
Setelah Felicia berhasil lolos dari mansion Bram kini ia menuju rumah kedua orang tuanya, tempat yang menurutnya sangat nyaman dan merasa aman.
"Mamah kita mau kemana?" tanya Emil terisak.
"Kita ke rumah oma, Emil jangan nangis terus ya nanti oma dan opa khawatir loh," bujuk Felicia dan Emil mengangguk patuh, Emil langsung menyeka air matanya.
Di mansion keluarga Felicia.
"Astaga Felicia ini sudah malam kenapa kamu bawa anak-anak keluar? kasihan Eleora terkena angin malam, haduhh.." ucap Vina khawatir.
"Halo oma.. bagaimana kabar oma?" tanya Emil dengan ramah.
"Cucu oma semakin tampan sekali, oma dan opa sehat-sehat sayang, bagaimana kabar Emil?" tanya Vina lembut.
"I..iya oma kamu baik-baik saja," jawab Emil terbata-bata.
"Yaudah masuk dulu yuk, Emil langsung ke kamar ya dan istirahat, besok sekolah," ucap Vina mempersilakan masuk.
"Sus tolong bawa Eleora di kamar nanti saya susul," ucap Felicia menyerahkan Eleora dengan hati-hati.
"Baik nyonya," jawab suster Emi patuh.
"Fel.. tell me now," ucap Vina serius.
"About?" tanya Felicia bingung.
"Everything.. kenapa kamu sampai datang kemari tengah malam gini?" tanya Vina penasaran.
"Ma... hiks.. hiks.. hiks.." ucap Felicia menangis terisak.
"Oh my god, ada apa lagi dengan rumah tangga kalian? tell me," desak Vina.
"Bram..." jawab Felicia terisak.
"Why?" tanya Vina penasaran.
__ADS_1
"Dia.. dia memberikan uang 1 triliun dan anak perusahaan kepada orang tua Thalia, mantan kekasihnya mah.. huhuhu.. wajar gak mau kalau Feli meminta balik semuanya dan wajar gak mau kalau Feli gak terima?" ucap Felicia terisak.
"APA?? SERIUS BRAM SEPERTI ITU?? KURANG AJAR SEKALI DIA, MENTANG-MENTANG ORANG KAYA SEENAKNYA KASIH DUIT KE SEMBARANG ORANG, KAMU SUDAH MENDENGAR PENJELASANNYA BELUM?" tanya Vina tak terima.
"Sudah mah tapi tetap saja Feli gak terima," ucap Felicia terisak.
"Besok mamah akan menyuruh Bram kesini dan mamah ingin mendengar langsung alasannya, sekarang kamu ke kamar dan istirahatlah.. jangan terlalu banyak pikiran nanti berpengaruh ke Eleora," ucap Vina perhatian.
"I..iya mah.." jawab Felicia lalu masuk ke kamar.
"Bram harus di tindak tegas," gumam Vina geram lalu mengirim pesan pada Bram.
Ting.. suara notifikasi hp Bram.
"BESOK DATANG KE RUMAH SAYA DAN JELASKAN SEMUANYA SEDETAIL MUNGKIN, JIKA KAMU MENGELAK JANGAN HARAP KAMI AKAN DIAM," isi chat Vina yang langsung membuat Bram kesal.
"Iya tante," jawab Bram singkat karena tidak mau memperpanjang masalah.
"Felicia.. kenapa sih setiap ada masalah kamu langsung kabur dan bercerita kepada orang tuamu? ini masalah rumah tangga kita sayang, jangan sampai ada orang luar tau.. aib kamu juga aibku," isi chat Bram kepada Felicia dan hanya dibaca saja.
Pagi harinya Bram mengunjungi mansion orang tua Felicia dengan tenang.
"Pagi.." jawab keduanya bersamaan.
"Bagaimana kabar om dan tante?" sapa Bram basa basi.
"Tidak perlu basa-basi Bram, langsung saja.. apa benar yang dikatakan Felicia jika kamu memberikan uang 1 triliun dan anak perusahaanmu pada orang tua mantanmu?" tanya Vina ketus.
"Iya tante itu benar," jawab Bram tegas.
"Kenapa kamu tega sekali dengan anakku? apa yang membuatmu memberikan sejumlah fasilitas yang sangat fantastis itu? apa kamu menghamilinya?" tuduh Vina emosi.
