Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 35 PGD


__ADS_3

''Pipi kamu kenapa?'' tanya Dokter Axel melihat pipi Ana yang terlihat lebam.


''Nggak pa-pa kok. Aku pulang dulu Mas,'' Ana masih memegang pipinya, ia ingin bergegas meninggalkan Axel, namun Axel segera menarik tangan Ana.


''Biar aku obati,'' ucap Axel.


''Nggak usah Mas. Aku nggak pa-pa kok,'' ucap Ana.


''Nggak pa-pa gimana, ini sampai lebam lo,'' ucap Axel menarik tangan Ana, lalu membawanya masuk ke dalam mobil.


''Apa kekasihmu kemarin yang melakukan semua ini?'' tanya Axel.


''Bukan Mas. Tapi istrinya,'' ucap Ana tertunduk.


''Istrinya?'' Axel melebarkan matanya.


''Ternyata dia udah nikah Mas,'' ucap Ana tak bisa membendung air matanya.


''Apa kamu baru tau kalau dia udah punya istri?'' tanya Axel.


''Iya. Tapi aku bukan pelakor Mas. Mereka menikah masih baru-baru ini. Hubungan kami lebih dulu dari pada pernikahan mereka,'' ucap Ana.


''Udah jangan menangis. Aku tau pasti sulit bagimu,'' ucap Axel.


''Aku menangis bukan karna sakit hati Mas. Tapi aku kecewa saja sama Kak Fadil, Kenapa dia tak pernah jujur padaku,'' ucap Ana.


''Kamu nggak sakit hati?'' tanya Axel, Ana hanya menggelengkan kepalanya pelan.


''Apa kamu nggak mencintainya?'' tanyanya lagi, Ana hanya menggelengkan kepalanya lagi.


''Terus kenapa kamu bisa jadi kekasihnya?'' tanya Axel yang masih penasaran.


''Udahlah jangan di bahas lagi Mas. Katanya mau di obatin nih pipi. Jadi nggak?'' tanya Ana mengerucutkan bibirnya.


''Eh iya lupa, hehe,'' Axel menepuk jidatnya. Ia segera mengambil kotak obat yang ada di mobilnya.


Axel dengan telaten mengobati pipi Ana yang lebam. Tapi fokus Axel bukan pada pipi Ana, melainkan pada bibir se*y milik Ana.


''Aww sakit Mas, pelan-pelan saja,'' ucap Ana meringis kesakitan.


''Eh maaf An,'' ucap Axel merasa bersalah.


''Ya ampun jantungku. Apa aku sedang jatuh hati kepada gadis sederhana ini. Aku merasa nyaman saat berada di dekatnya. Jika di lihat dari dekat, dia benar-benar sangatlah cantik,'' batin Axel menatap Ana tanpa berkedip.


''Mas, Mas Axel!'' ucap Ana.

__ADS_1


''Eh, iya. Udah selesai An,'' ucap Axel langsung memalingkan wajahnya.


''Kak Axel melamun mulu. Nanti kalau kesambet baru tau rasa,'' ucap Ana.


''Jangan dong!'' ucap Axel.


''Ya udah makasih ya Kak udah ngobatin pipiku. Aku harus berangkat kerja sekarang,'' ucap Ana.


''Biar aku antar An,'' ucap Axel.


''Nggak usah Kak. Aku bisa naik angkot kok,'' ucap Ana ingin membuka pintu, namun Axel segera mengunci pintu di samping Ana.


''Mas Axelll,'' pekik Ana kesal.


''Biar aku antar An. Kamu itu terlalu ceroboh. Aku nggak mau kalau nanti kamu kenapa-napa,'' ucap Axel penuh perhatian. Ana hanya menurut saja, percuma ia ngeyel ingin turun kalau mobil Axel sudah di kunci.


''Kamu kerja dimana?'' tanya Axel.


''Di Cafetaria,'' ucap Ana. Axel segera mengendarai mobilnya membelah jalanan Ibu Kota menuju Cafetaria.


''Aku sering makan di sana, tapi kok nggak pernah ketemu kamu,'' ucapnya.


''Karna aku berada di belakang. Aku koki di sana,'' ucap Ana.


''Berarti kamu pinter masak dong,'' ucap Axel.


''Lha terus?'' Axel mengerutkan keningnya.


''Ya pinter lah Mas. Kalau aku nggak pinter kenapa aku jadi koki. Pertanyaan Mas Axel aneh sihh,'' ucap Ana.


''Nanti aku mau makan di sana. Masakin buat aku yang spesial ya,'' ucap Axel mengerlingkan matanya sebelah.


