
Ana memilih menunggu di kursi ruang tunggu sambil memainkan benda pipihnya.
''Mbak Ana,'' sapa seseorang.
''Eh, iya Dokter?'' ucap Ana mendongakkan kepalanya.
''Boleh aku duduk di sini?'' tanyanya.
''Silahkan,'' ucap Ana.
Dokter Axel duduk di dekat Ana. Terlihat kecanggungan di antara mereka.
''Ada apa Dok?'' tanya Ana.
''Jangan panggil aku dok, kemarin kan kamu panggil aku Mas,'' ucap Axel.
''Dan Mas Axel jangan panggil aku Mbak. Nggak enak di dengarnya,'' ucap Ana.
''Hahahaha,'' mereka pun tertawa bersama. Mereka tak mengetahui jika ada orang yang memandang mereka dari kejauhan.
Seseorang itu segera mendekat ke arah Ana. Rasa cemburu di hatinya sudah tak bisa di kontrol lagi. Apalagi sang kekasih hati berduaan dengan seseorang berjas putih itu.
''An!'' suara bariton itu membuat Ana langsung menoleh.
''Kak Fadil?'' ucap Ana.
''Ngapain kamu di sini?'' tanya Fadil yang tak tau jika sahabat Ana masuk rumah sakit.
''Aku aku sedang menjenguk Nino yang saat ini di rawat Kak,'' ucap Ana.
''Sejak kapan?'' tanyanya.
''Sejak tadi malam. Nino kecelakaan saat balapan,'' ucap Ana.
''Aku tanya sejak kapan kamu kesini!! Kenapa nggak bilang aku dulu,'' ucap Fadil yang sedang emosi.
''Maaf Kak,'' Ana menunduk, baru pertama kali Fadil berkata dengan nada penuh kemarahan seperti saat ini.
''An, ini siapa?'' tanya Dokter Axel.
''Aku kekasihnya!'' ucap Fadil menatap tajam Dokter Axel.
''Bersikaplah lembut dengannya. Apa anda tak malu berbicara dengan nada tinggi seperti itu kepada wanita?'' ucap Dokter Axel.
''Jangan mencampuri urusan orang lain Dokter Axel yang terhormat,'' Fadil tau nama Axel dari jas yang di kenakan Axel terdapat nama Axel.
''Stop Kak stop!! Dokter Axel tidak tau apa-apa, kenapa Kakak berkata seperti itu dengannya,'' ucap Ana kesal kepada Fadil.
''Jadi kamu membela Dokter ini?'' tanya Fadil menatap tajam Ana.
''Aku tidak membela Kak. Aku hanya bicara kalau Dokter Axel tidak tau apa-apa. Kakak ada masalah apa sebenarnya?'' tanya Ana.
''Ikut Kakak!'' Fadil menarik tangan Ana sedikit kasar. Dokter Axel yang melihat merasa tak tega kepada Ana, namun ia tak mau ikut campur urusan orang lain. Apalagi mereka sepasang kekasih.
__ADS_1
Sesampainya di taman Rumah Sakit, Fadil segera duduk di kursi taman. Pandangannya kosong menatap ke depan.
''Kakak ada masalah?'' tanya Ana. Fadil hanya menggelengkan kepalanya pelan.
''Kenapa Kak Fadil ada di RS?'' tanya Ana.
''Kakak di rawat di sini,'' ucap Fadil.
''Boleh aku menjenguknya?'' tanya Ana.
''Jangan!'' ucap Fadil spontan.
''Kenapa aku tidak boleh menjenguknya?'' tanya Ana heran.
''Itu anu Kakakku tidak suka jika ada orang baru,'' ucap Fadil tak masuk akal.
''Oh,'' Ana hanya ber oh ria. Sebenarnya ia curiga namun Ana segera meepis rasa itu.
''Aku minta maaf jika aku tadi terlalu kasar kepadamu,'' ucap Fadil.
''Iya nggak pa pa kak, aku tau Kakak sedang banyak fikiran,'' ucap Ana tersenyum ke arah Fadil.
''Maafkan aku An, maafkan aku. Aku tak bisa berbicara sekarang kepadamu. Ingin rasanya aku marah dengan diriku sendiri,'' batin Fadil menatap Ana dengan dalam.
''Ada apa sebenarnya dengan Kak Fadil. Seperti ada sesuatu yang di sembunyikan dariku. Tapi apa?'' batin Ana merasa curiga dengan sikap Fadil yang menurutnya tidak seperti biasanya.
