Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 41 PGD


__ADS_3

Uhuk uhuk uhuk.


Ana tersendak makanan yang baru saja ia telan. Leon segera memberikan minum kepada Ana.


''Minumlah, makan yang pelan An,'' ucap Leon.


Huh huh huh, nafas Ana tersengal sengal.


''Kakak tadi bicara apa?'' tanya Ana memberanikan diri.


''An, bukankah kita masih saling mencintai? Kenapa kita tidak ke jenjang yang lebih serius saja. Aku mencintaimu An,'' ucap Leon dengan serius.


''Apa seperti ini cara CEO perusahaan ternama menyatakan cintanya?'' batin Ana.


''Em maksudnya apa ya Kak?'' tanya Ana.


''Aku ingin kau menikah denganku,'' ucap Leon.


''Apakah Kakak sedang bercanda?'' tanya Ana yang tak mempercayai ucapan Leon.


''Apa mukaku seperti orang yang sedang bercanda?'' tanya Leon balik. Ana hanya diam, ia tak mengindahkan kata Leon.


''An,'' Leon meraih tangan Ana yang berada di atas meja, Leon menggengamnya dengan lembut.


''Aku mencintaimu An, cinta ini masih sama seperti 1 tahun yang lalu. Bahkan semakin aku ingin melupakanmu, kamu selalu datang ke dalam fikiranku. Aku bukanlah lelaki yang romantis seperti lelaki kebanyakan, tapi percayalah jika aku sangat mencintaimu,'' ucap Leon.


Ana bingung ingin menjawab apa. Hatinya senang mendengar ucapan Leon. Ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan.


''Aku, aku---''


''Kenapa An?''


''Aku belum siap Kak jika harus ke jenjang pernikahan. Aku ingin kita saling mengenal satu sama lain dulu. Aku masih ingin menyelesaikan studyku, lalu bekerja dan mendapatkan banyak uang. Aku ingin membahagiakan orang tuaku dulu Kak,'' ucap Ana.


''Baiklah, kita bisa saling mengenal dulu. Mulai sekarang kamu milikku. Tak ada yang boleh mendekatimu apalagi menyentuhmu An,'' ucap Leon.


''Belum apa-apa udah nggak boleh ini itu,'' gerutu Ana.


''Jadi kamu mau aku bebasin gitu? Ya udah nggak usah sama aku kalau begitu,'' ucap Leon kesal.


''Beneran nggak jadi sama Kakak. Oke,'' ucap Ana senang.


''An,'' ucap Leon dengan tatapan tajam.


''Iya iya bercanda juga,'' ucap Ana memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, Ana dan Leon kembali ke kamar rawat Lufi. Wajah bahagia terpancar dari keduanya. Tak sia-sia selama hampir 2 tahun mereka berpisah jika akhirnya mereka bersama seperti ini.


Ceklek.


Pintu ruang rawat di buka oleh Leon. Disana Lufi terlihat sedang menangis di atas tempat tidurnya.


''Fi kamu kenapa?'' tanya Leon khawatir.


''Kakak dan Ana bohong kan jika Nino baik-baik saja? Nino kritis kan Kak. Bener kan?'' tanya Lufi yang berlinang air mata.


''Fi dengerin Kakak---''


''Aku nggak akan percaya lagi pada kalian berdua. Kalian memang cocok, sama-sama pembohong!'' ucap Lufi.


''Fi, aku hanya ingin kondisi kamu stabil dulu. Aku nggak ingin kamu sakit lagi Fi,'' ucap Ana.


''Antar aku ke ruangan Nino, cepat!!'' pekik Lufi.


''Fi dengerin Kakak dulu. Kondisimu belum stabil Fi. Jangan turun dari ranjang dulu. Kakak mohon Fi,'' ucap Leon.


''Jika kalian tidak ada yang ingin membawaku kesana. Biar aku sendiri!'' ucap Lufi menyibakkan selimutnya.


''Kak, mending kita antar Lufi kesana. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama Lufi,'' ucap Ana.


''Kamu tau dari mana Fi jika Nino kritis?'' tanya Ana.


''Dari suster yang memeriksa aku tadi. Mereka membicarakan kondisi Nino yang semakin memburuk An. Aku takut, aku takut Nino kenapa napa. Sudah 2 kali An, dia berkorban untukku,'' Lufi menangis terisak, ia benar-benar merasa bersalah dengan kekasihnya itu.


