
''Ya Allah, baru saja aku ingin melupakan dia dan membuka pintu hatiku untuk orang lain. Tapi kenapa dia malah datang dan menyatakan cintanya untukku. Aku harus bagaimana?'' batin Ana. Ana menatap Leon dengan tatapan yang cukup dalam. Ada rasa bahagia di hatinya setelah mengetahui jika Leon mempunyai rasa yang sama sepertinya. Namun ia juga merasa sedih, saat ini statusnya bukan single lagi, melainkan ia sudah mempunyai kekasih hati.
''Ana,'' ucap Leon.
''Maaf Kak, tapi aku nggak ada hati sama Kak Leon,'' ucap Ana melepaskan tangan Leon yang memegang tangannya.
''Bohong An, aku tau kamu mencintaiku juga,'' Leon tak terima dengan ucapan Ana.
''Memang aku mencintaimu, tapi itu kemarin-kemarin. Karna saat ini hatiku sudah di isi oleh orang lain!'' Ana memalingkan wajahnya, ia tak sanggup menatap wajah Leon.
''Putuskan kekasihmu. Dan menikahlah denganku!'' ucap Leon.
''Kak Leon sudah gila ya!''
''Ya, aku memang gila. Gila karnamu,'' ucap Leon.
''Mending sekarang Kakak pulang. Atau aku telpon Lufi biar Lufi jemput Kakak di sini,'' ucap Ana.
''Aku nggak bakal pulang sebelum kamu menerima cintaku An!''
''Tapi aku ada yang punya Kak! Kakak ngerti nggak sih bahasa manusia,'' Ana pun di buat kesal oleh Leon.
''Tatap mataku An! Aku yakin di hatimu masih ada namaku,'' ucap Leon. Namun Ana masih berpaling ke sisi yang lain.
''An!''
''Pulanglah Kak. Semua sudah terlambat,'' ucap Ana.
''Enggak, aku nggak mau!''
''Oke, jika Kakak nggak mau pulang. Biar aku saja yang pergi,'' ucap Ana berjalan meninggalkan Leon. Namun Leon segera menahan tangan Ana.
''Segitu bencinya kah kamu padaku An?'' tanya Leon pelan.
''Aku tidak membenci Kak. Tapi alangkah baiknya jika kita tidak bertemu lagi. Terima kasih atas tumpangan hidupnya selama 2 tahun ini,'' ucap Ana menahan tangisnya. Leon pun tersenyum kecewa.
''An, aku minta maaf jika aku ada salah sama kamu. Tapi izinkan aku membuktikan cintaku padamu,'' ucap Leon.
''Tidak ada yang perlu di buktikan Kak. Aku wanita hina, tak punya harga diri. Sampai kapan pun aku tak akan pantas bersanding dengan seorang Leonard Lewis,'' ucap Ana.
''An, aku minta maaf. Waktu itu aku---''
''Tak perlu meminta maaf Kak.''
__ADS_1
''An, aku harus bagaimana?'' tanya Leon.
''Pulanglah,'' ucap Ana menahan air matanya agar tak jatuh. Ia masih membelakangi Leon.
''Aku harap kita tidak pernah bertemu lagi,'' ucap Ana pelan.
''Apa itu yang kamu inginkan?'' tanya Leon dengan tubuh yang gemetar.
''Pulanglah Kak,'' ucap Ana. Leon berjalan ke arah Ana lalu memeluk Ana dari belakang.
''An, kamu adalah orang yang pertama kali mengisi hati ini. Kamu juga orang yang pertama kali membuat aku sakit An. Semoga kamu bahagia dengan keputusanmu. Dan semoga kita tidak bersua lagi,'' ucap Leon meneteskan air matanya di pundak Ana. Ana mematung mendengarkan ucapan Leon. Leon perlahan melepaskan pelukannya di pinggang Ana.
''Berbahagialah,'' ucap Leon berusaha tersenyum di depan Ana. Leon membuka pintu kamar Ana. Berat kakinya untuk melangkah keluar. Namun untuk apa ia masih berdiri di sini. Jika sang pemilik hati sudah tak sudi melihatnya.
Ana mematung melihat Leon yang berjalan semakin menjauh dari kosnya. Ingin rasanya ia mengejar cinta pertamanya itu, namun bagaimana dengan hati yang lain. Ia tak mungkin mempertahankan egonya hanya untuk kesenangan semata. Jika tadi Ana tak menerima cinta Fadil, mungkin beda ceritanya.
