
''Ngapain kamu di sini?'' tanya Leon dengan tatapan tak suka.
''Aku? Di sini ngapain? Ya terserah aku dong mau ngapain. Apa urusannya denganmu?'' ucap Axel membuat Leon naik darah.
''Sayang, udah selesai makannya? Kita pulang yuk. Mas lelah nih,'' ujar Axel menarik pinggang Ana agar lebih dekat dengannya.
''Heyy, apa kamu bilang, Sayang? Kamu manggil calon istri orang dengan sebutan sayang. Apa sudah putus urat malumu?'' tanya Leon marah.
''Apa kamu keberatan aku panggil sayang?'' kali ini Axel bertanya kepada Ana. Ana bingung harus menjawab apa, ia hanya menggelengkan kepalanya pelan.
''Dia saja nggak keberatan lo. Kenapa kamu yang protes,'' ujar Axel santai.
''An---''
''Cukup Mas!''
''Kamu kenapa sih?'' tanya Leon heran.
''Aku nggak pa-pa. Ayo Mas kita pergi dari sini,'' Ana menarik tangan Axel, namun Leon segera melepaskan tautan tangan mereka.
''Kamu itu apa-apaan sih An. Kamu itu milikku, kenapa kamu malah ngajakin dia?'' Leon marah kepada Ana.
''Hubungan kita sudah berakhir Mas. Kamu juga sudah menikah dengan orang lain,'' ucap Ana datar.
''Sebentar lagi akan ceraikan dia, karna sebentar lagi dia akan melahirkan. Tunggu beberapa bulan lagi dan aku akan menikahimu An,'' ucap Leon memelas.
''Maaf, aku nggak bisa!'' tolak Ana.
''Apa maksudmu?'' Leon mengeryitkan dahinya.
''Lihatlah,'' Ana memperlihatkan jari yang ada di tangan kanannya, di sana ada cincin yang tersemat di jari manisnya.
''Maksudnya apa An?'' tanya Leon bingung.
''Aku sudah menikah, dan Mas Axel adalah suamiku. Jadi jangan pernah ganggu aku lagi Mas,'' Ana menarik tangan Axel lagi lalu mereka keluar dari cafe itu setelah meletakkan uang ratusan ribu.
Leon diam mematung mencerna ucapan Ana barusan. Namun ia segera sadar dan mengejar Ana lagi.
''Tunggu An!'' Leon menghentikan langkah mereka saat mereka sudah sampai di parkiran.
Ana memejamkan matanya sejenak lalu ia menghembuskan nafasnya kasar.
''Kamu bercanda kan An. Aku tau kamu bercanda, kamu hanya ingin menghindar dariku kan?'' Leon tak percaya begitu saja dengan ucapan Ana.
''Leon-Leon apa kita terlihat bercanda? Kita sudah menikah Le. Jadi jangan pernah ganggu rumah tangga kami lagi,'' ucap Axel.
''Tutup mulutmu! Ahh aku tau, kamu hanya menikah bohongan kan sama dia agar aku sakit hati kan An. Begitukan?'' ucap Leon.
''Lihat ini!'' Axel memperlihatkan wallpaper pada ponselnya saat Axel mencium kening Ana setelah ijab qabul kemarin.
__ADS_1
''Bang$attttt,''
Bug
Bug
Bug
Bogeman mentah Leon layangkan kepada Axel. Axel yang memang belum siap menerima bogem mentah pun mengerang kesakitan.
''Cukup Leon cukup! Apa kamu sudah gila ha?'' tanya Ana menatap Leon dengan geram.
Leon tersenyum kecut, Ana tak pernah memanggilnya hanya dengan sebutan nama tapi saat ini,,, ah sudahlah.
''Kamu nggak papa kan Mas?'' Ana membangunkan Axel yang tersungkur di tanah. Axel memegang perutnya yang lagi-lagi terkena bogeman dari Leon.
''Aku nggak pa-pa sayang,'' ucap Axel menahan sakit di perutnya.
''Kita pulang aja ya. Nggak usah meladeni orang kurang waras ini,'' gumam Ana melihat kearah Leon dengan tatapan kesal.
Axel dan Ana masuk ke dalam mobil, mereka segera meninggakan cafe itu. Leon hanya menatap kepergian mereka dengan hati yang hancur. Kekasih yang selama ini sangat ia cintai ternyata sudah mempunyai suami.
