Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 39 PGD


__ADS_3

''Oke biar aku suruh Dirga jemput Ana,'' ucap Leon. Leon segera menelpon Dirga, namun nomor ponsel Dirga tidak aktif.


''Ah sial. Kemana sih si Dirga,'' gerutu Leon dalam hati.


''Gimana Kak?'' tanya Lufi.


''Nomor Dirga nggak aktif Fi,'' ucap Leon.


''Ya udah Kakak aja yang jemput Ana. Kan Kakak udah tau kosnya,'' ucap Lufi.


''Tapi Fi, ini udah hampir tengah malam lo,'' ucap Leon.


''Ya udah ya udah, kalau Kak Leon nggak mau ya udah!'' ucap Lufi kesal.


''Oke, biar Kakak jemput,'' ucap Leon menurut.


''Gitu dong dari tadi. Cepat jemput sana,'' ucap Lufi. Leon segera menyambar jaket dan kunci mobilnya. Ia segera melajukan kendaraannya ke kosan Ana. Sampai di kosan Ana, Leon nampak ragu mengetuk pintu. Namun demi adik kesayangannya ia rela melakukan apapun.


Tok tok tok.


Tok tok tok.


Ana yang kebetulan belum tidur dan mendengar pintunya di ketuk langsung berjalan menuju pintu.


Ceklek.


Ana terpaku melihat siapa yang datang ke kosnya malam-malam seperti ini.


''Kak Leon,'' gumam Ana tak percaya. Leon pun juga terpaku melihat kecantikan Ana malam ini. Namun beberapa detik kemudian Leon tersadar dari lamunannya.


''Ehm, Lufi sudah sadar dan ia ingin bertemu dengan anda,'' ucap Leon lagi-lagi dengan kata-kata formal.


''Jadi Kak Leon malam-malam kesini hanya ingin menjemputku? Seharusnya Kak Leon telpon saja ke nomor ponselku. Aku bisa ke rumah sakit sendiri,'' ucap Ana.


''Cepatlah, saya tak punya banyak waktu,'' ucap Leon datar.


''Sebentar Kak,'' ucap Ana masuk lagi ke dalam kamarnya untuk mengambil tas. Ana juga mencari ponsel miliknya namun tak ada di dalam tas ataupun di kamarnya.


''Ponselku kemana ya?'' Ana mencari setiap sudut ruangan. Mulai dari atas kasur, atas lemari plastik , atas meja namun tak ada ponselnya di sana.


''Cepatlah,'' ucap Leon bersandar di dekat pintu.


Mau tak mau Ana pergi tanpa membawa ponselnya. Ana mengingat-ingat di mana jatuhnya ponsel miliknya.

__ADS_1


''Apa di mobil Mas Axel ya, terakhir aku lihat ponsel kan memang waktu di mobilnya Mas Axel,'' batin Ana.


''Kak, apa aku boleh meminjam ponsel milik Kakak?'' tanya Ana. Tak ada jawaban dari Leon, namun Leon mengambil ponsel miliknya dari saku celananya. Ana terlihat mengetikkan nomor pada ponsel itu.


''Hallo, apa ini benar Mas Axel?'' tanya Ana.


''Iya,'' ucap Axel.


''Ini aku Ana Mas. Ponselku terjatuh di mobil Mas Axel ya. Untung aku ingat terakhir kali aku pegang hp saat di mobil Mas,'' ucap Ana lega.


''Iya, besok aku bawa ke rumah sakit ya. Ini Mas langsung pulang, nggak ke rumah sakit lagi,'' ucap Dokter Axel.


''Iya Mas,'' ucap Ana.


Ana mengakhiri panggilan teleponnya. Leon sejak tadi hanya diam, namun dalam hatinya seperti tertimpa batu besar. Rahangnya mengeras tangannya mengepal setir mobil dengan keras.


''Makasih Kak,'' ucap Ana memberikan ponsel yang ia pinjam tadi. Namun lagi-lagi Leon hanya diam. Ana merasa Leon berubah, sudah tidak seperti dulu lagi.


''Kak,'' panggil Ana. Leon hanya menoleh.


''Bagaimana kabar Kakak selama disana?'' tanya Ana.


''Baik,'' ucap Leon. ''Jauh lebih baik dari pada di sini,'' ucap Leon sambil fokus pada jalanan yang ada di depannya.


