
Hari demi hari Ana lewati seperti biasa. Kuliah, kerja, kuliah, kerja. Baginya ia sangat menikmati masa-masa ini. Karna 1 tahun lagi ia akan lulus sebagai mahasiswi ekonomi bisnis.
Saat Ana merenung di kamarnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring.
Tringggg tringg tringgg.
''Halo Bu, Assalamualaikum,'' ucap Ana.
''Walaikumsalam. Gimana kabarmu Nak?'' tanya Ibu Siti.
''Kabar Ana baik Bu. Gimana kabar keluarga di rumah?'' tanya Ana.
''Alhamdulillah keluarga di rumah sehat. Oh iya An, Bapak udah mentransfer uang kuliah kamu tadi. Nanti kamu cek ya,'' ucap Ibu.
''Iya Bu, terima kasih. Sebenarnya Ana masih punya uang kok, untuk membayar kuliah. Ibu dan Bapak tidak usah khawatir,'' ucap Ana.
''Kurang 1 tahun lagi kamu lulus Nak, yang fokus belajarnya ya. Kalau kuliah sambil kerja bikin kamu nggak fokus, mending kamu keluar dulu dari tempatmu bekerja,'' ucap Ibu.
''Ana bisa membagi waktu kok Bu. Ibu yang tenang saja,'' ucap Ana.
''Ya sudah kalau gitu, jaga diri baik-baik Nak. Ingat pesan Ibu sama Bapak. Jangan pacaran terlebih dulu, fokus saja pada kuliah kamu,'' ucap Ibu mewanti-wanti.
''I iya Bu,'' ucap Ana pelan, merasa bersalah karna melanggar ucapan orang tuanya.
''Assalamualaikum.''
''Walaikumsalam Bu,'' jawab Ana.
Panggilan telepon pun terputus. Ana kembali termenung lagi.
''Ya Allah, hamba telah berdosa melanggar ucapan orang tua hamba,'' batin Ana menghembuskan nafasnya kasar.
''Bagaimana caranya aku mengakhiri hubunganku dengan Kak Fadil ya. Aku takut menyakiti perasaannya. Tapi kalau orang tuaku tau, pasti mereka merasa lebih sakit. Ayo An kamu pasti bisa,'' ucap Ana. Ana segera mengetik sesuatu kepada Fadil.
''Kak bisa ketemuan nanti jam 4 sebelum aku berangkat kerja?'' tanya Ana.
Ana menunggu balasan dari Fadil, dan setelah beberapa menit pesan masuk ke ponsel Ana.
Tinggg.
''Di mana sayang?'' balas Fadil.
''Di taman biasa Kak,''' ucap Ana.
''Oke siap Tuan Putri,''' ucap Fadil.
''Semoga Kak Fadil mengerti,'' ucap Ana.
Jam pun menunjukkan pukul 4 sore, Fadil terlihat rapi dan wangi.
__ADS_1
''Mau kemana Mas?'' tanya Sari.
''Bukan urusanmu!'' ucap Fadil meninggalkan Sari begitu saja.
''Aku harus ikuti Mas Fadil,'' Sari menyambar tas dan kunci mobilnya. Ia ingin mengikuti Fadil dari belakang.
Setelah beberapa saat, Fadil terlihat memarkirkan motor maticnya di sebuah taman pinggir kota. Fadil melepas helm dan jaket yang ia pakai. Fadil langsung berjalan menuju taman. Sari yang melihat Fadil berjalan menuju taman segera turun dari mobilnya. Ia mengikuti kemana perginya Fadil.
Di taman itu ada seorang wanita yang duduk di sebuah kursi. Fadil menghampiri wanita itu sambil mengacak pelan rambut wanita itu.
''Udah lama nunggu?'' tanya Fadil.
''Lumayan Kak,'' ucap Ana tersenyum ke arah Fadil.
''Kangen ya?'' tanya Fadil.
''Tau aja sihh,'' ucap Ana menggoda.
Sari terbakar api cemburu saat melihat Fadil bersama dengan seorang wanita yang Sari yakini itu adalah kekasih Fadil. Sari segera melangkahkan Kakinya menuju Ana dan Fadil.
''Ohhh, jadi ini pelakornya?'' ucap Sari berada di depan Ana dan Fadil.
''Sari!'' Fadil segera berdiri dari duduknya.
''Maksudnya apa ini?'' tanya Ana bingung.
''Dasar wanita murahan! Beraninya sama suami orang. Udah nggak laku ya?'' ucap Sari bersedekap dada.
