Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 44 PGD


__ADS_3

''Mas udah dong,'' ucap Ana memohon kepada Leon. Namun Leon masih menatap tajam ke arah Axel. Leon seperti ingin mengibarkan bendera perang dengan Axel.


''Kamu kenal dia di mana An?'' tanya Dokter Axel.


''Em, dia Kakak sahabatku Mas, dia Kakaknya Lufi,'' ucap Ana. Leon langsung menoleh ke arah Ana. Ia tak percaya jika Ana tak mengakuinya di depan Axel.


''Jangan sampai kamu jatuh cinta sama cowok seperti dia,'' ucap Axel sambil tertawa mengejek.


''Maksud kamu apa, ha?'' Leon mendekat ke arah Axel. Emosinya benar-benar sudah tak bisa di kendalikan lagi.


''Mas, udah,'' Ana meraih lengan Leon. Namun Leon menepis tangan Ana.


''Maksud kamu apa?'' tanya Leon lagi.


''Mas Leon sayang udah yaaaa. Sabarr Mas sabar,'' bisik Ana sambil mengelus lengan Leon pelan. Leon menghembuskan nafasnya kasar. Kata-kata sayang dari Ana membuat ia luluh seketika.


''Kita pergi dari sini,'' ucap Leon mengajak Ana pergi dari hadapan Axel. Ana hanya menganggukkan kepalanya. Ana tak mau ada keributan di dalam rumah sakit.


Mereka pergi meninggalkan ruang ICU. Tangan Ana masih berada di lengan Leon. Bukan hanya Axel yang merasa heran, namun geng dambaan mertua juga menatap kepergian mereka dengan banyak tanda tanya.


''Ada hubungan apa Ana dan Leon. Aku nggak boleh sampai kalah dengan Leon,'' batin Axel.


Sementara Kevin terlihat mengepalkan kedua tangannya.


''Jangan sampai aku kalah dari Kakaknya Lufi,'' batin Kevin.


Ana mengajak Leon ke taman rumah sakit. Ana tak mau emosi Leon di bawa sampai di dalam kamar rawat inap Lufi.


''Kita duduk di sana Mas,'' ajak Ana. Leon pun hanya menurut tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Mereka duduk di kursi taman. Leon terlihat diam, enggan untuk berbicara.


''Mas,'' panggil Ana. Leon hanya menoleh ke arah Ana.


''Udah jangan marah-marah mulu. Nanti gantengnya ilang lo,'' ucap Ana.


''Emang aku nggak ganteng! Makanya kamu malu mengakui aku di depan mereka. Kamu takut jika Axel dan yang lain mencemooh kamu, karna punya cowok yang nggak ganteng seperti aku,'' ucap Leon dingin.


''Mas Leon ngomong apa sih,'' ucap Ana. Leon tak menanggapi ucapan Ana.


''Mas, aku tuh cinta sama Mas Leon. Aku nggak peduli orang berkata apa sama Mas Leon. Menurutku Mas Leon itu galak, tapi di sisi lain bisa membuat aku nyaman. Bagaimana orang memandang Mas Leon aku nggak peduli. Mas Leon tetep Mas Leon yang galak, bawel, nyebelin namun aku cinta mati sama Mas,'' ucap Ana memeluk tubuh Leon dari samping.


''Belajar gombal dari mana, hem?'' tanya Leon dengan ucapan datarnya.

__ADS_1


''Dari Mas Leon lah,'' ucap Ana mendongakkan kepalanya dan tersenyum ke arah Leon.


Cup.


Leon mengecup sekilas bibir Ana.


''Makasih ya sayang, udah mau pilih aku jadi pasangan kamu. Sampai kapan pun aku nggak akan sia-siakan kamu,'' ucap Leon. Muka Ana langsung memerah saat mendengar ucapan sayang dari Leon.


Leon merangkul pinggang ramping milik Ana, Ana pun bersandar di dada bidang Leon.


''Jangan pernah tinggalkan aku An. Aku sangat-sangat mencintaimu,'' ucap Leon.


''Aku juga Mas,'' ucap Ana.


*


*


Hari pun berganti. Saat ini Lufi tengah berada di kamar rawat milik Nino. Lufi takut jika Nino tak mengenalinya seperti hari kemarin.


