
Ting.. notifikasi hp Bram.
"Bram tolong kesini ya, Naomi mencarimu.. badannya panas Bram, dia terus menerus manggil namamu," isi chat Thalia.
"Gak bisa.. ini hari minggu, aku mau menghabiskan waktu sama keluargaku, jangan terus menerus memperalat Naomi demi obsesimu," jawab Bram kesal.
"Apa kamu lupa kalau Naomi itu juga anakmu?? jangan pilih kasih dong Bram, anak kita juga berhak mendapat perhatian," protes Thalia.
"Sekali gak ya enggak," jawab Bram.
"Oke kalau begitu 20 menit lagi aku dan Naomi tiba di mansionmu, biar Naomi tau kalau dia punya saudara laki-laki," ancam Thalia.
"Ok sebentar lagi on the way kesana, jangan menginjakkan kakimu di rumahku lagi," gertak Bram lalu bergegas pergi.
"Good.. ku tunggu," jawab Thalia senang.
Emil yang melihat papahnya buru-buru merasa penasaran dan menghampiri papahnya.
"Papah mau pergi?" tanya Emil.
"Iya boy maafin papah ya, sebentar aja.." pinta Bram dengan lembut.
"Pergi kemana pah? ini weekend loh, biasanya papah main sama Emil, kok sekarang papah sibuk terus sih, apa papah udah gak sayang lagi sama Emil?" tanya Emil dengan wajah sedih.
"Ssttt.. Emil gak boleh bicara seperti itu, papah sangat sayang sama Emil tapi maaf banget untuk hari ini papah harus pergi dulu sebentar, setelah urusannya selesai nanti kita main atau gak kita jalan-jalan, gimana?" bujuk Bram.
"Bener ya pah.. janji?" tanya Emil.
"Janji boy.. papah pergi dulu ya, jagain mamah dan adek, ok.." ucap Bram lalu merek tos.
"Ok pah.." jawab Emil mengacungkan jempol.
Felicia yang sedari tadi hanya menyimak obrolan mereka merasa sedih, kenapa sekarang suaminya lebih menghabiskan waktu di luar ketimbang sama anaknya sendiri.
"Bram.." ucap Felicia menghentikan Bram yang ingin masuk ke mobil.
"Iya sayang?" tanya Bram lembut.
"Kenapa sekarang kamu lebih banyak menghabiskan waktu di luar? apa kami sudah tidak berarti lagi untukmu?? jika iya maka pulangkan aku dan juga Emil ke rumah orang tuaku sekarang juga," gertak Felicia menahan sesak di dada.
"Kamu ngomong apa sih sayang? gak akan aku pulangkan kamu ke orang tuamu, kamu istri dan ibu dari anak-anakku, jangan lagi bilang seperti itu karena aku gak suka mendengarnya," bantah Bram.
"Aku dan Emil lebih gak suka denganmu yang sekarang, lebih banyak pergi di luar dengan alasan meeting lah inilah itu lah, sampai aku capek dengernya, apa ada wanita lain yang kamu istimewakan?" tanya Felicia berlinang air mata.
"Astaga kamu kenapa ngomongnya tambah kemana-mana?? hanya kamu sayang wanita yang aku sayang, percayalah," pinta Bram.
"Jika aku wanita yang kau sayang, bisakah untuk kali ini kamu di rumah saja dan habiskan waktumu dengan Emil?? dia tidak menuntutmu apapun, yang dia butuhkan hanya perhatian dan kasih sayang, jangan terus menerus kau curahkan dengan janji dan hartamu saja, spesial apa orang diluar sana sampai kau mengesampingkan kami?" cecar Felicia.
"Tolong jangan berkata seperti itu sayang.. aku merasa menjadi pria bodoh yang tidak mampu membuat keluarganya bahagia, maafkan aku kali ini aku gak bisa menuruti keinginanmu, tolong mengertilah sayang.. aku pergi dulu," pamit Bram lalu mencium kening Felicia setelah itu melajukan mobil.
"Thalia.. memang hubungan dengan masa lalu yang belum kelar bisa menjadi bumerang untuk hubungan yang baru, benar kata papah jika kami harus menyelesaikan dulu percintaan masa lalu setelah itu fokus dengan yang sekarang, jangan salahkan aku jika nanti aku datang ke apartemen Thalia, kesabaranku sudah di ujung batas," batin Felicia menyeka air mata dan kembali menemani Emil bermain.
Di Glory Apartemen.
__ADS_1
Ting.. tong..
"Masuk Bram.." ajak Thalia sumringah.
"Dimana Naomi? bagaimana keadaanya?" tanya Bram to the point.
"Dia sudah mendingan Bram, tuh lagi di kamar," ucap Thalia tersenyum senang.
"Katamu dia panas?? jangan bilang kalau loe bohong?" tanya Bram kesal.
"Gak kok ngapain nyumpahin anak sendiri sakit, sana ke kamarnya dan lihat sendiri, aku mau buatin minum dulu," ucap Thalia berlalu ke dapur dan Bram masuk ke kamar Naomi.
"Naomi masih panas?" Tanya Bram lembut dan hanya dijawab anggukan kepala.
"Bener kan? buat apa berbohong, aku tau hari ini waktumu sama keluargamu tapi mau gimana lagi?? anak kita membutuhkan papahnya," ucap Thalia menyerahkan secangkir teh dan duduk di sisi ranjang.
"Sudah di beri obat penurun demam?" tanya Bram iba.
