
Axel mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Dulu, ia kemana-mana sendiri. Sekarang sudah ada Ana yang menemaninya.
''Makasih ya,'' ucap Axel tiba-tiba.
''Untuk?'' tanya Ana menoleh kepada Axel yang baru saja menatapnya.
''Karna sudah mau menjadi istriku,'' ucap Axel. Ana hanya menganggukkan kepalanya pelan.
''Ya mungkin Mas Axel memang jodoh Ana. Jadi kita di satukan dengan cara seperti ini,'' ucap Ana setelah beberapa saat diam.
''Aku harap juga seperti itu An. Aku mencintaimu, sungguh mencintaimu. Aku akan menjagamu melebihi menjaga nyawaku sendiri,'' ujar Axel. Ana tak tau harus menjawab apa, ia hanya menganggukkan kepalanya lagi.
''Walaupun di hatimu masih ada nama orang lain. Namun aku pastikan, sebentar lagi, nama itu akan di gantikan oleh namaku,'' ucap Axel percaya diri.
''Buat aku mencintaimu Mas,'' ucap Ana pelan.
''Pasti An,'' Axel tersenyum kearah Ana. Ana hanya membalasnya dengan senyuman tipis yang hampir tak terlihat.
*
2 hari kemudian.
''Em, Mas, apa aku boleh bekerja lagi?'' tanya Ana yang sedikit takut.
''Dimana?'' tanya Axel yang sedang menikmati sarapan paginya.
''Di Bandung,'' ucap Ana lirih.
Uhuk uhuk uhuk.
Axel menepuk-nepuk dadanya dengan pelan. Sungguh nasi goreng yang baru saja ia telan seperti berhenti begitu saja di tenggorokan.
''Aku bisa menafkahimu An. Kamu tak perlu capek-capek bekerja,'' ucap Axel datar.
''Tapi aku nggak enak Mas. Belum ada 1 bulan aku kerja di sana. Apalagi di sana perusahaan sahabatku sendiri, aku bertambah nggak enak,'' ujar Ana dengan raut wajah sedih.
Axel meraup wajahnya dengan kasar. Di satu sisi ia tak mau berpisah dengan istrinya, namun di sisi lain ia juga tak mau mengekang istrinya.
''Kapan kamu ingin berangkat?'' tanya Axel.
__ADS_1
''Nanti sore Mas. Karna besok aku harus kerja lagi,'' ucap Ana.
Axel lagi-lagi menghembuskan nafasnya kasar. ''Nanti sore aku usahakan bisa mengantar kamu ke Bandung,'' ucap Axel.
''Aku bisa pergi sendiri Mas. Mas Axel kan sibuk. Belum lagi Mama juga masih berada di rumah sakit,'' ucap Ana.
''Aku suamimu An. Aku berhak melindungi kamu, memastikan agar kamu selamat sampai tujuan. Karna orang tuamu sudah sepenuhnya mempercayakan dirimu kepadaku,'' ucap Axel yang sedikit kesal karna tak di anggap oleh Ana.
Ana inginnya kemana-mana sendiri. Ia seakan lupa jika saat ini ia sudah menjadi seorang istri Dokter.
''I iya Mas,'' Ana tertunduk, ia takut melihat wajah Axel yang terlihat tak baik-baik saja.
''Maaf, aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja sampai tujuan An. Aku cuma nggak mau kamu kenapa-napa,'' ucap Axel.
*
Seharian ini Axel tidak fokus bekerja. Fikirannya sejak tadi tertuju kepada istrinya yang akan pergi jauh darinya. 3 hari menikmati waktu bersama istri tercintanya, namun sore ini ia harus merelakan istrinya kembali ke Bandung.
Ya walaupun mereka belum tidur 1 ranjang, namun Axel begitu bahagia karna sudah memiliki Ana.
''Apa aku harus ikut pindah kesana ya? Tapi kasihan Mama kalau aku tinggal. Pasti dia kesepian,'' batin Axel dilema.
Axel memilih izin pulang lebih awal. Ia segera menancapkan gasnya menuju toko perhiasan. Sesampainya di sana, ia memilih cincin yang cocok untuk mereka pakai.
