinya" ucap Bram menahan emosi.
"Tapi tetap saja kenangan itu masih ada sampai sekarang dan kini mereka hidup dengan bergelimang harta, berapa nominal uang yang kamu berikan?" tanya Felicia menginterogasi.
"Janganlah di bahas.. Itu sudah masa lalu" tolak Bram.
"Kalau kamu menolak semakin membuatku yakin bahwa kamu masih memberikan sejumlah uang hingga saat ini," gertak Felicia.
"Tidak.. sungguh, hanya sekali saja waktu itu untuk membeli rumah," ucap Bram.
"Lalu kenapa kamu susah sekali mengatakan nominalnya," ucap Felicia.
"Ini sangat sensitif sayang," elak Bram.
"Aku ini istri sah kamu, mau itu hal sensitif apapun tetap aku harus mengetahuinya, apa kamu mau kalau aku menyimpulkan sendiri hasil pemikiranku lalu mengabaikanmu?" gertak Felicia.
"Jangan sayang.. aku tidak mau menambah masalah lagi," pinta Bram.
"Makanya katakan sekarang," ucap Felicia tak sabar.
"WHAT??? ITU JUMLAH YANG SANGAT FANTASTIS BRAM.. PANTAS SAJA KELUARGANYA THALIA SANGAT GLAMOUR, KAMU JAHAT BRAM!!" protes Felicia tidak terima.
"Itu dulu sayang.. makanya aku gak mau mengatakan karena aku takut nantinya menjadi permasalahan," ucap Bram.
"Jelas menjadi permasalahan.. itu nominal yang bukan main-main, aku saja kalau dikasih segitu sangat rela jika tidak memiliki ginjal," ucap Felicia ketus.
"Jangan ngomong begitu!!" gertak Bram.
"Aku hanya berandai, kalau boleh jujur aku sakit hati denganmu Bram.." ucap Felicia.
"Maaf sayang.. sakit hati karena apa?" tanya Bram bingung.
"Karena kamu dengan mudahnya memberikan uang 1 triliun pada orang tua Thalia, sedangkan dengan anak kandungmu sendiri? kamu memberikan berapa??? ha??" protes Felicia.
"Mereka masih terlalu kecil untuk diberikan uang dalam jumlah yang banyak," ucap Bram.
"Ohh,jadi yang berhak itu orang tua Thalia saja, iya? wow.. papah yang baik," sindir Felicia tersenyum getir.
"Bukan begitu Fel.." ucap Bram terpotong.
__ADS_1
"Bukan begitu apanya? jelas-jelas kamu memberikan uang segitu banyaknya dan memberikan perusahaanmu, sedangkan apa yang di dapat anak-anakku? hanya uang saja sejumlah 20 miliar.. tidak ada niatan memberikan anakmu perusahaan, sedangkan orang lain kamu berikan cuma-cuma.. jika kamu masih menghidupi keluarga Thalia dan selalu mentransfer uang, jangan harap aku akan memaafkanmu!!" ancam Felicia.
"Sudah aku bilang jika aku memberikannya hanya sekali saja, kenapa kamu begitu tidak mempercayai suamimu ini?" ucap Bram kesal.
"Karena aku kecewa sama kamu Bram, katamu akan memberikan terbaik dari yang terbaik, tapi apa?? sampai sekarang kamu tidak mempersiapkan masa depan apapun pada anakmu, dia anakmu loh Bram.. anak kandungmu," ucap Felicia penuh penekanan.
"Aku sudah mempersiapkan sayang, deposito masing-masing 10 miliar, rumah dan apartemen, kalau untuk perusahaan nanti setelah mereka dewasa, aku akan mengajari mereka terutama Emil untuk handle perusahaan, tidak hanya itu saja aku juga sudah mempersiapkan aset yang lainnya seperti kapal pesiar, pulau pribadi, villa dan ada juga tabungan pendidikannya, apa itu kurang cukup?? nanti kan Emil dan Eleora semakin dewasa otomatis aku akan memberikannya credit card yang unlimited, kurang apa sayang??" ucap Bram tak terima.
"Ka..kamu mempersiapkan itu semua tanpa sepengetahuan dariku?" tanya Felicia terkejut.
"Niatnya besok pagi aku ingin membicarakannya tapi kamu sudah terlalu emosi dengan apa yang aku beri pada orang tua Thalia, kalau di jumlahkan nominalnya sudah pasti lebih besar anak-anakku.. aku sangat menyayangi kalian, hanya kalian prioritas di hidupku sekarang.. apa yang aku dapatkan sekarang itu semua untuk kalian, jadi jangan berfikiran yang bukan-bukan tentangku lagi," pinta Bram.
"Tapi aku masih gak terima Bram.. kamu terlalu mengistimewakan Thalia beserta orang tuanya hiks..hiks.." ucap Thalia terisak.
"Itu bukan perasaan tak terima melainkan perasaan cemburu buta, Thalia hanya perempuan di masa laluku, perasaanku padanya pun sudah sirna," ucap Bram.
"Aku boleh meminta sesuatu?" tanya Felicia.
"Apa sayang?" tanya Bram penasaran.
"Tarik semua harta yang pernah kamu beri dan juga perusahaannya," ucap Felicia serius.
"Tidak bisa sayang, perusahaan sudah atas nama papahnya Thalia dan untuk uang.. maaf sayang itu memang bentuk rasa terima kasihku atas penolongan mereka," tolak Bram.
"Oke kalau uang gak papa, aku toleransi tetapi untuk perusahaan, silahkan ambil alih atau aku akan membawa anak-anak keluar dari rumah ini," gertak Felicia.
"Sayang..tolong jangan menambah masalah lagi, aku ingin tenang," pinta Bram.
"Aku akan lebih tenang jika kamu berhasil mengambil alih perusahaan yang kamu berikan, aku sakit hati dengan keluarga Thalia yang memandangku rendah, dia hanya memandang orang dari harta saja, andai kamu orang miskin pastinya kamu akan di caci maki Bram," gertak Felicia.
"Sulit untuk mengambil apa yang sudah pernah aku beri," rengek Bram.
"Baiklah aku akan pergi dari mansion ini beserta anak-anak," ucap Felicia lalu bergegas keluar kamar dan membawa anaknya pergi dari mansion.
"Fel.. jangan begini dong, tolong fikirkan anak-anak juga.. ini sudah malam," protes Bram menghalangi Felicia keluar rumah.
"Minggir atau aku teriak minta tolong," gertak Felicia dan kedua anaknya menangis.
"Silahkan saja.. kamu ini istriku, jika kamu meminta tolong pun apa alasan yang akan kamu katakan," tantang Bram dan Felicia menendang lutut Bram sangat kuat hingga Bram merintih kesakitan, kesempatan itu diambil oleh Felicia untuk kabur.. untung taxi yang di pesan datang tepat waktu, jadi Felicia berhasil kabur.
"Fel.. FELICIA.. JANGAN BAWA ANAKKU," teriak Bram mengejar Felicia namun usahanya gagal, kakinya sangat sakit.
__ADS_1