Setelah beberapa saat perjalanan, mereka telah sampai di Rumah Sakit Harapan keluarga. Ana dan Leon berjalan menuju kamar rawat inap Lufi.


Ceklek.


Pintu di buka oleh Leon. Lufi nampak tertidur pulas.


''Dasar bocah! Aku merasa di kerjain sama Lufi,'' batin Leon kesal.


Ana dan Leon masuk ke dalam ruangan. Namun hanya hening yang tercipta karna Lufi sedang tertidur pulas.


''Istirahatlah di sofa,'' ucap Leon datar.


''Baik Kak,'' ucap Ana berjalan menuju sofa, sedangkan Leon duduk di samping Lufi.


Ana membaringkan tubuhnya di atas sofa, beberapa saat kemudian mata Ana terpejam. Leon menatap Ana yang saat ini tertidur pulas.


''Hatiku damai melihat kamu tidur seperti ini An. Andai perasaanmu sama seperti perasaanku juga,'' batin Leon. Ingin rasanya ia mendekat ke arah Ana, namun ia Leon sadar, Leon bukanlah siapa-siapa.


Jam pun menunjukkan pukul 4 pagi. Ana mengerjabkan matanya saat mendengar adzan subuh berkumandang. Ia segera bangun dari tidurnya. Badannya terasa sakit karna semalaman ia tidur di sofa. Ana melihat Leon yang tengah sibuk dengan laptop yang ada di pangkuannya.

__ADS_1


''Jam 4 Kak Leon belum tidur?'' batinnya.


''Kak Leon belum tidur?'' tanya Ana memberanikan diri.


''Belum,'' ucap Leon tanpa melihat ke arah Ana.


''Mending Kak Leon istirahat, setelah aku sholat subuh, biar aku yang menjaga Lufi,'' ucap Ana.


''Hem,'' ucap Leon yang hanya berdehem.


Ana tak berucap lagi. Ia segera ke kamar mandi untuk buang air kecil. Setelah dari kamar mandi, Ana berjalan menuju pintu untuk keluar.


''Kamu mau kemana?'' suara bariton milik Leon mampu menghentikan langkah Ana.


''Aku sholat dulu Kak. Apa Kak Leon ingin ikut?'' tanya Ana tersenyum ke arah Leon.


''Tidak!'' jawab Leon.


Ana memutar handle pintu, ia kemudian berjalan menuju mushola yang ada di rumah sakit tersebut.


Setelah melaksanakan sholat subuh, Ana kembali lagi ke kamar rawat milik Lufi. Di sana Ana melihat Leon yang tengah tertidur di sofa yang Ana tempati tadi. Ana mendekat ke arah ranjang Lufi. Ana mengeluarkan mukena yang selalu ia bawa kemana ia pergi. Ana mengaji di dekat Lufi.


Suara merdu dengan ayat-ayat Al-qur'an mampu membuat Leon kembali terbangun. Leon mendengarkan Ana mengaji. Rasanya begitu nyaman di dalam hatinya.


''Aku memang tak pantas denganmu An. Kamu pintar dalam segala hal. Sedangkan aku, aku saja lupa bagaimana caranya sholat dan bagaimana bentuk huruf hijaiyah, percuma aku mengejarmu, jika kamu bukanlah jodohku,'' air mata Leon menetes di pipinya. Ia sadar diri, bagaimana tak pantasnya ia bersanding dengan Ana.


Matahari terbit dari ufuk timur. Lufi yang semalaman tertidur pulas kembali terbangun. Pertama kali membuka mata, ia melihat Ana yang tengah duduk di samping ranjangnya.


''An,'' ucap Lufi.


''Kamu udah bangun? Apa ada yang sakit?'' tanya Ana.


''Kamu itu seperti Kak Leon saja. Kak Leon tadi malam juga bertanya seperti itu saat aku baru membuka mata,'' ucap Lufi. Namun Ana tak tau harus menanggapi seperti apa. Mungkin kebetulan saja, pikir Ana.


''Kak Leon masih tidur,'' ucap Lufi yang tengah melihat Leon tertidur di atas sofa.


''Kak Leon semalaman nggak tidur Fi,'' ucap Ana.


''Pasti dia capek banget An, seharusnya dia udah nikah karna umurnya hampir menginjak kepala 3. Tapi malah dia belum bisa move on dari seseorang,'' ucap Lufi merasa kasihan kepada kakaknya.


*


*

__ADS_1


__ADS_2