
Leon mendorong kursi roda Lufi menuju kamar rawatnya. Sesampainya di ruang rawat, Leon segera memindahkan Lufi ke atas ranjangnya di bantu oleh suster.
''Istirahatlah,'' ucap Leon mengecup pucuk kepala sang adik.
Lufi perlahan memejamkan matanya. Saat di rasa Lufi sudah tidur, Leon mengotak atik hp Lufi yang berada di atas meja. Leon menyalin nomor seseorang ke hp miliknya.
Leon menekan panggilan berwarna hijau ke nomor yang baru saja di salin olehnya.
Tut tut tut.
''Halo,'' ucap seseorang di balik telepon.
''Kamu di mana?'' tanya Leon.
''Ini siapa?'' tanyanya balik.
''Calon suamimu! Kamu dimana?'' tanyanya lagi.
''Kak Leon? Aku di kantin Kak. Nemenin Kak Kevin sarapan,'' ucap Ana.
''Berdua?'' tanya Leon.
''Iya, sambil nungguin Kak Indra sama Kak Lukman,'' ucap Ana.
''Hem,'' Leon memutuskan panggilannya sebelah pihak. Entah kenapa, Leon terlalu tak suka jika Ana berdekatan dengan lelaki lain. Walaupun itu sahabatnya sendiri.
''Sabar Leon sabar. Jangan terlalu mengekang Ana, yang ada nanti dia bosan dan meninggalkanmu,'' ucap Leon pelan. Ia mengelus Dadanya agar lebih lapang lagi saat Ana bersama dengan sahabatnya.
Ana dan geng dambaan mertua kembali ke ruangan Lufi. Di sana, Lufi tengah tertidur. Sementara Leon tengah menatap Ana dengan tatapan yang sulit di artikan.
''Em, mending kalian lihat kondisi Kak Nino dulu deh. Lufi masih tidur tuh,'' ucap Ana setengah mengusir sahabat-sahabatnya.
''Kamu nggak ikut kami? Kan di sini udah ada Kakaknya Lufi,'' ucap Kevin.
''Nanti aku nyusul kalian,'' ucap Ana.
''Oke, baiklah. Kami kesana dulu,'' ucap Indra.
Indra mengajak Lukman dan Kevin ke ruangan ICU. Sementara Ana duduk di sofa di dekat Leon.
''Kak,'' ucap Ana namun Leon fokus pada Laptop yang ada di pangkuannya.
''Kak Leon!'' panggil Ana lagi. Namun Leon lagi-lagi tak bergeming.
''Mas Leon sayangggg. Mas Leon kenapa diem aja? Nggak punya mulut buat ngomong, hem,'' ucap Ana pelan namun penuh penekanan.
''Aku suka nama panggilan itu. Cup,'' Leon tiba-tiba mengecup bibir Ana. Jantung Ana langsung berdetak lebih cepat.
''Aduh jantungku!'' keluh Ana memegang dadanya.
__ADS_1
''Kenapa?'' tanya Leon tersenyum nakal kepada Ana.
''Mas Leon udah berani nakal ya,'' ucap Ana melebarkan matanya.
''Sama calon istri sendiri ya nggak pa-pa kan,'' ucap Leon. Ana memukul bahu Leon dengan bantal sofa.
''Nyebelinnnn!!!! Curi kesempatan dalam kesempitan!'' ucap Ana kesal.
''Nikah yuk An,'' ajak Leon tiba-tiba.
''Nggak usah bercanda deh Mas. Kuliahku kurang 1 tahun lagi,'' ucap Ana.
''Setelah lulus nikah ya, ya, ya,'' ucap Leon menaik naikkan alisnya.
''Iya iya. Bawell,'' ucap Ana. Ana merasa senang ternyata Leon tidak sedingin yang ia kira. Leon terlihat lebih humoris saat berdua seperti ini. Namun jika ada orang ketiga di antara mereka, Leon akan dingin, sedingin kulkas 18 pintu.
Grebbb.
Leon menarik pinggang Ana agar lebih dekat dengannya.
Manik mata mereka bertemu, hingga deru nafas mereka pun bisa menerpa wajah mereka masing-masing. Ana membeku di tempatnya, namun Leon malah mengagumi ciptaan Tuhan yang paling cantik itu.
Wajah cantik, hidung mancung, bibir se*y dan kulit putih mampu membuat Leon terpesona. Wajah Leon mendekat ke arah wajah Ana, Ana dengan spontan menutup matanya dan.
