
Tok tok tok.
''An, kita makan malam yuk,'' Axel mengetuk pintu kamar Ana berulang kali namun tak ada jawaban dari dalam.
''An, Ana,'' panggil Axel lagi. Namun masih tak ada jawaban.
Ceklek.
Axel memilih masuk begitu saja ke dalam kamar Ana. Ia takut jika terjadi sesuatu dengan Ana. Apalagi ia baru saja merasakan patah hati.
''Ana,'' ucap Axel mendekat ke arah ranjang. Ana masih terlihat meringkuk tidur di atas ranjang.
''Ana, bangun. Kita makan malam yuk. Kamu kan dari tadi belum makan,'' ucap Axel menggoyang goyangkan badan Ana.
Ana membuka matanya secara perlahan. Namun ia segera memegang kepalanya yang terasa sangat pening.
''Kamu kenapa?'' tanya Axel yang tau jika Ana merasakan sakit.
''Kepalaku pusing Mas,'' ucap Ana dengan pelan. Axel meletakkan tangannya di dahi Ana. Suhu bandan Ana terasa panas di tangan Axel.
''Kamu demam An,'' ucap Axel.
''Mas Axel makan dulu aja. Aku mau istirahat, aku nggak pa pa kok,'' ucap Ana yang terlihat sangat lemah.
''Aku bawakan makan untuk kamu ya. Setelah itu kamu minum obat,'' ucap Axel.
''Nggak usah Mas. Ana hanya merepotkan Mas Axel aja,'' gumam Ana.
''Jangan berbicara seperti itu An. Kamu sama sekali nggak merepotkan kok. Bentar ya aku ambilin makan dulu,'' Axel meninggalkan Ana. Ia kembali ke ruang makan untuk mengambilkan Ana makan.
''Ana mana sayang?'' tanya Mama Tari.
''Ana demam Ma. Ini mau aku bawain makan, biar dia bisa minum obat setelah makan,'' ujar Axel.
''Aduh kasihan sekali anak gadisku,'' ucap Mama Tari ikut ke kamar Ana bersama Axel yang membawa piring berisi makanan.
Sesampainya di kamar Ana. ''Sayang kamu kenapa?'' tanya Mama Tari mendekat ke arah ranjang.
''Aku nggak pa-pa kok Ma. Mungkin Ana hanya kecapean saja. Maaf jika Ana di sini merepotkan Mama dan Mas Axel,'' ucap Ana terdengar lemah.
''Jangan bicara seperti itu sayang. Mama seneng kok kamu di sini. Kamu adalah wanita pertama yang di ajak Axel pulang ke rumah. Jadi udah bisa di lihat dong, jika kamu itu orang spesial di hati Axel,'' ucap Mama Tari.
__ADS_1
''Mama apaan sih,'' ucap Axel kesal kepada mamanya.
''Bener kan yang Mama ucapin Xel,'' ucap Mama Tari.
''Nggak bener. Udah An jangan di dengerin ucapan Mama. Mama memang suka gitu sama anak orang,'' ucap Axel.
''Nggak pa-pa Mas. Em, biar Ana makan sendiri ya,'' ucap Ana mengambil piring yang ada di tangan Axel.
Setelah menghabiskan makanannya, ia segera minum obat dan di haruskan istirahat.
''Cepet tidur. Cepet sembuh ya. Night,'' ucap Axel meninggalkan kamar Ana.
Ana kembali membuka mata dan selimut yang tadi menempel di tubuhnya.
''Banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadamu Mas. Tapi aku tak ingin bertemu denganmu dulu. Aku terlalu kecewa sama kamu Mas,'' batin Ana sambil melihat langit-langit kamar.
Sementara di lain tempat.
Leon masih tak tenang karna belum menemukan Ana. Ia sangat yakin jika yang membawa Ana pergi tadi sore adalah Axel. Dari penampilannya pun Leon sudah bisa menebak.
''Setelah Ana ketemu, aku akan buat perhitungan buat kamu Axel. Aku nggak akan membiarkan dokter brengsek sepertimu membawa calon istriku,'' ucap Leon sambil mengepalkan tangannya dengan erat.
''Temukan dimana tempat tinggal Dr. Axel wiratmaja. Aku tunggu hasilnya sampai besok pagi,'' ucap Leon lalu mematikan ponselnya.
