
''An,'' panggil seseorang di belakang Ana. Ia berlari kecil ke arah Ana.
''Aku cari-cari dari tadi nggak ketemu,'' ucapnya.
''Hehe maaf ya Mas udah ngrepotin,'' ucap Ana.
''Nggak ngrepotin kok. Kamu udah sarapan? nih aku bawain makanan buat kamu,'' ucap Dokter Axel membawa kotak bekal berwarna hijau.
''Mas Axel baik banget sih. Tapi aku udah sarapan Mas. Buat Mas Axel aja,'' ucap Ana.
''Nggak pa-pa, aku tadi bawa 2 kok. Bisa kamu makan nanti An,'' ucap Axel, Ana tak enak menolak pemberian Axel.
''Makasih ya Mas,'' Ana menerima kotak bekal yang di bawakan oleh Axel.
''Iya, nih ponsel kamu. Jangan ceroboh lagi ya,'' Axel mengacak pelan rambut Ana. ''Aku pergi dulu ya, mau memeriksa pasien,'' ucap Axel.
''Iya Mas, sekali lagi terima kasih,'' ucap Ana.
Ana tak tau jika dari jauh Leon memperhatikan dirinya. Leon terlihat mengepalkan kedua tangannya.
''Baru aja di bilangin jangan berdekatan dengan cowok lain, eh ini malah berduaan di lorong yang sepi kayak gini,'' gerutu Leon kesal.
Leon berjalan mendekat ke arah Ana yang tengah duduk di kursi panjang.
''Enak ya, ninggalin pacar sendiri demi berduaan dengan laki-laki lain,'' ucap Leon berdiri di depan Ana dengan bersedekap dada.
''Kita nggak sengaja bertemu Kak,'' ucap Ana membela diri.
''Oh ya? Benarkah?'' tanya Leon menatap Ana dengan tatapan yang sulit di artikan.
''Kenapa dia jadi menyebalkan seperti ini,'' batin Ana menggerutu.
''Dan apa ini? Kotak bekal, sejak kapan kamu bawa kotak bekal? Apa dari laki-laki tadi?'' tanya Leon.
''Iya,'' ucap Ana membenarkan ucapan Leon.
''Perhatian banget sih sampai bawakan bekal segala,'' ucap Leon.
''Ya iya lah. Nggak dapat perhatian dari pacar sendiri, tapi dapat perhatian dari orang lain,'' ucap Ana keceplosan. Leon semakin marah mendengar ucapan Ana.
Leon meninggalkan Ana di tempatnya. Ia tak bisa mengendalikan dirinya jika sudah marah seperti ini. Lebih baik ia menghindari Ana.
''Pasti dia marah. Udah jelas dari raut wajahnya yang memerah kayak tadi. Huh posesif banget sih, tapi sayangnya aku cinta banget sama dia,'' batin Ana gemas melihat tingkah Leon. Ana segera mengikuti perginya Leon. Leon nampak masuk ke dalam ruang rawat Lufi.
''Kak,'' ucap Ana duduk di dekat Leon. Namun Leon diam saja.
''Kak!'' ucap Ana setengah berteriak.
__ADS_1
''Apa sih An,'' ucap Leon dengan nada jengkel.
''Kak Leon marah? Maafin aku ya,'' ucap Ana.
''Em.''
''Kok cuma em doang. Di maafin nggak sih?'' tanya Ana.
''Tergantung,'' ucap Leon.
''Tergantung gimana Kak. Padahal aku nggak salah lo. Mas Axel cuma mau ngembaliin hp aku, dan dia juga bawain aku bekal. Masa aku tolak sih. Ya enggak enak lah Kak,'' ucap Ana menjelaskan.
''Kamu panggil dia Mas, sedangkan panggil aku Kak. Di sini yang kekasihmu dia atau aku?'' ucap Leon yang sudah berapi-api.
''Ya ampun, gini aja jadi masalah,'' batin Ana sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
''Ya, ya kan biasanya emang aku panggil Kakak kan?'' ucap Ana.
''Mulai sekarang aku nggak mau kamu panggil Kak. Aku bukan Kakakmu!'' ucap Leon menatap tajam Ana.
''Terus panggil apa? Leon gitu?'' tanya Ana.
''Annnnnnn.''
