
Sebelum siuman Felicia merasakan mimpi yang seperti kenyataan dimana dia bertemu anak kecil tampan yang menggemaskan bermain disebuah taman yang sangat indah, ia sendirian tanpa ada orang tua yang mengawasi. Lantas Felicia menghampiri anak kecil nan tampan itu.
"Hai anak tampan sedang apa kamu disini?" tanya Felicia lembut.
"Halo mamah aku disini sedang bermain karena tempat ini sungguh indah, aku senang berada disini karena disini aku dijaga dengan baik oleh semua orang dan mereka sangat menyayangiku," ucap anak tersebut dengan polosnya.
"Ma..mamah? kamu memanggilku mamah?" tanya Felicia terkejut dan mundur perlahan.
"Iya karena aku yang ada di dalam perut mamah, aku tahu keberadaanku sangat tidak di inginkan di dunia makanya biarkan aku berada disini saja," ucap anak tersebut sambil menatap Felicia pekat.
"Kamu anak aku? anak yang ada di dalam perutku?" tanya Felicia tak percaya.
"Iya mamah, habis ini mamah boleh kembali tapi biarkan aku berada disini saja," pinta anak tampan penuh harap.
"Tidak.. kamu harus ikut denganku, ada oma dan opa yang sangat menantikan kehadiranmu, ayo.." ajak Felicia menggandeng anak itu dengan lembut.
"Tapi Mamah harus janji," ucap anak itu menepis tangan Felicia pelan.
"Janji? apa janjinya?" tanya Felicia penasaran.
"Mamah harus janji setelah kita kembali nanti jaga dan rawat aku dengan baik, aku ingin tumbuh menjadi anak yang disayangi semua orang, sayangi aku sepenuh dan setulus hatimu mah, begitupun dengan papah," pinta anak itu sangat sederhana namun mampu membuat hati Felicia berdesir.
"Baiklah.. akan aku usahakan, sekarang kita kembali ya kasihan oma dan opa mengkhawatirkan kita," bujuk Felicia.
"Baiklah mah.." jawab anak itu dengan raut wajah senang lalu tiba-tiba menghilang.
"Nak.. kamu kemana? kembalilah," teriak Felicia histeris karena anak tersebut tiba-tiba menghilang.
Lalu tiba-tiba Felicia bangun dari koma dan seluruh keluarganya mengucap syukur.
"Syukurlah sayang akhirnya kamu sudah siuman," ucap Vina menangis senang.
"Mamah.. papah.. Bram," ucap Felicia lirih dan menggerakan tangan karena ingin memegang orang tuanya.
"Jangan banyak gerak dulu ya sayang," jawab Vina lembut lalu menggengam tangan Felicia dengan hangat.
__ADS_1
Setelah itu dokter datang dan menyatakan Felicia sudah melewati masa kritisnya.. Sebuah kabar yang sangat menggembirakan bagi kedua orang tuanya.
Tak hanya orang tuanya saja yang sangat bahagia akan kesembuhan Felicia. Keluarga Bram pun langsung bergegas ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari Bram.
15 Menit kemudian Weny dan Wijaya sudah tiba di rumah sakit.
"Felicia..." sapa Wina sangat senang.
"Tante Wina," jawab Felicia lirih dan tersenyum.
"Tante sangat bahagia ketika Bram memberitahu jika kamu sudah siuman, semoga setelah ini kamu semakin membaik ya sayang dan bisa segera pulang," ucap Wina berharap.
"Iya tante terima kasih," jawab Felicia lirih dan menganggukan kepala.
Lalu mereka berbincang ringan karena masih ingin menjaga kondisi Felicia supaya lebih stabil. Mereka takut jika langsung membicarakan pernikahan akan membuat kondisi Felicia down.
"Sebenarnya saya ingin sekali membahas pernikahan anak kita tapi takutnya nanti membuat Felicia down," bisik Weny.
"Iya jeng makasih pengertiannya, kita tunggu beberapa hari lagi sambil melihat progres kesembuhan putriku," bisik Vina sambil menatap Felicia.
"Ehem.. jika ada sesuatu yang ingin di bicarakan segera di ungkapkan, jangan malah bisik-bisik tetangga gitu," ucap Wijaya menatap istrinya dan langsung membuat kedua wanita tersebut salah tingkah.
"Eh papah daritadi ngeliatin kita toh rupanya hehe," ucap Wina salah tingkah.
"Ada apa dan kenapa sampai bisik-bisik Mah?" tanya Wijaya penasaran.