''Cukup 1 malam kamu membawa Ana ku pergi Axel. Setelah ini tak akan aku biarkan kamu menyentuhnya walaupun hanya seujung kuku,'' gumam Leon.
Ia kembali ke kamarnya dengan perasaan kacau. Hari ini adalah hari yang paling menyebalkan bagi Leon.
''Ini semua gara-gara Nois. Kalau saja ia tak datang kesini. Hubunganku dengan Ana pasti masih baik-baik saja. Aku benar-benar takut jika Ana tak mempercayaiku lagi,'' batin Leon.
Setengah jam kemudian, Leon menerima telepon dari anak buah yang mencari tempat tinggal Axel tadi.
''Bagaimana?'' tanya Leon.
''Maaf Tuan, Dr. Axel tidak ada di apartemennya. Apartemennya kosong Tuan,'' ucap anak buahnya.
''Kalian bisa kerja nggak sih. Cari satu orang saja nggak becus,'' pekik Leon kesal.
''Maaf Tuan. Tapi memang Dr. Axel tak ada di apartemennya,'' ucap anak buah Leon.
''Cari sampai dapat, kalau kamu masih ingin kerja dan dapat uang!'' perintah Leon. Ia segera menutup teleponya dengan sepihak.
__ADS_1
''Jangan pernah berharap bisa memiliki Ana ku Axel!'' tangannya mengepal erat, sorot mata tajam miliknya pun terlihat.
Sementara di rumah Axel, Ana saat ini hanya bisa berbaring lemas. Axel sudah memasang selang infus di tangannya. Ia dengan setia duduk di samping Ana dan memperhatikan wajah cantik milik Ana.
''Andaikan kamu memilihku An, pasti aku tak akan menyiayiakan kamu seperti Leon menyakitimu seperti sekarang,'' batin Axel.
Ana menggeliat dari tidurnya, ia merasa jika badannya seperti sangat lemah untuk di gerakkan.
''Ana,'' gumam Axel.
''Mas Axel,'' ucap Ana membuka matanya.
''Mas Axel kenapa ada di sini?'' tanya Ana yang tak sadar jika di tangannya sudah di pasang selang infus.
''Tubuh kamu lemas An, demam kamu juga tinggi. Aku udah pasang selang infus di tanganmu,'' ujar Axel.
Ana pun mengangkat tangannya. Benar di tangan kanan nya terpasang selang infus.
''Aku nggak pa-pa Mas. Cuma sakit kepala biasa kok,'' ucap Ana.
''Iya sekarang udah nggak pa-pa karna udah ke bantu infus dan obat yang aku suntikkan ke dalam infus,'' ucap Axel.
''Makasih ya Mas. Aku benar-benar berhutang budi sama Mas Axel,'' ucap Ana.
''Jangan bicara seperti itu. Aku menolong kamu ikhlas An. Aku tak ingin balas budimu,'' ucap Axel menatap Ana dalam-dalam. ''Aku hanya ingin separuh hatimu untuk mencintaiku An,'' batin Axel yang hanya berbicara di dalam hatinya. Ia belum berani mengungkapkan jika ia mencintai Ana.
''Iya Mas. Mas Axel istirahat sana, aku udah beneran nggak pa-pa kok,'' ucap Ana yang tak enak jika Axel masih berada di kamarnya.
''Aku akan tetap di sini menjaga mu An. Jangan khawatir, aku nggak akan ngapa-ngapain kamu kok,'' ucap Axel.
''Bukan begitu Mas maksud aku---''
''Stt udah jangan berisik, ini udah tengah malam loh. Cepat kamu istirahat, nanti aku bisa tidur di lantai,'' ucap Axel karna di kamar tamu tak ada sofa terpaksa ia harus tidur di lantai.
''Jangan Mas, Mas Axel bisa masuk angin nanti,'' ucap Ana.
''Terus aku harus tidur di mana? Di sampingmu? Kalau begitu ayo kita menikah dulu,'' ucap Axel tengah menggoda Ana. Namun di dalam hatinya ia tulus berbicara seperti itu.
''Sejak kapan Mas Axel suka ngelawak?'' tanya Ana sambil tertawa.
''Aku sudah tau, pasti kamu menganggap ucapanku tadi hanya sebuah candaan. Namun sebenarnya aku tulus berbicara seperti itu An,'' batin Axel menatap Ana dengan perasaan kecewa.
__ADS_1