''Aku istri sahnya Fadil!'' ucap Sari lantang.
''Ini maksudnya apa sih Kak. Istri sah, Kak Fadil udah nikah?'' tanya Ana dengan mata berkaca-kaca. Ia malu di taman itu tidak hanya mereka bertiga, namun banyak yang melihat ke arah mereka bertiga.
''An aku bisa jelasin semuanya,'' ucap Fadil.
''Jadi benar ini istri kamu Kak?'' Tanya Ana lagi.
''Aku bisa jelasin An. Aku mohon dengerin aku dulu,'' ucap Fadil.
''Jadi selama ini aku sudah berhubungan dengan suami orang,'' ucap Ana kecewa.
''An, aku minta maaf. Aku nggak cinta An sama dia, aku hanya cinta sama kamu. Dia bukan siapa-siapa di mataku An,'' ucap Fadil menggenggam erat tangan Ana namun Ana segera menghempaskannya.
''Udah stop Kak,'' ucap Ana menangis.
''Hey pelakor. Jangan pernah dekat-dekat dengan suamiku ya. Atau kamu akan tau akibatnya,'' ucap Sari menuding Ana dengan tatapan tajam. Semua orang di sana saling berbisik mengatai Ana.
''Tutup mulutmu Sar. Sampai kapan pun aku tak akan pernah mencintaimu. Kita hanya di jodohkan, dan hubunganku dengan Ana lebih dulu dari pada pernikahan kita. Jadi di sini bukan Ana yang merebutku dari kamu, tapi kamu yang merebutku dari Ana,'' ucap Fadil.
''Aku nggak nyangka Kak Fadil setega itu sama aku. Aku benar-benar kecewa sama Kakak,'' ucap Ana.
__ADS_1
''Bagus deh kalau kamu kecewa sama dia,'' ucap Sari tertawa smirk.
''Tutup mulut busukmu itu!'' pekik Fadil yang sudah tak bisa menahan emosinya.
''Kenapa? Kamu lebih memilih dia, iya?'' tanya Sari.
''Iya, sampai kapan pun aku akan tetap memilih dia,'' ucap Fadil menunjuk Ana.
Plak plak plak.
Tamparan demi tamparan Sari layangkan ke pipi mulus Ana.
Plak. Fadil menampar pipi Sari karna dia sudah geram dengan sikap Sari.
''Jangan pernah menyentuhnya walaupun hanya seujung kuku!'' Fadil mencekal tangan Sari dengan keras.
Plak.
Namun tangan kiri Sari masih bisa menampar Ana.
''Sari hentikan!'' ucap Fadil menatap tajam Sari.
''Udah cukup! Di sini aku nggak tau apa-apa tentang hubungan kalian. Jika kalian sudah menikah aku hanya bisa mendoakan SAMAWA. Jangan pernah menemuiku lagi Kak Fadil. Aku permisi,'' ucap Ana masih memegang pipinya yang terasa kebas.
''Auu sakit sekali,'' ucap Ana terus berjalan meninggalkan sepasang suami istri itu.
''Cantik-cantik jadi pelakor. Ih emang jaman udah tua ya,'' bisik orang yang di lewati Ana, namun Ana masih bisa mendengar ucapan orang itu.
''Maaf ya Mbak, di sini saya bukan pelakor. Dia kekasih saya, dia lebih dulu mengenal saya, dan saya juga tidak tau kapan mereka menikah, apa itu bisa anda simpulkan sebagai pelakor?'' tanya Ana geram. Ana langsung meninggalkan taman itu tanpa berucap lagi. Fadil berusaha menyusul Ana namun Sari mengancam Fadil untuk membuat bangkrut usaha orang tua Fadil. Fadil pun mengurungkan niatnya mengejar Ana.
Ana berlari menyeberang jalan tanpa menoleh kanan kiri dan
Tinnnnnnnn.
Mobil hampir menabrak tubuh Ana.
''Aku hampir mati lagi,'' gumam Ana mengelus dadanya.
Seseorang turun dari dalam mobil masih mengenakan baju dokternya.
''Ana, kamu nggak pa-pa kan?'' tanya Dokter Axel saat mengetahui itu Ana, orang yang pernah hampir ia tabrak.
''Ya ampun Mas. Aku hampir tertabrak lagi,'' ucap Ana menghembuskan nafasnya kasar.
''Dasar ceroboh!'' ucap Dokter Axel.
''Maaf Mas,'' ucap Ana memelas.
''Pipi kamu kenapa?'' tanya Dokter Axel melihat pipi Ana yang terlihat lebam.
__ADS_1
*
*