"Sudah.. tapi ya masih begini kondisinya, setidaknya ini tidak terlalu panas seperti tadi malam," jawab Thalia mengompres Naomi.
"Yasudah kalau besok masih panas mending di bawa ke rumah sakit, aku mau pergi dulu," ucap Bram.
"Kenapa buru-buru?? Naomi belum tidur," cegah Thalia mencengkal tangan Bram.
"Emil membutuhkanku," jawab Bram cuek.
"Naomi juga Bram," protes Thalia.
"Naomi juga.. apa kamu lupa?" tanya Thalia tersenyum licik.
"Aku tidak meyakini itu sebelum ada bukti tes DNA," tantang Bram.
"Apa?? kenapa kamu sebegitu tidak yakin?? dia sudah pasti anakmu, tanpa perlu tes pun kalian sudah ada ikatan batin, itu sudah menunjukkan bahwa kalian memang sedarah," protes Thalia.
"Aku ingin di lakukan tes DNA secepatnya, biar semuanya tidak hanya praduga," ucap Bram dengan tegas.
"Ba..baiklah, di minum dulu mumpung masih hangat," ucap Thalia dengan gugup lalu Bram meminum setengahnya.
"Rasain loe Bram.. sok-sokan mau tes DNA lagi, gak akan gue biarin, sebentar lagi obatnya akan bekerja dan akhirnya kami bisa bercinta kembali," batin Thalia.
"Kenapa dengan badan gue?? sial.. pasti dia memberi obat perangsang, gue harus tahan dan segera pulang," batin Bram gelisah.
"Bram.. kamu kenapa?" tanya Thalia.
"Gakpapa.. hawanya panas banget," ucap Bram dengan keringat bercucuran.
"Panas?? ini sejuk Bram.. kamu aneh banget," ucap Thalia tersenyum smirk.
"Gue mau pulang dulu, mungkin gue lagi masuk angin jadinya merasa gerah," ucap Bram lalu beranjak pergi dan Thalia mengikuti di belakang. Ia lalu mendorong tubuh Bram di sofa dan menindihnya.
"Ngapain?" tanya Bram kaget.
"Menuntaskan apa yang sedang kau rasakan baby," bisik Thalia dengan manja.
__ADS_1
"Minggir gak," gertak Bram.
"Aw.. jangan goyang-goyang gitu nanti punyamu berdiri sayang, sini aku copotin semuanya lalu kita bersenang-senang," goda Thalia melucuti seluruh pakaian Bram tanpa penolakan.
"Gue mau pulang.. mau gue tuntasin sama Felicia," pinta Bram dengan suara berat menahan hasrat yang membuncah.
"Sssttt... diam dan nikmati saja sayang," goda Thalia lalu memainkan pisang Bram dengan perlahan, Bram yang mendapat sentuhan seperti itu hanya bisa mendesah kenikmatan.
Tak tinggal diam, Thalia juga melucuti seluruh pakaiannya dan menyuruh Bram untuk melanjutkan aksinya di kamar. Bram yang sudah kepalang tanggung pun hanya bisa pasrah..
Lalu tiba-tiba tamu tak diundang pun datang, mereka tidak menyadari jika tamunya adalah Felicia.
Thalia tak mau menyia-nyiakan momen ini dan mengabaikan suara bel apartemennya, tanpa disadari Naomi membukakan pintu.
"Hai cantik.. siapa nama kamu?" sapa Felicia dengan ramah.
"Namaku Naomi tante, nama tante siapa?" tanya Naomi dengan ramah.
"Nama tante Felicia.. wajahmu kok pucat?? kamu sakit?" tanya Felicia khawatir.
"Iya tante.." jawab Naomi lirih.
"Dimana mamah kamu?" tanya Felicia penasaran.
"Tadi habis dari kamarku kok tante, mungkin lagi di kamar," ucap Naomi dengan polosnya.
"Dengan siapa di kamarnya?" tanya Felicia menahan rasa sesak.
"Mungkin sama papah, tadi papah pulang soalnya," jawab Naomi dengan polos.
"Siapa nama papah kamu?" tanya Felicia menahan air mata.
"Papah Bram Wijaya," jawab Naomi.
"Deg... Bram Wi..wijaya?" tanya Felicia lirih dan berlinang air mata, lalu mereka tak sengaja mendengar suara ******* di kamar. hatinya langsung sakit mendengarnya.. ia pun berfikir yang bukan-bukan.
"Kok tante menangis?" tanya Naomi bingung.
"Oh itu.. tante teringat sama anak tante dirumah, bisa ambilkan tissu dan minum? kebetulan tante haus sekali, cuaca di luar panas sekali," pinta Felicia penuh harap.
"Baik tante.. tunggu dulu ya," jawab Naomi lalu bergegas ke dapur.
"Kesempatan yang bagus, aku harus memeriksa dengan mata kepalaku sendiri," gumam Felicia lalu berjalan ke arah kamar Thalia.
Ceklek... suara pintu kamar terbuka dan Felicia terkejut dengan pemandangan yang menjijikan itu.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN!!!" teriak Felicia dengan menangis terisak.
"Felicia.." ucap Bram terkejut.
"Good news, gue yakin setelah ini mereka cerai dan Bram sepenuhnya menjadi milik gue lagi, tidak hanya Bram tapi juga seluruh hartanya hahaha.. im lucky," batin Thalia tersenyum licik.
"KALIAN MENJIJIKAN!!!!" teriak Felicia lalu menampar mereka berdua bergantian.
__ADS_1