Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 57 PGD


__ADS_3

Leon terbangun dari tidurnya, ia melihat jam yang ada pada ponselnya.


''Jam 8? Di mana Ana?'' Leon langsung bergegas bangun dan mencari keberadaan Ana, namun Ana sudah tak terlihat di rumah.


Leon mencoba menelpon nomor Ana, namun Ana tak mengangkatnya, karna saat ini Ana sedang sibuk bekerja.


''Masa Ana berangkat sendiri sih,'' Leon mengirim beberapa pesan di handphone Ana, namun Ana sama sekali tak membalasnya.


''Aku harus menyusulnya, sebentar lagi kan dia pulang,'' gumam Leon bergegas ke kamarnya untuk mengambil jaket karna malam ini sangat dingin.


Sesampainya di cafetaria ia masuk ke dalam cafe dan memesan makanan.


''Mbak mau tanya, apa Ana ada di belakang?'' tanya Leon pada salah satu pelayan di cafe itu.


''Ana? Ana koki itu?'' tanya pelayan.


''I iya,'' jawab Leon ragu karna ia tak tau Ana bekerja sebagai apa di cafe itu.


''Sebentar Mas, saya panggilkan,'' ucap pelayan yang bernama Nia.


Nia kembali ke belakang untuk memanggilkan Ana yang sedang berkutat dengan alat dapur.


''An, ada yang mencarimu. Dia di meja nomor 3,'' ucap Nia.


''Siapa?'' tanya Ana penasaran. Ia melepas apron yang ia pakai dan ikut ke depan dengan Nia.


''Entahlah, yang pasti seorang lelaki tampan,'' ucap Nia.


Ana sangat yakin jika orang itu adalah Leon. Siapa lagi yang mencarinya sampai ke sini kalau bukan dia.


''Mas Leon,'' ucap Ana setelah tiba di dekat Leon.


''Kenapa pergi nggak bilang aku. Kan tadi aku udah bilang mau anterin kamu, kamu malah berangkat sendiri,'' ucap Leon mengomel.


''Mas Leon tidurnya nyenyak banget, aku nggak tega bangunin Mas,'' ucap Ana sambil duduk di depan Leon.


''Maafin aku ya, gara-gara aku ketiduran kamu harus berangkat sendiri,'' ucap Leon.


''Nggak pa-pa Mas. Aku udah biasa kok pulang pergi sendiri,'' ucap Ana.


''Kamu udah makan? Nih aku pesenin makan buat kamu,'' ucap Leon menyodorkan makanan yang ia pesan tadi ke depan Ana.


''Aku udah makan Mas. Pasti Mas Leon belum makan, Makanannya Mas Leon aja ya yang makan,'' ucap Ana.


''Kita makan bareng ya. Aku nggak mau makan sendiri,'' ucap Leon.


Mereka pun makan bersama, kebersamaan mereka tak luput dari penglihatan teman-teman Ana yang selama ini selalu iri dengan Ana.

__ADS_1


''Itu cowok siapa lagi ya. Tadi sebelum masuk, Ana juga duduk sama lelaki, tapi bukan itu lelakinya,'' ucap salah satu pelayan yang ada di sana.


''Halah, cantik-cantik kalau di gilir buat apa,'' ucap Ratih yang selama ini tak suka dengan Ana.


''Aku heran sama Pak Kevin, kenapa dia suka dengan cewek modelan kayak gitu,'' timpal salah satu temannya.


''Ya mungkin dia pakek guna-guna atau apalah. Inget Fadil nggak kalian? Fadil kan juga kayak cinta banget sama Ana waktu itu,'' ucap Ratih.


''Iya ya, tapi mereka kan udah nggak ada hubungan sekarang. Kabarnya Fadil juga udah menikah.''


''Ya kan dulu Fadil cuma di manfaatin buat antar jemput dia. Setelah Fadil keluar dari sini, nggak mungkin kan Fadil masih mau antar jemput dia, ya pasti langsung di hempaskan dan cari yang lebih tajir dan tampan,'' ucap Ratih dengan senyum mengejek.


''Apa ngerumpi di sini di bayar? Kalau iya aku ikut dong ngrumpi sama kalian,'' sindir Nia.


''Nih temannya nongol,'' ucap Ratih.


''Udah yuk bubar-bubar. Udah nggak asik kalau ada dia,'' ucap salah satu teman Ratih.