Tringgg tringggg tringggg.
''Bentar Mas,'' ucap Ana mengambil hp yang ada di sakunya.
''Halo, ada apa Kak?'' tanya Ana.
''Nino udah sadar An. Cepat kesini,'' ucap Kevin.
''Mas, Kak Nino udah sadar. Aku kesana dulu ya,'' ucap Ana.
''Sama aku,'' ucap Leon menggandeng tangan Ana.
''Jangan di lepasin! Biar mereka tau jika kamu udah ada yang punya,'' ucap Leon.
''Iya iya Masss,'' Ana memutar bola matanya jengah. Bagaimana bisa seorang Leonard Lewis yang biasanya sombong dan dingin kepada siapapun menjadi seseorang yang bucin seperti ini, pikir Ana.
Mereka meninggalkan Lufi yang tengah tertidur pulas. Tangan Leon masih bertautan dengan tangan Ana sampai di depan ruang ICU. Di sana geng dambaan mertua tengah menunggu Ana.
Ana melepaskan tangan Leon, ia segera mendekat ke arah geng dambaan mertua.
''Gimana keadaan Kak Nino?'' tanya Ana.
''Masih di periksa oleh Dokter. Tapi tadi Nino udah membuka matanya An,'' ucap Lukman.
''Semoga Kak Nino baik-baik saja,'' ucap Ana. Leon yang merasa di cuekin oleh Ana menjadi kesal. Ia memilih duduk di kursi panjang.
__ADS_1
Ceklek.
Pintu di buka dari dalam menampilkan sesosok dokter yang sangat Ana kenal.
''Bagaimana keadaan Kak Nino Mas?'' tanya Ana.
''Alhamdulillah, Pasien sudah melewati masa kritisnya. Namun kondisinya masih sangat lemah. Biarkan dia istirahat dulu,'' ucap Dokter Axel.
Setelah Lufi dari ruang ICU tadi, orang tua Nino pamit pulang, ia menitipkan Nino kepada Kevin dan kawan-kawan. Kevin juga merasa kasihan kepada orang tua sahabatnya itu, karna sejak kemarin belum sempat istirahat.
''Alhamdulillah,'' ucap mereka bersama-sama.
''Kalau begitu saya permisi,'' ucap Dokter Axel ramah, ia tak lupa mengusap lembut rambut Ana. Dan pada saat bersamaan Leon melihat ke arah mereka karna sejak tadi ia berkutat pada benda pipihnya.
''Axel!'' suara bariton milik Leon membuat orang yang berada di sana menoleh ke arah Leon.
''Leon,'' ucap Axel mendekat ke arah Leon.
''Apa kabar Bro?'' tanya Axel. Namun Leon terlihat kesal kepada Axel. Apalagi ia melihat Axel mengusap rambut kekasihnya.
''Kabar baik,'' ucap Leon datar.
''Berapa tahun kita tak berjumpa. Kau terlihat tambah keren dan masih muda,'' ucap Axel.
''Hem. Terima kasih. Tapi aku tidak punya uang receh untuk aku sumbangkan kepada mulut manismu itu,'' ucap Leon.
Ana mendekat ke arah mereka berdua.
''Jadi kalian sudah kenal?'' tanya Ana.
''Ya, dia sahabatku waktu Sekolah menengah atas,'' ucap Axel.
''Mantan sahabat!'' ucap Leon meralat ucapan Axel.
''Leon, Leon, kamu masih sama ya seperti dulu. Masih arogan,'' ucap Axel.
''Aku bicara kenyataannya. Kalau kamu itu mantan sahabat,'' ucap Leon.
''Apa kamu masih dendam kepadaku karna kamu tak pernah bisa mengalahkan aku?'' tanya Axel tersenyum smirk.
''Hah, aku masih dendam padamu? Yang benar saja,'' ucap Leon.
''Leon ini waktu SMA selalu berambisi ingin menjadi juara 1 An. Tapi ambisinya masih bisa aku kalahkan. Maka dari itu, sampai saat ini pun dia tak mau di kalahkan dengan siapapun,'' ucap Axel menatap Leon dengan tatapan merendahkan.
''Tutup mulut busukmu itu Xel,'' ucap Leon menatap tajam ke arah Axel.
''Udah-udah! Kalian ini udah tua juga masih bertengkar. Seharusnya yang lebih tua bisa memberi contoh yang baik kepada yang masih muda,'' ucap Ana.
*
__ADS_1