Yaa, Nino mengalami hilang ingatan setelah kecelakaan yang menimpanya. Namun mereka sangat-sangat bersyukur karna ini hanya hilang ingatan sementara. Bagaimana jadinya jika Nino benar-benar lupa segalanya.


''Nino, gimana keadaan kamu?'' tanya Lufi pelan. Namun Nino nampak acuh kepada Lufi. Lufi menangis tergugu saat kekasih hatinya tak mengenali dirinya. Ana mengelus lembut pundak Lufi.


''Gimana aku bisa sabar An, Nino sama sekali tak mengenaliku. Aku benar-benar jadi orang lain di hadapannya,'' Lufi terisak.


Nino nampak lebih akrab dengan sahabat-sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan Kevin, Lukman dan Indra. Nino tak lupa kepada mereka, namun untuk kejadian 5 tahun belakangan ini, Nino melupakannya.


''Bawa aku ke kamar An. Aku nggak sanggup berada di sini,'' ucap Lufi. Ana mendorong kursi roda milik Lufi keluar dari ruang rawat Nino. Nino melihat mereka keluar, namun seperti biasa, ia tak peduli sama sekali.


''No, beneran kamu nggak inget siapa dia?'' tanya Indra.


''Emang siapa dia? Aku sama sekali tak mengingatnya,'' ucap Nino.


''Dia kekasihmu No. Kaki dan tangannya cidera karna kecelakaan bareng sama kamu,'' ucap Lukman.


''Aku nggak peduli. Aku nggak inget apapun kok,'' ucap Nino yang terlihat acuh.


Sahabat-sahabatnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka juga merasa kasihan kepada Lufi karna Nino melupakannya.


*


Di kamar rawat milik Lufi, Lufi sedang menangis. Ia tak kuasa membendung air matanya.

__ADS_1


''An gimana kalau ingatan Nino nggak kembali, Dan dia melupakanku untuk selamanya,'' ucap Lufi sambil terisak.


''Nino pasti sembuh seperti sedia kala Fi. Bukankah kita harus berfikir positif agar hal positif juga yang akan terjadi,'' ucap Ana.


Dokter masuk ke dalam ruang rawat Lufi. Karna kondisi Lufi sudah membaik, hari ini Lufi sudah di perbolehkan pulang. Namun Lufi masih tetep kekeh ingin berada di rumah sakit.


''Gimana ini, aku harus telpon Mas Leon,'' batin Ana mengambil hpnya yang berada di atas meja.


''Aku ke toilet dulu Fi,'' pamit Ana. Ana langsung berlari le kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari Lufi.


Ana segera mengetik nomor hp milik Leon.


Tut tut tut.


''Halo Mas, Assalamualaikum,'' ucap Ana.


''Walaikumsalam, ada apa An?'' tanya Leon.


''Hari ini Lufi udah di perbolehkan pulang Mas. Tapi dia masih ngotot mau di rumah sakit. Gimana dong Mas?'' tanya Ana.


''Aku akan segera kesana sayang,'' ucap Leon.


''Ya udah, Mas Hati-hati. Assalamualaikum,'' ucap Ana.


''Walaikumsalam.''


Ana mematikan teleponnya. Ia segera keluar dari dalam kamar mandi. Ana mendapati Lufi yang diam di atas kursi roda dengan tatapan kosong. Lufi sangat terpukul dengan hilangnya ingatan Nino. Kenapa harus dia yang di lupakan? Itu yang saat ini ada di fikiran Lufi.


''Fi,'' Ana mendekat, ia berjongkok di hadapan Lufi.


''An, aku pengen istirahat,'' ucap Lufi.


''Iya sebentar, aku minta bantuan suster dulu ya,'' ucap Ana berdiri, ia keluar dari ruangan untuk memanggil suster agar membantunya mengangkat Lufi ke atas ranjang.


Ana masuk ke dalam ruangan bersama 2 orang suster. Kemudian tubuh Lufi di angkat ke atas ranjang.


''Tinggalin aku sendiri An. Aku mau istirahat,'' ucap Lufi.


*


*


Jangan lupa tinggalkan jejak ya.

__ADS_1


Lope you sekebon guys😍😍😍


__ADS_2