''Aku marah, aku sakit hati jika melihatmu bersama dengan yang lain. Tapi suatu saat aku harus melepasmu An. Aku harus merelakanmu untuk yang lain,'' Batin Fadil.
''Kak Fadil udah makan?'' tanya Ana mengalihkan pembicaraan.
''Kita ke kantin yuk, aku temani Kak Fadil sarapan,'' ucap Ana penuh perhatian.
''Nggak usah An! Aku tidak lapar,'' ucapnya.
''Kak Fadil kenapa sih, beneran hari ini dia aneh banget,'' batin Ana menatap Fadil penuh tanda tanya.
''Aku kembali ke ruangan Kakak dulu ya,'' ucap Fadil langsung meninggalkan Ana yang masih bertanya-tanya.
''Aku ikuti dia ajalah,'' Ana mengikuti Fadil dari belakang. Saat Fadil masuk ke dalam ruangan, Ana mengintipnya dari jendela kaca ruangan itu.
''Kakaknya Kak Fadil sakit apa sih? Dan wanita itu siapa? Apa dia istri Kakaknya?'' gumam Ana.
''Ahhh masa bodo lah. Mending aku kembali ke ruang rawat Nino, pasti mereka semua sedang mencariku,'' ucap Ana berlalu dari depan ruangan itu.
Ana kembali ke lantai 2 dimana letak ruang rawat Nino berada. Di sana sudah ada geng dambaan mertua yang sedang duduk di kursi ruang tunggu.
''Kamu dari mana aja?'' tanya Indra.
''Em tadi aku ke toilet,'' ucap Ana berbohong.
''Kita masuk yuk, Nino mau ketemu sama kita semua,'' ajak Kevin.
Mereka pun segera masuk ke dalam ruang rawat Nino. Di sana ada Lufi yang setia di samping Reno.
__ADS_1
''Ehmm yang udah jadian nih yee,'' ledek Lukman.
''Jangan lupa PJ nya,'' sambung Indra.
''Jangan khawatir, setelah aku sembuh, aku akan traktir kalian makan sepuasnya,'' ucap Nino.
''Ahh siapp mantul nih kalo kayak gini,'' ucap Indra.
Mereka pun bersenda gurau bersama-sama. Lufi terlihat sangat mencintai Nino. Buktinya sejak tadi ia tak bangkit dari duduknya. Ia terus menggenggam tangan Nino. Saat makan pun Lufi menyuapi Nino dengan telaten. Ahh so sweet sekali kelihatannya😍.
''Mereka so sweet sekali ya,'' ucap Kevin di dekat telinga Ana.
''Begitulah jika pasangan saling mencintai,'' ucap Ana.
''Tidak sepertiku,'' batin Ana.
''Bagaimana kalau kita seperti itu,'' ucap Kevin setengah berbisik. Ana langsung menoleh ke arah Kevin.
''Nggak lucu Kak!'' ucap Ana.
''Selalu saja seperti itu. Kapan sih An kamu tau jika aku itu mencintaimu,'' batin Kevin kesal.
''Aku tau Kak Kevin tertarik denganku sejak dulu. Tapi maaf, di hati ini sudah ada satu nama yang tak bisa di hapus sampai detik ini,'' batin Ana tersenyum miris.
''Cari cewek yuk, biar bisa kayak mereka,'' ucap Indra.
''Kak Indra kan tampan, pasti banyak cewek yang mau sama Kak Indra,'' ucap Ana.
''Iya banyak cewek yang suka sama aku. Tapi aku hanya sukanya sama kamu gimana dong,'' ucap Indra bercanda.
''Ndraaaa,'' ucap Kevin menatap Indra dengan tatapan tajam.
''Ampun ampun. Cuma bercanda juga,'' ucap Indra kesal.
*
Sementara di ruang rawat yang lain.
''Gimana dengan rencana Bapak dan Ibu, apa kamu menyetujuinya?'' tanya seseorang paruh baya.
''Setuju tidak setuju apa aku bisa menolak?'' tanyanya.
''Ini semua demi kebaikan bersama Fad,'' ucap Bapaknya.
''Iya iya, Fadil akan lakukan apa yang sudah menjadi rencana Bapak dan Ibu,'' ucap Fadil lesu.
''Bapak tau, kamu pasti tidak akan mengecewakan Bapak dan Ibumu,'' ucap Bapak Fadil.
''Semua akan aku lakukan demi kalian,'' ucap Fadil.
*
*
__ADS_1
Kira-kira Fadil mau ngapain yak?🤔