''Maafkan aku, maafkan aku Kak,'' ucap Ana.
Ana berlari mengejar Leon yang sudah tak terlihat lagi. Sampai di dekat jalan raya Ana sudah tak mendapati Leon.
''Aku juga mencintaimu Kak. Sangat-sangat mencintaimu,'' ucap Ana terkurai lemas di atas tanah.
''Semoga kamu bisa berbahagia dengan orang lain Kak,'' ucap Ana.
*
''Hhaaaaahhhhh kenapa aku baru menyadari jika aku mencintainya! Aku terlambat, aku terlambat,'' ucap Leon memukur stirnya dengan marah.
''Baru saja aku merasakan cinta, tapi kenapa aku juga merasakan sakit yang luar biasa,'' Leon pun menangis. Ia menepikan mobilnya di jalanan yang sepi, ia bersandar pada stir mobilnya.
''Aku mencintaimu An. Sampai kapan pun aku akan tetap mencintaimu,'' ucap Leon pelan.
*
Pagi menjelang, Ana dari semalam tak bisa memejamkan kedua matanya. Ia khawatir dengan Leon. Ana mencoba menelpon Lufi. Namun hasilnya nihil, nomor ponsel Lufi tidak aktif. Ingin sekali Ana menelpon nomor ponsel Leon, namun ia tak punya nomor ponsel Leon.
''Ya Allah, hatiku sejak tadi nggak tenang. Aku takut Kak Leon kenapa napa,'' gumam Ana.
Berbeda tempat.
Saat ini Lufi sedang berada di kamarnya. Rasanya ia sangat malas untuk bangun, karna hari ini ia masuk jam 2 siang.
Tok tok tok.
__ADS_1
''Fi,'' panggil seseorang dari luar.
''Iya Kak,'' ucap Lufi segera turun dari atas ranjangnya.
''Ada apa Kak,'' Lufi pun membuka pintu kamarnya. Ia melihat Leon yang sudah rapi dengan koper besar di tangannya.
''Kakak mau kemana?'' tanya Lufi penasaran.
''Kakak akan kembali ke LN. Apa kamu mau ikut?'' tanya Leon.
''Kak aku kuliah di sini. Mana bisa aku ikut Kakak,'' ucap Lufi.
''Tapi mungkin Kakak tidak akan kembali kesini Fi. Jika kamu rindu Kakak, temuilah Kakak di sana,'' ucap Leon.
''Kenapa Kak?'' tanya Lufi.
''Tidak apa-apa. Kakak akan segera berangkat. Jaga diri kamu baik-baik. Setelah lulus kamu bisa belajar memegang perusahaan yang ada di sini. Akan aku beritahu Dirga untuk membimbingmu,'' ucap Leon.
''Tapi Kak,, kenapa Kakak nggak balik ke Jakarta lagi?''
''Kakak ingin memulai hidup baru disana. Ya sudah, Kakak berangkat dulu. Jika ada apa-apa kamu bisa minta tolong Dirga,'' ucap Leon.
''Kak, baru saja Kakak pulang beberapa hari yang lalu, kenapa sekarang pergi lagi? Aku kesepian Kak!'' ucap Lufi menangis di dalam pelukan Leon.
''Jangan menangis! Kalau kamu rindu Kakak, kamu bisa main kesana kan?'' ucap Leon.
''Bagaimana dengan Ana Kak. Ana sangat mencintai Kakak!'' ucap Lufi.
''Di hatinya tidak ada lagi nama Kakak. Dia sudah punya kekasih Fi. Tolong jaga Ana, Kakak yakin kamu bisa menjaganya,'' ucap Leon.
''Ana punya kekasih? Sejak kapan?'' batin Lufi.
''Nggak! Aku nggak akan ngizinin Kakak pergi. Aku akan bantu Kakak buat dapetin Ana, tapi aku mohon jangan pergi Kak,'' ucap Lufi terus menerus menangis.
''Tidak usah Fi. Jika jodoh Kakak Ana, pasti kita akan bersatu,'' ucap Leon.
''Tapi Kak---''
''Fokuslah pada kuliahmu. Setelah lulus, ajaklah Ana bekerja di perusahaan kita. Dan 1 lagi, jangan pernah membenci Ana Fi,'' ucap Leon.
*
*
__ADS_1
Kurang nggak sih bawangnya guys? Kalo kurang nanti author tambahin lagi deh๐๐