
Matahari tampak enggan memperlihatkan senyuman nya pagi itu, begitu juga dengan seorang gadis cantik yang saat ini sedang tertidur pulas menikmati mimpi indah nya.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar nya. Dengan berat hati Sintya terpaksa keluar karena merasa terganggu dengan suara ketukan pintu.
"Udah siang gini kenapa kamu belum keluar nak? Mandi dulu sana dan sarapan bersama ibu dan ayah. Kata nya ayah udah lapar tuh.. " Ibu Sintya merasa heran kenapa anak nya bangun kesiangan, padahal biasanya dia yang paling sering bangun pagi dan membangun kan ibunya.
"Baik bu.. " jawab Sintya. Kemudian dia bergegas membereskan tempat tidur nya dan langsung menyambar handuk menuju kamar mandi.
Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi seorang Sintya untuk menyelesaikan ritual mandi nya pagi itu. Hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh lima menit dia telah rapi dengan baju kaos dan celana jeans nya.
Begitu lah seorang Sintya, wanita sederhana yang mempunyai wajah natural tanpa makeup namun menarik banyak perhatian dari pria tampan di desa nya.
Sintya adalah wanita yang baik dan tidak sombong. Dia tidak pernah membedakan antara teman yang satu dan yang lainnya.
Keluarga Sintya hidup sederhana walaupun mereka adalah orang terkaya di kampung nya. Namun mereka tidak pernah sombong.
__ADS_1
Ayah Sintya adalah seorang petani yang sukses. Dia mempunyai banyak sawah dan ladang yang luas.
Walaupun demikian keluarga Sintya mengajar kepada nya agar hidup sederhana. Kesederhanaan itu lah yang tertanam dalam diri Sintya sejak kecil hingga sekarang.
Sintya adalah seorang wanita cantik yang menempuh pendidikan di salah satu sekolah favorit di daerah itu. Sintya anak yang rajin belajar pintar dan berbakat.
Sekilas tentang kisah kehidupan Sintya.
"Selamat pagi ayah, selamat pagi ibu.. " kata Sintya sambil mencium pipi ayah dan ibu nya bergantian.
"Maaf ayah, Sintya lama ya. Jadi nya ayah nahan lapar deh." Kata Sintya merasa bersalah.
"Gak papa kok nak, sekarang duduk dan kita sarapan bersama." Kata ayah nya sambil mempersiapkan kursi untuk putri nya.
"Terima kasih ayah. " Sintya tersenyum lebar sambil duduk di kursi yang sudah disediakan oleh ayahnya.
__ADS_1
Mereka sarapan bersama tanpa bersuara, sesekali terdengar suara sendok dan garpu beradu.
Selesai makan Sintya membantu ibu nya membersihkan piring kotor dan meletakkan di atas rak piring di dapur nya.
"Setelah ini kamu mau kemana nak ?" Ibu Sintya berjalan kearah ruang keluarga sambil membawa kue kesukaan ayah nya, Sintya mengekor dari belakang sambil mengambil salah satu kue tersebut.
"Kenapa ibu nanya gitu, kan hari ini hari libur. Sintya mau istirahat aja di rumah." Jawab Sintya sambil duduk di sebelah ayah nya.
"Biasanya kan kamu pergi sama teman teman kamu, kalau gak belajar ya liburan " Jawab ibu nya.
"Capek bu! pengen nya tiduran aja di rumah. Lagian kepala Sintya agak pusing juga " Sintya menyandarkan kepalanya di bahu ibu nya yang kebetulan juga duduk di sebelah nya.
"Kamu sakit sayang? Istirahat aja di rumah, jangan kemana-mana dulu." Ayah Sintya terlihat cemas dan takut jika anak semata wayangnya jatuh sakit.
"Gak papa yah, cuma pusing dikit aja. Tiduran bentar juga sembuh lagi. Ayah jangan kawatir. " Jawab Sintya sambil memejamkan mata nya.
__ADS_1
"Kalau gitu ayah pergi dulu ya, ayah mau melihat perkembangan sawah dan ladang kita. Jaga Sintya ya bu" Ayah langsung pergi setelah berpamitan dengan Sintya dan ibunya.