"Hmm jadi gini pah, kami tadi membahas anaknya Felicia, apakah kondisinya masih lemah atau sudah membaik harusnya kan besok jadwalnya suntik cairan nutrisi," alibi Wina.
"Iya juga mah bagaimana ini pak Tanoe apakah perlu di panggilkan dokter kandungannya?" tanya Wijaya.
"Boleh, biar semakin jelas keadaan calon cucu kita," jawab Soetanoe setuju.
Lalu pak Wijaya memanggil dokter via telfon kamar inap, sambil menunggu dokter mereka berbincang-bincang ringan disertai gelak tawa.
Tapi tidak bagi Felicia, ketika mamahnya Bram menyebut anak yang di kandungnya ia langsung teringat mimpinya sebelum tersadar dari koma.
__ADS_1
"Nak apakah yang di mimpiku kemarin itu wujudmu di masa mendatang? apakah ucapanmu di mimpiku itu permintaanmu supaya aku bisa menyayangi dan menjagamu? sebenarnya permintaanmu itu sederhana nak, akan tetapi aku tidak yakin apakah bisa mengabulkan permintaanmu itu.. aku akan mencoba berusaha dan semoga tanpa kamu minta suatu saat aku memang merasakan sayang dan menjagamu dengan sepenuh hati," ucap Felicia sambil mengelus perutnya yang kini membuncit.
Vina yang melihat putrinya sedih langsung menghampiri dan menanyakannya.
"Ada apa sayang kenapa kamu sedih seperti itu?" tanya Vina dengan lembut.
"Apakah selama aku koma kondisi janinku baik-baik saja?" tanya Felicia lirih.
"Tenang saja sayang semuanya baik kok soalnya setiap seminggu sekali spesialis dokter kandungan memeriksa kandunganmu" ucap Vina berbohong.
"Syukurlah terima kasih mah," jawab Felicia tersenyum lega.
"Iya sayang sekarang kamu fokus kesembuhanmu saja dan juga jangan lupa makan biar janin kamu semakin sehat, mamah sedih melihatmu terbaring lemah begini, ayo semangat sembuh sayang," ucap Vina menyemangati.
"Terima kasih mah sudah sebegitu sayangnya sama Feli," jawab Felicia terharu dan meneteskan air mata.
"Sst.. kamu ini ngomong apa sih? semua orang tua ya memang sayang sama anaknya, itu sudah ikatan batin," jawab Vina gemas.
"Ikatan batin ya mah," ucap Felicia termangu ucapan mamahnya dan kembali memikirkan mimpi dengan anak tampan itu.
"Jika Mamah bilang kalau ada ikatan batin antara ibu dan anak tetapi mengapa sampai sekarang Feli belum ada perasaan apapun padanya (menunjuk perut Felicia)," gumam Felicia yang di dengar mamahnya.
"Sayang ikatan batin itu ada semenjak dia di kandungamu, mamah yakin sebentar lagi kamu mulai sayang sama calon anak kamu, karena beberapa minggu lagi kan usia kandungamu sudah 4 bulan jadi janin yang di kandunganmu semakin aktif, bisa-bisa dia nanti menendang-nendang,.aduh mamah jadi gak sabar menanti momen itu," ucap Vina sambil berkhayal dan hanya dijawab Felicia dengan senyuman.
"Semoga perkataan oma kamu benar ya jika kamu sudah semakin aktif di dalam, nantinya bisa membuatku merasa sayang padamu, semoga aku tidak ingkar janji," batin Felicia sambil terus mengelus perutnya yang rata.
Bram yang melihat itu pun langsung merasakan berdesir dihati, entah karena apa tapi ia sangat nyaman akan pandangan itu. Hingga tanpa sadar Bram sudah mendekati Felicia.
"Hei Bram kamu masih disini?" sapa Felicia membuyarkan Bram.
"Eh.. hmm.. iya masih kok, gimana kondisimu?" tanya Bram salah tingkah.
"Sudah lebih membaik," jawab Felicia kikuk akan sikap Bram yang menurutnya aneh. Ia ingin menanyakan kenapa bersikap seperti itu tetapi tidak enak dengan kedua orang tua masing-masing.
"Gue rasanya pengen banget mengelus perutmu yang sekarang membuncit dan merasakan detak jantung anak kita tetapi gue gengsi melakukan itu dihadapan orang banyak, gue terlalu pengecut," batin Bram sambil terus menatap Felicia.
__ADS_1
"Ini anak kenapa sih ngelihatin gue sampai segitunya? jangan-jangan dia mau memaki gue karena terlalu lama koma? astaga jika itu benar adanya berarti dia gak punya hati," batin Felicia kesal terus menerus diperhatikan Bram.