''Mbak coba lihat yang itu,'' Axel menunjuk cincin couple berlian yang terlihat cukup cantik.
''Ini adalah model terbaru di toko kami Kak,'' ujar pelayan di toko itu sambil mengambilkan cincin yang Axel minta.
Setelah membeli cincin, ia memutuskan pulang ke rumah.
''Assalamualaikum,'' Axel masuk ke dalam rumah.
''Walaikumsalam,'' jawab Ana. Ana segera mencium tangan suaminya dengan takzim. Kemarin Ibu Siti memberikan kajian kepada Ana agar lebih taat kepada suami. Pasalnya sejak pertama menikah, Ana seperti sedang menjaga jarak dengan suaminya. Rasa tidak sukanya terhadap Axel sangat terlihat di mata orang yang melihat mereka.
''Tumben udah pulang Mas,'' ucap Ana. Biasanya Axel pulang sore hari. Namun ini masih jam 11 siang, Axel sudah berada di rumah.
''Kangen kamu,'' ucap Axel santai. Pipi Ana pun terasa panas saat mendengar ucapan Axel.
''Duduk An,'' Axel menarik tangan Ana agar duduk di sebelahnya. Axel mengambil sesuatu dari saku jasnya.
__ADS_1
''Maaf telat!'' ucap Axel membuka kotak cincin yang ia beli tadi. Lalu di ambilnya dan di pasangkan di tangan kiri, tepatnya di jari manis Ana, namun di sana ada cincin yang membuat hati Axel panas.
''Bi biar aku lepas Mas,'' ucap Ana berusaha melepas cincin pemberian dari Leon. Namun seperti ada lem yang mengeratkan antara jari dan juga cincin itu. Cincin itu pun tak mau lepas dari jari Ana.
''Susah banget sih,'' Ana masih berusaha melepas cincin itu, namun lagi-lagi cincin itu tak mau lepas dari tempatnya.
''Kalau nggak bisa nggak usah di paksa,'' ucap Axel datar.
''Apa Mas Axel bakal marah ya. Kenapa sih cincin ini nggak mau lepas,'' batinnya.
Axel memakaikan cincin itu di tangan kanan Ana, tepatnya di jari manis. Jika cincin dari Leon berada di tangan kiri, namun cincin Axel berada di tangan kanan.
''Makasih Mas,'' ucap Ana menatap cincin pemberian Axel. Ana juga memasangkan cincin di tangan kanan Axel.
''Mas Axel mau makan siang apa, biar aku buatkan,'' ujar Ana.
''Makan kamu boleh?'' bisik Axel tepat di dekat telinga Ana. Ana pun mematung, membeku di tempatnya, membuat Axel tak bisa menahan tawanya.
Ha ha ha.
''Aku bercanda An. Kenapa ekspresi wajahmu berubah pucat begitu,'' ejek Axel.
''Maaf Mas. Maaf aku belum bisa memberikan hak untuk Mas Axel. Tapi aku akan berusaha agar segera bisa mencintai Mas Axel kok,'' ucap Ana tak enak hati.
''Aku akan sabar menanti sampai kamu siap An. Aku tak memaksamu untuk melakukannya sekarang,'' ucap Axel lembut.
''Makasih Mas. Ana masak dulu ya,'' pamit Ana. Axel menganggukkan kepalanya.
Axel berjalan menuju kamarnya, sementara Ana berjalan menuju dapur. Di sela-sela ia memasak ia jadi teringat kata-kata lembut dari Axel yang membuat hatinya tercubit.
''Mas Axel memang benar-benar lelaki idaman. Ia bahkan sabar menungguku sampai aku siap melakukannya. Aku merasa berdosa jika tak memberikan haknya,'' batin Ana.
''Tapi aku masih teringat kejadian beberapa bulan yang lalu saat aku melakukannya dengan dia. Rasanya sangatlah sakit, apalagi aku akan melakukannya dengan orang yang belum ada di hatiku, bagaimana rasanya,'' batin Ana bermonolog sendiri.
*
*
Hayukk like, comentnya mana guysssss😊😊
__ADS_1