''Kita berdoa yang terbaik aja ya buat Nino. Nino pasti kuat melewati semua ini,'' ucap Ana memeluk tubuh Lufi.


Selang beberapa menit, Leon datang membawa kursi roda dan 2 suster yang akan membantunya.


Leon mendorong kursi roda ke arah ruangan ICU. Di sana nampak ada sepasang suami istri paruh baya yang duduk di kursi.


''Permisi, apa Om dan Tante orang tuanya Nino?'' tanya Leon.


''Iya kami orang tuanya,'' ucap Papa Nino.


''Bagaimana kondisi Nino Om, Tante?'' tanya Lufi.


''Nino masih kritis. Benturan di kepalanya sangat keras. Apalagi sudah 2 kali ini Nino harus operasi di kepalanya,'' ucap Papa Nino.


''Om, Tante, saya minta maaf. Karena saya Nino jadi seperti ini,'' ucap Lufi menangis di depan orang tua Nino.


Mama Nino mendekat. ''Tidak ada yang salah Nak, Nino menyelamatkan orang yang sangat di cintainya. Bukankah tugas laki-laki harus melindungi perempuannya?'' ucap Mama Nino.

__ADS_1


''Jika saya tidak ceroboh, Nino tidak akan seperti ini Tante,'' ucap Lufi.


Mama Nino mengelus rambut Lufi. ''Sudah, jangan menyalahkan diri sendiri. Ini semua sudah takdir Nak,'' ucap Mama Nino sabar.


''Apa boleh saya menjenguk Nino Tante?'' tanya Lufi.


''Boleh, siapa tau nanti Nino bangun dari komanya,'' ucap Mama Nino.


''Terima kasih Tante,'' ucap Lufi.


Leon mendorong kursi roda Lufi ke dalam ruangan ICU.


Lufi menoleh ke belakang. ''Tinggalkan kami berdua Kak,'' ucap Lufi.


''Baiklah, jika ada apa-apa beritahu kami,'' ucap Leon meninggalkan Lufi yang duduk di kursi roda di samping blankar milik Nino.


Leon dan yang lain menatap Lufi dari kaca. Lufi terlihat menangis di dalam ruangan. Sakit kaki dan tangannya tak seberapa, ketimbang sakit yang di rasakan oleh Nino saat ini. Alat bantu ada di mana-mana, Lufi rasanya ingin sekali menggantikan Nino di atas blankar itu.


''No, maafin aku. Seharusnya aku yang ada di atas sini. Maafin aku, karna kecerobohanku kamu menjadi seperti ini. Bangun No, aku merasa bersalah jika kamu tidak bangun,'' ucap Lufi sambil terisak.


Tak ada pergerakan sama sekali. Nino masih setia menutup matanya. Lufi dengan setia menggenggam tangan Nino dan meletakkan kepalanya di dekat tangan Nino.


''Perjalanan kita masih panjang No. Kamu sendiri kan yang bilang jika ingin menghalalkanku setelah lulus nanti. Aku akan tetap menunggu janjimu No. Aku berharap kamu nggak akan mengingkari janjimu itu,'' ucap Lufi.


Ana meneteskan air matanya saat melihat Lufi yang begitu terpukul saat mengetahui kondisi Nino yang kritis.


''Jangan menangis,'' Leon merangkuk pundak Ana, ia juga menghapus air mata Ana yang mengalir di pipinya.


''Udah dong An. Kamu jelek kalau menangis seperti ini,'' ucap Leon.


''Apaan sih,'' Ana kesal. Ia segera pergi dari dekat Leon. Ana berjalan meninggalkan Leon yang menatapnya dari jarak jauh.


''Mau kemana sih dia. Kalau ngambek gitu kenapa tambah cantik sih,'' gumam Leon pelan.


Ana terus berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit. Entah mengapa hatinya kesal saat Leon berkata jika dirinya jelek.


''Dasar singa nyebelin,'' gerutu Ana.


*


*


Mana hadiahnya untuk Leon dan Ana yang udah jadian guys.


Jangan lupa bunga dan kopi untuk mereka berdua yaaa😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2