PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA

PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA
Episode 73-Hadirnya menambah keharmonisan


__ADS_3

Setelah Felicia dan baby Emil di perbolehkan pulang.


"Cucu oma..." Sapa Vina menimang cucunya.


"Hai oma.." Sapa Felicia menirukan suara anak kecil.


"Aduh kamu menggemaskan sekali boy, siapa nih namanya?." Tanya Vina.


"Hmm rahasia oma." Ucap Felicia membuat Vina penasaran.


"Loh.. loh.. Jangan bilang kalian belum mempersiapkan nama?." Tanya Vina menduga.


"Sudah mah tapi mau bikin kejutan aja." Ucap Felicia mengedipkan mata.


"Sudahlah sayang beritahu saja nama anak kita," Ucap Bram tak sabar.


"Tapi.." Jawab Felicia terpotong.


"Namanya Emil Attirmidzi Wijaya, tante." Jawab Bram dengan bangganya.


"Wahh nama yang sangat bagus tuh padahal mamah udah siapin nama juga loh." Ucap Vina usul.


"Apa mah? siapa tau bisa kita revisi." Jawab Felicia penasaran.


"Sayang.. ini anak loh bukan bahan skripsi, kalau ngomong yang bener," Tegur Bram penuh penekanan.


"Ya bener kan, siapa tau nama dari mamah juga bagus jadi kita masih bisa mengubahnya. Mumpung yang tau belum banyak," Ucap Felicia tak mau salah.


"Sudah sudah.. Mamah mau usul aja nih, namanya Kenzo, bagaimana?." Usul Vina dengan bangga.


"Cakep mah nanti kita diskusikan, iya kan Bram?." Tanya Felicia menyenggol Bram.


"Iya deh," Jawab Bram mengalah.


Setelah itu mereka fokus menjaga Emil dengan penuh kasih sayang hingga tak terasa hari sudah mulai malam. Vina harus pulang ke mansion karena suaminya juga membutuhkannya.


"Oma pulang dulu ya boy, besok kalau ada waktu main kesini lagi, oke?." Ucap Vina mencium anak Felicia dengan gemas.


"Iya oma.. hati-hati di jalan." Ucap Felicia menirukan suara anak kecil.

__ADS_1


"Bram.. Fel.. Mamah pulang dulu ya, kasihan papahmu nungguin di mansion." Ucap Vina pamitan.


"Iya Mah makasih seharian udah bantuin Feli, hati-hati di jalan ya mah." Ucap Felicia memeluk mamahnya.


"Hati-hati di jalan ya tante, salam buat om." Ucap Bram lalu salim.


"Iya.. yaudah kalian masuk gih, jangan keluar malam-malam, pamali." Tegur Vina lalu masuk ke mobil.


"Aduh gak ada mamah nanti bisa gak ya ngurus sendirian?." Gumam Felicia ragu.


"Ada aku disini yang siap siaga membantu, jangan sungkan meminta tolong." Ucap Bram memeluk Felicia dari belakang dan menyenderkan kepalanya di pundak Felicia.


"Bram.. Jangan aneh-aneh bisa gak?." Tanya Felicia tak suka.


"Kamu sekarang istriku jadi momen begini ya lumrah dong apalagi sekarang ada baby Emil diantara kita, lihatlah betapa tampan dan mempesonanya dia," Ucap Bram menatap anaknya.


"Ya harus dong kan anakku," Jawab Felicia dengan bangga.


"Eits.. ini anak kita ya, kamu jangan lupa sayang kalau ada bibitku di dirinya," Ucap Bram tak mau kalah.


"Sayang sayang mulu daritadi, jangan nyari masalah deh," Gerutu Felicia ketus.


"Memang kamu kan sayangku, tempo hari aku udah menyatakan perasaanku padamu kalau aku ini sayang sama kamu, apa kamu lupa itu?," Goda Bram.


"Jangan terus mengelak Fel.. Kita sudah memiliki anak dan sudah tidak ada lagi rahasia yang di tutupi, apa lagi yang kamu permasalahkan?," Tanya Bram.


"Kamu kan tau Bram betapa sayangnya aku sama Pandu.. Kejadian terbongkarnya rahasia kita masih membekas luka yang cukup dalam, jadi bisa di simpulkan kan kenapa aku bersikap begini." Ucap Felicia to the point.