''Siap Mas, tapi jangan lupa bayar ya. Aku cuma masakin lo ya, nggak traktir,'' ucap Ana bercanda.


''Iya iya, aku juga nggak miskin kali An, Hahaha,'' mereka berdua tertawa lepas seakan Ana lupa masalahnya dengan Fadil tadi.


''Kecantikan kamu 2 kali lipat jika tertawa seperti ini An,'' ucap Axel di dalam hati.


''Hari ini aku lepas dari Kak Fadil, tapi bukannya senang namun aku merasa kecewa dengan dia. Bisa-bisanya dia nggak jujur sama aku. Aku kira selama ini dia orang terbaik yang aku temui. Namun apa kenyataannya,'' batin Ana mengomel dalam hati.


Setelah tertawa lepas berdua, saat ini hening tanpa suara. Mereka berperang dengan fikiran masing-masing. Sampai akhirnya mereka sampai di parkiran Cafetaria.


''Makasih ya Mas udah ngobatin dan nganterin aku. Sebagai bentuk terima kasihku, aku akan masak, makanan yang spesial buat Mas Axel. Yuk kita turun,'' ucap Ana melepaskan seatbeltnya lalu turun. Axel menyusul Ana masuk ke dalam Cafetaria.


''Eh lihat deh, itu Ana sama siapa? Kenapa wajahnya tampan sekali, apa itu gebetan Ana yang baru. Kan secara Fadil udah nggak kerja di sini. Jika di bandingkan Fadil nggak ada apa-apanya dari cowok itu. Walaupun sama-sama tampan sih,'' ucap teman Ana yang juga bekerja di Cafetaria.

__ADS_1


''Halah palingan Ana jual tu*uhnya tuh. Biar bisa dapetin Cowok kayak gitu. Secara kan Fadil anak orang biasa, pasti Ana hempaskan begitu saja,'' ucap Ratih sirik.


''Kalau belum tau kenyataannya seperti apa mending tutup mulut aja deh dulu. Kasian kan nanti jika nggak sesuai ekspetasi kamu,'' ucap Nia meninggalkan mereka berdua.


''Ihh tuh anak kenapa sih. Ada dendam apa sama aku sebenarnya. Kenapa selalu belain Ana Ana Ana dan Ana,'' ucap Ratih kesal.


''Udah deh Rat, kita kembali kerja aja deh. Nanti kalau ketahuan Pak Kevin bisa berabe,'' ucap teman Ratih. Mereka pun segera melanjutkan pekerjaan mereka.


Sedangkan Ana masih sibuk membuat makanan untuk Dokter Axel. Ana membuatkan Axel puppy cupcakes dengan bentuk toping seperti wajah kucing yang membuatnya terlalu lucu untuk di makan.


''Semoga Mas Axel suka,'' ucap Ana membawa cupcakes ke depan.


''Silahkan Mas,'' ucap Ana menaruh puppy cupcakes di depan Axel. Axel langsung tersenyum melihat cupcakes yang ada di depannya.


''Kenapa lucu sekali. Aku nggak tega untuk memakannya,'' ucap Axel.


''Ini menggambarkan wajah Mas Axel yang tampan dan lucu kadang sih, hehe,'' ucap Ana tertawa kecil.


''Jadi aku tampan?'' tanya Axel.


''Cepat di makan Mas. Keburu dingin,'' ucap Ana. ''Hangat lebih enak,'' sambung Ana lagi.


''Temani aku makan ya,'' ucap Dokter Axel dengan tatapan memohon.


''Tapi aku harus kerja. Ini udah masuk jam kerja Mas,'' ucap Ana.


''Sebentar saja ya, please,'' ucap Axel masih memohon.


''Janji ya cuma sebentar,'' ucap Ana.


''Iya bawell,'' ucap Axel. Ana pun duduk di depan Axel. Sesekali Axel menyuapi Ana dengan Cupcakes yang di buat oleh Ana.


''Enak kan?'' tanya Axel.


''Biasa aja sih,'' ucap Ana.


''Kok biasa aja sih. Ini enak banget loh menurutku. Apalagi di makan berdua kayak gini,'' ucap Axel.


''Maksudnya?'' tanya Ana mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Axel.


''Ya maksudnya, enak kalau makan berdua kayak gini. Biasanya kan aku makan sendiri,'' kilah Axel.


''Oh gitu,'' ucap Ana mengangguk mengerti.


''Iya.'' ucap Axel menghembuskan nafasnya kasar.

__ADS_1


*


Jangan lupa tinggalkan jejaknya kawan.


__ADS_2