Di sepanjang perjalanan Axel nampak diam dan fokus pada jalanan. Perutnya yang terasa nyeri ia tahan agar Ana tak merasa bersalah kepadanya.
''Mas,'' panggil Ana.
''Sakit ya Mas?'' tanyanya lagi.
''Enggak!'' ucap Axel dengan muka datar.
''Mas Axel marah ya sama aku?'' tanya Ana pelan. Ia sudah bisa menebak jika Axel marah dengannya.
''Enggak!''
Ana mengurungkan niatnya bertanya lagi.
Setelah sampai di kos, Axel masuk begitu saja ke dalam kamar tanpa menunggu Ana. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi.
''Oh shitt. ****** tuh Leon, ahhh nyeri sekali,'' Axel menatap perutnya yang terasa sangat sakit. Ia berkali-kali menghembuskan nafas panjangnya agar berkurang rasa sakitnya.
Tok tok tok.
''Mas! Mas Axel nggak pa-pa kan?'' tanya Ana di balik pintu. Axel hanya menjawabnya dengan deheman.
Selang beberapa menit Axel keluar dari dalam kamar mandi tanpa memakai baju. Ana langsung membuang mukanya, ia benar-benar gugup melihat Axel tanpa baju seperti itu.
Axel merebahkan tubuhnya di atas kasur, lalu ia memejamkan matanya.
''Mas,'' Ana duduk di samping Axel.
__ADS_1
''Hem,''
''Mas Axel kenapa sih? Mas Axel marah sama aku? Aku nggak sengaja ketemu dia Mas,'' ucap Ana menggoyang-goyangkan tubuh Axel.
''Bukankah ini salah satu alasan kamu tetap bekerja di sini,'' ucap Axel yang masih memejamkan matanya.
''Enggak Mas. Aku nggak tau kenapa dia juga ada di sini,'' ucap Ana serius.
Greb.
Axel menarik tubuh Ana. Dan posisi mereka saat ini Ana berada di bawah kungkungan Axel.
''Ma Mas Axel mau ngapain?'' Ana jelas gugup saat Axel berada di atasnya.
''Mau bikin anak biar Leon percaya kalau kamu udah nikah!'' ucap Axel.
''Ta tapi Mas,,,''
Axel mencium bibir Ana yang s*xy itu dengan lembut.
''Gimana? Mau apa enggak?''tanya Axel menggoda Ana.
''Ak aku belum siap Mas,'' ucap Ana pelan.
''Terus siapnya kapan? Udah 3 hari menikah loh sayang,'' ucap Axel mencium pipi Ana lalu turun ke leher.
''Akhhh Mas geli. Jangan seperti itu. Beri aku waktu 1 bulan,'' ucap Ana.
Axel menggelengkan kepalanya. ''Kelamaan sayang,'' ucap Axel.
''Cuma 1 bulan Mas. Aku akan memantapkan hatiku terlebih dulu,'' ucap Ana.
''Baiklah. Aku harap kamu segera mencintaiku,'' ujar Axel merebahkan tubuhnya di samping Ana. Ana langsung menghembuskan nafas panjangnya.
*
Di lain tempat, Saat ini Leon tengah melihat keindahan kota Bandung di lantai atas tempat kamar hotelnya berada. Ia berada di Bandung beberapa hari yang lalu sebelum Ana dan Lufi wisuda.
''Aku nggak nyangka, secepat itu kamu melupakan aku,'' gumamnya.
''Aku bahkan selalu menjaga hatiku hanya ada namamu seorang. Tapi kenapa kamu dengan mudahnya menikah dengan orang lain.''
''Apa kamu mau membalas dendam kepadaku karna aku menikah dengan wanita lain? Tapi pernikahan ini hanyalah sementara An. Aku bahkan tak pernah tidur seranjang dengannya. Aku menikahinya hanya sebuah tanggung jawab dan janji semata. Bukan karna aku mencintainya. Setelah anak itu lahir pun aku akan segera menceraikan dia. Tapi kamu seakan-akan tuli dengan penjelasan yang aku berikan kepadamu.''
''Akhhhhhh.''
Brukk pyarr.
Semua barang-barang yang ada di atas meja menjadi berantakan di atas lantai. Pasalnya Leon membalikkan meja tersebut dengan mudah. Hatinya tak terima dengan semua ini. Apalagi Ana menikah dengan musuh bebuyutannya.
__ADS_1