"Aku akan menunggu sampai kamu memiliki perasaan yang sama terhadapku, yang penting kamu tau kalau aku sayang sama kamu." Ucap Bram menatap lekat wajah Felicia.


"Tolong jangan siksa dirimu Bram," Pinta Felicia mengiba.


"Tidak akan menyiksa karena kita sudah bersama dalam ikatan yang sah, setidaknya ada kepastian diantara kita, tinggal menunggu perasanmu itu tiba." Ucap Bram memeluk pinggang Felicia agar lebih dekat ke arahnya.


"Bram.. Jangan mulai," Pinta Felicia.


"Hanya sekilas saja Fel," Jawab Bram mencium bibir Felicia dengan lembut.


Ketika momen sedang romantis-romantisnya tiba-tiba baby Emil menangis.

__ADS_1


"Cup..cup..cup sayang, kamu gak suka ya kalau papah usil sama mamah?," Tanya Felicia membopong baby Emil dan menimang-nimangnya.


"Apaan? Ya enggaklah, mana ada baby Emil gak suka.. Itu bentuk rasa senangnya karena kita sudah menjadi keluarga yang utuh, benar kan boy?." Ucap Bram mengelus pipi baby Emil dengan lembut.


"Dasar narsis!." Gerutu Felicia melirik tajam.


"Mamah kamu selalu gengsian, besok kalau udah bucin sama papah baru tau rasa, ya gak boy?." Tanya Bram melirik Felicia.


"Udah tua, gak ada bucin-bucinan.. Yang ada fokus urus anak sama punya uang banyak biar besok anaknya gak hidup susah," Ucap Felicia berfikir logis.


"Tanpa kamu suruh pun aku udah memumpuk kekayaan untuk Emil, dia juga sudah punya deposito 10 Triliun, belum lagi aset lainnya, gimana? Pantas kan jadi papah siaga," Ucap Bram menyombongkan diri.


"Kekayaanmu lebih dari itu kenapa Emil dikasih hanya sedikit? Kamu pelit banget sih, nanti aku mau telfon papah biar Emil dapet tabungan banyak." Ejek Felicia.


"Astaga dia masih bayi sayang jangan punya duit banyak-banyak, itu kan hanya depositonya saja.. Ntar kalau dia tambah gede juga makin banyak duitnya, santai lah.. Kamu jangan meremehkan suamimu terus dong emangnya aku gak bisa kasih hidup layak kalian apa?." Cecar Bram tak terima diremehkan istirnya.


"Makanya tambahin, jangan sampai aku telfon papah." Ancam Felicia tersenyum senang.


"Ntar ada waktunya.. dia belum tau apa itu uang," Ucap Bram mengambil alih Emil dan menimangnya.


"Sini dong aku masih pengen gendong," Protes Felicia kesal.


"Kamu istirahat dulu, kita gantian jaga Emil, besok kita buka loker baby sitter," Ucap Bram dengan lembut.


"Buat apa Bram? Aku masih sanggup mengurusnya sendiri," Protes Felicia.


"Aku gak mau nantinya kamu kecapekan, lagian aku juga butuh perhatianmu," Ucap Bram menuntut.


"Astaga kamu udah gede loh, perhatian apa lagi yang kamu mau? Kita juga udah menikah kan?." Tanya Felicia heran.


"Ya tetep aja aku juga butuh kamu perhatikan, jangan jadikan hadirnya Emil terus kamu abaikan aku," Ucap Bram mengiba.


"Tetep aja aku gak mau pakai babysitter, aku gak yakin dia nantinya bisa jaga baby Emil dengan baik," Ucap Felicia ragu.


"Nanti kita adakan audisi jadi kamu bisa pilih langsung, kita ambil dari yayasan terbaik," Ucap Bram meyakinkan.


"Gak ah.. Tetep aja aku belum siap anakku di urus orang lain," Tolak Felicia.


"Ini juga demi kewarasanmu sayang, aku gak mau kamu terlalu capek apalagi sampai baby blues," Ucap Bram penuh perhatian.

__ADS_1


"Enggak akan sayang nanti dibantu sama mamah dan tante Wina juga kan?," Tanya Felicia memastikan.


"Iya sayang tapi mereka juga punya kesibukan sendiri, gak mungkin setiap hari bisa kesini, udah aku gak mau dengar bantahan, besok kita cari baby sitter, titik" Ucap Bram tegas dan Felicia hanya menghela nafas panjang.


__ADS_2