''Salah lagi kan,'' batin Ana kesal.
''Ya pokoknya panggilan romantis. Masa nggak tau sih,'' ucap Leon.
''Contohnya?'' tanya Ana.
''Mas, sayang, atau hubby gitu!'' ucap Leon terlihat jengkel.
''Emang harus kayak gitu ya? Lufi sama Nino panggilnya nama doang Kak,'' ucap Ana.
''Karna kita bukan Lufi sama Nino. Kita ya kita,'' ucap Leon.
''Iya Mas Leon,'' ucap Ana.
''Jangan panggil Mas sama yang lain. Aku nggak suka dengernya,'' ucap Leon.
''Iya iya iya. Bawel banget sih,'' gerutu Ana.
''Bawel bawel gini kamu suka kan, ngaku aja deh An,'' ucap Leon.
''Bukan cuma aku yang suka. Namun Kak Leon juga udah bucin parah sama aku,'' ucap Ana.
''Ih pede banget sihh,'' Leon mencubit pelan hidung mancung milik Ana dengan gemas. Mereka terlihat tertawa bersama, hingga tawa mereka terhenti ketika ada yang membuka pintu.
__ADS_1
''An,'' ucap Kevin yang tengah masuk ke dalam ruang rawat Lufi tanpa mengetuk pintu.
''Ka Kak Kevin,'' ucap Ana gugup.
''Lufi dimana?'' tanya Kevin yang tak melihat Lufi di atas ranjangnya.
''Lufi di ruang ICU. Dia ingin bertemu dengan Nino,'' ucap Ana.
''Terus kalian ngapain di sini?'' tanya Kevin penuh selidik.
''Tadi Lufi menyuruh kita pergi dari sana. Jadi kami menunggunya di sini,'' bukan Ana yang menjawab melainkan Leon.
''Ohhhh,'' Kevin menganggukkan kepalanya pertanda mengerti. ''An ikut aku yuk,'' ajak Kevin langsung menarik tangan Ana.
''Kemana Kak?'' tanya Ana berusaha melepaskan tangan Kevin yang melingkar di pergelangan tangannya.
''Udahlah jangan banyak nanya,'' ucap Kevin terus menarik tangan Ana sampai mereka menghilang di balik pintu.
Leon menatap mereka dengan tatapan marah. Baru saja ia ingin berduaan dengan kekasih barunya, namun ada saja pengganggu di antara mereka.
''Astaga, kenapa ada saja pengganggu di antara kita,'' gerutu Leon.
''Aku harus lebih waspada lagi dengan buaya-buaya itu. Banyak banget sih yang mencoba mendekati Ana ku. Resiko punya pacar cantik ya gini,'' ucap Leon. Ia memilih keluar dari ruang rawat Lufi dan menyusul Lufi ke ruang ICU lagi. Leon kira Ana dan sahabatnya ada di sana menjenguk Lufi dan Nino namun hasilnya nihil. Di sana hanya ada orang tua Nino yang menunggu di luar.
''Kemana mereka pergi?'' batin Leon bertanya-tanya.
Leon mengambil hp nya yang ada di saku celananya, ia nampak mencari sesuatu di hpnya.
''Ah siallllll siallll, aku kan nggak punya nomor Ana,'' gerutu Leon.
Leon memilih melihat Lufi dari luar yang tengah berbicara sendiri, karna Nino masih setia menutup matanya.
Leon pun ikut masuk ke dalam ruangan.
''Fi biarkan Nino istirahat. Kamu juga harus istirahat kan. Kita kembali ke kamar kamu yuk,'' ajak Leon.
''Aku pengen di sini Kak. Kasihan Nino sendiri Kak,'' ucap Lufi dengan tatapan ke depan dan kosong.
''Fi, nanti kita kesini lagi. Kasihan Nino istirahatnya terganggu Fi,'' ucap Leon.
''Janji ya nanti kesini lagi,'' ucap Lufi menatap ke arah Leon.
''Iya, nanti kita kesini lagi. Sekarang kamu juga harus istirahat,'' ucap Leon dengan sabar.
Lufi pun berpamitan dengan Nino yang menutup matanya. ''No, aku kembali ke kamarku dulu ya. Kamu cepet sadar, aku sangat mencintaimu,'' ucap Lufi.
*
__ADS_1
*