Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 30 PGD


__ADS_3

Hari pun silih berganti, dan bulan sudah menginjak bulan yang baru. Namun berbeda dengan hati Ana yang masih mengharapkan 1 nama.


Ana masih mengharapkan kehadiran Leon di sisinya. Walaupun itu tak mungkin, namun Ana selalu berdoa agar bisa di pertemukan kembali dengan Leon.


Bibir bisa berbohong, namun hati tak bisa di ajak berbohong. 6 bulan yang lalu Leon pergi dari kehidupan Ana, Ana mengisi hari-harinya hanya sibuk kuliah dan bekerja. Ana juga masih berstatus kekasih Fadil saat ini. Hubungan mereka hanya jalan di tempat, walaupun Ana berusaha membuka hatinya untuk Fadil, namun masih ada 1 nama di sana yang rasanya tak ingin di gantikan dengan siapa pun.


Hari ini hari terakhir Fadil bekerja di Cafetaria, walaupun rasanya berat meninggalkan Ana bekerja sendiri di sana, namun Fadil mempunyai pilihan yang sulit. Fadil akan melanjutkan usaha toko sembako milik keluarganya. Selama ini toko sembako milik keluarga Fadil di kelola oleh Kakak Fadil, namun saat ini Kakak Fadil sedang sakit keras. Maka dari itu Fadil yang harus turun tangan mengurus toko sembako itu.


''Jaga diri baik-baik sayang. Aku tak bisa melindungimu seperti biasanya lagi. Jangan nakal ya,'' ucap Fadil mengacak rambut Ana pelan.


Biasanya setiap hubungan pasti di dasari oleh suka sama suka, namun berbeda dengan mereka, hanya Fadil yang sangat mencintai Ana.


''Iya Kak.''


''Aku pamit dulu ya. Cepet istirahat, aku menyayangimu An,'' ucap Fadil.


''Aku juga Kak. Hati-hati,'' ucap Ana.


Fadil melajukan motor maticnya di jalanan yang sepi. Ana segera masuk ke dalam kosnya.


''Huh, lelah sekali,'' Ana merebahkan tubuhnya di kasur busa miliknya.


Tringggg tringgg tringggg.


Ponsel Ana berbunyi nyaring. Ana segera mengambil ponselnya yang berada di dalam tas.


''.........''


''Apa??? di rumah sakit mana Fi?'' tanya Ana khawatir.


''.........''


''Oke, aku akan segera kesana!'' Ana langsung bergegas keluar dari kamarnya lagi. Tak lupa ia mengunci kamarnya.


''Aduhh jam segini mana ada ojek,'' gumam Ana.


Ana berjalan kaki hampir 2 km namun ia tak melihat motor atau mobil yang lewat sana.


''Kalau begini kapan aku sampainya,'' gerutu Ana. Ana masih terus berjalan hingga sampai akhirnya ia melihat ada orang-orang yang tengah ronda.


''Aku minta tolong orang di sana aja deh,'' Ana pun segera menyeberang jalan. Namun saat Ana masih sampai di tengah-tengah tiba-tiba ada mobil mewah yang hampir menabraknya.


Ckittttttt.


''Aaaaaaaaaaaaa,'' Ana berteriak histeris. Namun mobil mewah tadi tak sampai menabraknya.


''Hah hah hah, aku kira aku tadi akan mati,'' ucap Ana memegang dadanya.

__ADS_1


Orang-orang yang mendengar teriakan Ana pun langsung mendekat.


''Neng, Neng nggak pa-pa?'' tanya Orang-orang tadi.


''Saya nggak pa-pa Pak,'' ucap Ana.


Pengendara mobil mewah itu pun turun.


''Mbak, mbak nggak pa-pa?'' tanyanya.


''Alhamdulillah saya nggak apa-apa Mas,'' ucap Ana.


''Lain kali kalau mau menyebrang hati-hati Mbak. Lihat kanan kiri,'' ucapnya.


''Maaf Mas, saya memang salah,'' ucap Ana.


''Mbaknya mau kemana malam-malam begini, biar saya antar, sebagai permintaan maaf saya yang hampir mencelakai nyawa Mbak,'' ucap lelaki itu.


''Saya mau ke RS.Husada Mas. Apa saya nggak merepotkan?'' tanya Ana.


''Kebetulan saya juga mau kesana. Ayo,'' ajaknya.


Ana segera masuk kedalam mobil mewah tersebut. Hening, tak ada yang bersuara. Namun Ana curi-curi pandang dengan lelaki yang baru saja di temuinya.