*


Jam menunjukkan pukul 10 malam. Cafe sudah terlihat sepi, sudah tak ada pengunjung yang datang lagi. Leon dengan setia menunggu Ana di tempatnya tadi. Ana menghampiri Leon dan mengajaknya pulang.


''Makasih ya, udah setia nungguin aku,'' ucap Ana sambil merangkul Leon dari belakang.


''Udah?'' tanya Leon, Ana menganggukkan kepalanya.


''Iya Mas,'' ucap Ana.


Mereka pun pulang ke rumah keluarga Lewis. Sesampainya di rumah mereka masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


*


Hari pun silih berganti, dan sekarang menginjak bulan baru. Hubungan Leon dan Ana masih sama seperti hari-hari biasanya.


Tring tringg tringgg.


Handphone milik Ana tiba-tiba berdering, Ana segera mengangkat panggilan yang masuk ke handphonenya.


''Halo Bu, Assalamualaikum.''


''Walaikumsalam.''


''Bapak?'' ucap Ana setelah mendengar suara Bapak di telepon itu bukan ibunya.


''Iya An ini Bapak, Ibumu masuk rumah sakit Nak,'' ucap Bapak Husein.


''Ibu masuk rumah sakit? Ibu sakit apa Pak?'' tanya Ana panik.

__ADS_1


''Ibu hanya kelelahan dan banyak fikiran,'' ucap Bapak Husein.


''Ana akan pulang sekarang Pak,'' ucap Ana.


''Nggak usah Nak, bapak hanya ingin memberitahumu kalau ibu masuk rumah sakit. Kamu nggak usah pulang, apalagi kamu kan harus kuliah,'' ucap Pak Husein.


''Kebetulan beberapa hari ini kuliah Ana masih libur Pak, Ana pulang sekarang ya, Ana rindu kalian Pak,'' ucap Ana dengan sendu.


''Baiklah, hati-hati Nak,'' ucap Bapak Husein.


Ana langsung mematikan panggilan teleponnya setelah mengucap salam. Ia segera memasukkan beberapa lembar baju ke dalam tasnya. Tak lupa ia pamit kepada Lufi.


''Ayo aku antar aja An,'' ucap Lufi.


''Nggak usah Fi. Aku pulang sendiri aja, tolong bilangin Mas Leon ya. Tadi aku coba telpon nomornya nggak aktif,'' ucap Ana.


''Ya udah kalau gitu, hati-hatinya, semoga ibu kamu cepet sembuh,'' ucap Lufi.


''Iya Makasih Fi. Aku berangkat ya, ojolnya udah nungguin di depan,'' ucap Ana.


''Iya.''


Lufi mengantar Ana sampai depan gerbang. Ana pun naik ojol sampai ke terminal.


Setelah perjalanan 4 jam Ana baru saja sampai di rumah sakit tempat Ibu Ana di rawat. Ia segera masuk ke dalam ruang rawat sang ibu setelah mencari informasi tempat di mana sang ibu berada.


Ceklek.


''Assalamualaikum.''


''Walaikumsalam, Ana,'' ucap Ibu Siti dengan mata berkaca-kaca karna menahan rindu kepada anak gadisnya. Ana berlari ke pelukan sang ibu.


''Ibu gimana keadaannya. Kenapa sampai masuk rumah sakit?'' tanya Ana menangis terisak.


''Ibu hanya kelelahan saja. Namun saat ini Ibu sudah sembuh kok, karna obat lelah ibu hanya kamu sayang,'' ucap Ibu Siti tersenyum.


''Ibu bisa aja sih. Ibu udah makan? Mau Ana belikan sesuatu?'' tanya Ana.


''Ibu nggak mau apa-apa sayang. Ibu hanya mau kamu temani Ibu di sini, ibu sangat rindu denganmu Nak,'' ucap Ibu membelai rambut panjang Ana.


''Gimana kuliah kamu An?'' bukan Ibu yang bertanya melainkan Bapak.


''Alhamdulillah kuliah Ana lancar Pak. Dan sebentar lagi Ana akan lulus,'' ucap Ana tersenyum.


''Alhamdulillah. Semoga kamu tidak lupa dengan pesan Bapak dan Ibu ya,'' ucap Bapak Husein.


''Ana nggak mungkin lupa Pak. Setelah lulus Ana akan mencari kerja di perusahaan yang ada di Jakarta Pak. Ana berjanji akan membahagiakan Ibu dan Bapak sebelum Ana menikah,'' gumam Ana.

__ADS_1


__ADS_2