"Astaga.. tidak tante, anda salah besar jika berasumsi seperti itu dan jika anda benar-benar di ceritakan oleh Felicia secara utuh pastinya anda tidak akan menyuruh saya kemari, malah yang ada anda mengantarkan Felicia pulang," ucap Bram dengan tenang dan membuat Vina bingung.
"Maksud kamu?" tanya Vina bingung dan menatap Felicia.
__ADS_1
"Memang benar Bram memberikan uang sejumlah 1 triliun dan juga perusahaan kepada orang tua Thalia tapi itu dulu tante dan juga om, dulu sekali sebelum Bram memiliki hubungan dengan Felicia, kenal Felicia pun belum, jadi masalah ini bukan masalah sekarang melainkan Felicia mempermasalahkan masalah yang sudah lalu, Bram memberikan itu karena orang tua Thalia sudah mendonorkan darah dan juga ginjal kepada Bram makanya hadiah tadi sebagai ucapan terima kasih dari Bram untuk mereka dan itung-itung bisa membantu perekonomian keluarga Thalia karena waktu itu perusahaannya gulung tikar dan rumahnya disita bank," ucap Bram dengan detail.
"Jadi ini kejadian sudah lama? Feli.." tanya Vina terkejut dan melirik anaknya.
"Anda pasti tidak diceritakan secara utuh kan?? memang 1 triliun nominal yang sangat besar namun bagi Bram itu sebanding karena orang tua Thalia sudah menolong Bram tetap hidup," ucap Bram.
"Maafkan kami atas kesalahpahaman ini Bram.. memang kami di beritaukan masalah ini hanya setengah saja, lalu apa yang membuat Felicia sampai meninggalkan rumah?" tanya Soetanoe.
"Felicia tidak menerimanya om dan meminta Bram meminta semua pemberian itu, jika Bram menolak maka Felicia akan membawa anak-anak pergi jauh, Bram bingung sekali om.. disatu sisi tidak mungkin Bram meminta apa yang sudah Bram beri tapi di satu sisi Bram tidak mau kehilangan anak-anak dan Felicia.. sekarang mereka prioritas Bram," ucap Bram sedih.
"Felicia.. tolonglah bersikap dewasa, Bram melakukan ini karena timbal balik apa yang dia dapatkan, setidaknya ini simbiosis mutualisme, keduanya saling menguntungkan," ucap Soetanoe.
"Pah.. kenapa sekarang membela dia?" protes Felicia kesal.
"Memang disini kamu yang salah, dia memberikan itu jauh sebelum mengenalmu dan juga pemberian itu atas dasar terima kasih, jadi Bram tidak bersalah.. Memang di sayangkan Bram tidak menceritakan dari awal makanya ketika kamu mengetahui ini rasanya kamu terkejut," ucap Soetanoe.
"Apa papah tau bagaimana orang tua Thalia merendahkan Feli?" tanya Felicia dan kedua orang tuanya menggeleng.
"Dia berkata bahwa Feli adalah orang luar yang tidak berhak ikut campur masalah Bram dan mereka tidak menyukai Feli," ucap Felicia emosi.
"Apa tindakan yang dilakukan Bram?" tanya soetanoe.
"Bram marah dan mengatakan bahwa aku ini istrinya jadi aku bukan orang luar yang ikut campur masalahnya," ucap Felicia tanpa sadar membela Bram dan yang dimaksud hanya tersenyum tipis.
"Mau semarah apapun kamu tidak akan bisa marah lama-lama dariku," batin Bram tersenyum tipis.
"Tindakan suami sudah benar lalu masalahnya apa? kamu meminta semuanya di kembalikan? kalau perusahaan ya oke lah masih bisa tapi kalau uang?? siapa tau sudah terpakai," ucap Vina berfikir logis.
"Memang Feli sudah mengikhlaskan uang namun tidak dengan perusahan, ada Emil yang besok menggantikan posisi Bram," ucap Felicia menggebu.
"Benar.. coba Bram kamu minta tolong pengacara untuk mengurus ini, om merasa kalau nantinya bakalan alot," ucap Soetanoe pesimis dan Vina berlinang air mata karena merasa masalah putrinya selalu saja ada.
Visual Vina
__ADS_1
Visual Mamah Bram