''Dia sepertinya orang baik. Mana ada orang jahat setampan dia,'' batin Ana.


''Anastasya, panggil saja Ana,'' ucap Ana.


''Oh, aku Axel,'' ucapnya.


''Mungkin dia seumuran dengan Kak Leon,'' batin Ana.


''Ih kenapa sih aku malah mikirin Kak Leon,'' batin Ana lagi.


''Mas Axel mau ke RS juga?'' tanya Ana.


''Iya, ada pasien yang harus aku tangani,'' ucap Axel.


''Wah Mas Axel dokter ya?'' tanyanya.


''Iya,'' ucap Axel tersenyum ramah.


''Wahh, nasibku selalu beruntung. Aku punya sahabat yang seperti saudara, aku mempunyai teman-teman yang sangat solid, dan aku juga di kelilingi lelaki tampan dan tajir. Akhh mikirin apa sih aku ini,'' batin Ana.


Sesampainya di RS, Ana segera masuk ke dalam ruangan yang sudah di beritahu oleh Lufi tadi. Sebelumnya ia bertanya kepada suster penjaga di sana.


Ana melihat Lufi yang sedang duduk di kursi ruang tunggu sambil menangis. Di sana juga ada geng dambaan mertua.

__ADS_1


''Fi, gimana keadaan Nino?'' tanya Ana.


''Nino kecelakaan An. Ini semua salahku,'' ucap Lufi menangis pilu.


''Ada apa sih Kak sebenarnya?'' tanya Ana yang bingung tak tau apa-apa.


''Nino kecelakaan An. Dia kehilangan banyak darah. Dia masih di periksa di dalam,'' ucap Kevin.


''Gimana ceritanya Kak?'' tanya Ana. Kevin menghela nafasnya panjang sebelum bercerita.


''Nino menyatakan cintanya kepada Lufi. Namun Lufi menolaknya, Lufi tak mau jika ada cinta di dalam persahabatan. Lufi tak mau persahabatan kita hancur An. Nino frustasi, tadi dia ikut balap liar, motor Nino tiba-tiba oleng dan menabrak pohon di pinggir jalan,'' ucap Kevin.


''Astagfirullah,'' ucap Ana dengan mata berkaca-kaca.


Ana melihat Axel yang ingin masuk ke dalam ruangan IGD, ia segera menghampiri Axel.


''Mas Axel, tolong selamatkan nyawa sahabat saya Mas,'' ucap Ana memohon.


''Kamu tenang dulu ya. Aku akan melakukan yang terbaik untuk pasien,'' ucap Axel meninggalkan Ana dan sahabat-sahabatnya.


''Kamu mengenalnya?'' tanya Kevin penasaran.


''Iya, baru saja Kak,'' ucap Ana.


Nino segera di tangani oleh tim medis di RS itu. Lufi tak henti-hentinya menangis, walaupun hatinya juga mempunyai perasaan yang sama dengan Nino, namun ia tak mau merusak persahabatan mereka. Lufi takut jika suatu saat mereka putus, persahabatan mereka pun tak akan terjalin lagi.


''Ya Allah, selamatkan Nino, aku mencintainya, sangat-sangat mencintainya. Aku janji jika dia membuka mata, aku akan menerima cintanya,'' batin Lufi.


''Udah Fi jangan nangis terus. Mending kita sholat dan berdoa kepada Nya agar Nino sehat kembali,'' ucap Ana. Lufi menganggukkan kepalanya pelan. Lufi mengikuti Ana pergi ke mushola RS.


Setelah Ana dan Lufi selesai sholat berjamaah di mushola masjid, mereka segera kembali ke rungangan Nino. Bertepatan saat Dokter Axel keluar dari ruangan.


''Gimana Dok keadaan Nino?'' tanya Lufi.


''Benturan di kepalanya sangat keras, dan pasien juga kehilangan banyak darah. Namun jangan khawatir, pihak rumah sakit masih mempunyai 2 kantong darah untuk pasien,'' ucap Axel.


''Nino nggak mati kan dok?'' tanya Lufi konyol.


Ingin rasanya mereka semua tertawa dengan pertanyaan Lufi. Namun waktunya tidak pas untuk tertawa.


''Tidak kok. Berdoa saja yang terbaik untuk pasien,'' ucap Axel.


''Terima kasih Dok.''


''Terima kasih Mas Axel,'' ucap Ana. Axel mengangguk dan tersenyum kepada Ana.


*

__ADS_1


*


__ADS_2