
Ana masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Saat ini Leon tengah berganti pakaian di kamar mandi. Setelah memakai kaos berwarna putih dan celana pendek berwarna hitam, Leon keluar dari kamar mandi. Rambut yang masih basah dan baju santai yang ia pakai membuat pesona seorang Leon keluar.
''Buka mata kamu An,'' ucap Leon.
Perlahan Ana membuka matanya. Ia melihat Leon yang sudah berganti pakaian. Seperdetik Ana terpesona dengan kekasih hatinya yang saat ini ada di depannya. Sungguh sempurnanya ciptaanmu, batin Ana.
''Kenapa, tampan?'' tanya Leon sambil menyugar rambutnya ke belakang.
''Kita berangkat sekarang yuk Mas,'' ajak Ana tanpa menjawab ucapan Leon.
Mereka keluar dari kamar Leon bersama-sama. Bertepatan saat Lufi juga keluar dari kamarnya.
''Kalian mau kemana?'' tanya Lufi menatap Ana dan Leon bergantian.
''Kita mau keluar sebentar,'' ucap Leon menggandeng tangan Ana.
''Ciee, yang mau kencan,'' ucap Lufi.
''Anak kecil nggak boleh pengen ya,'' ejek Leon.
''Sebentar lagi Nino juga datang kok. Aku juga bisa jalan-jalan seperti kalian kalii,'' ucap Lufi bersungut kesal.
''Bagus deh kalau gitu. Jadi kamu nggak akan ngintilin kita berdua,'' ucap Leon.
Leon dan Ana menuruni anak tangga lebih dulu. Sementara Lufi berjalan di belakangnya.
''Kalian mau jalan-jalan kemana?'' tanya Lufi kepo.
''Kamu nanyak? Kamu bertanyak-tanyak? Hahaha nggak akan aku kasih tau,'' ucap Leon tertawa renyah.
''Hihhh pengen aku getok tuh kepala. Kamu nanyak? Kamu bertanyak-tanyak?'' ucap Lufi menirukan mimik wajah Leon.
Lufi syok saat mereka sampai di ruang tamu. Ruang tamu yang awalnya rapi sekarang seperti kapal pecah.
''Asstaagaaaaa. Ini apaa?'' pekik Lufi.
__ADS_1
''I ini bajuku Fi,'' ucap Ana tak enak hati kepada Lufi karna sudah membuat rumahnya berantakan.
''Baju kamu? kenapa di sini? Ini baju baru kan?'' pertanyaan terus di lontarkan oleh Lufi.
''Iya, ini masih baru Fi. Mas Leon yang membelikan,'' ucap Ana.
''Ya ampun Kak. Kakak mau jualan baju? Kenapa beliin Ana sebanyak ini?'' Lufi terheran-heran dengan Kakak nya itu. Pasalnya tidak hanya beberapa helai baju, namun ruang tamunya kini sudah seperti toko pakaian.
''Biar dia nggak nerima pemberian dari lelaki lain,'' ucap Leon santai.
''Apakah ini bisa di katakan jika Kakak sedang cemburu?'' selidik Lufi.
''Sudahlah. Yuk kita berangkat!'' ucap Leon, ia tak menjawab ucapan Lufi. Leon segera menggandeng tangan Ana sampai di dekat mobil dan membukakan pintu untuk Ana.
''Kalau seperti ini kenapa dia romantis sekali,'' gumam Ana tersenyum saat melihat Leon yang berbeda dengan biasanya. Leon memutari mobilnya, lalu ia segera masuk dan duduk di kursi kemudi.
Mereka berdua berangkat untuk kencan pertama kalinya.
''Kamu pengennya kemana sayang?'' tanya Leon yang tengah menggenggam tangan kanan Ana.
''Kemana aja yang penting sama kamu Mas,'' ucap Ana tersenyum manis ke arah Leon.
''Kenapa masih kerja sih An. Kamu itu calon Nyonya Lewis. Udah ya kamu berhenti kerja dan fokus dulu sama kuliah kamu,'' ucap Leon.
''Nggak bisa dong Mas. Kuliah aku juga butuh biaya, aku nggak mau selalu merepotkan kedua orang tuaku. Apalagi mereka hanya seorang petani biasa, menyekolahkan aku di sini pasti sangat berat untuk mereka.'' Ucap Ana.
''Aku yang akan membiayai semua kebutuhanmu sayang. Aku nggak tega lihat kamu capek-capek kayak gitu. Apalagi kamu selalu pulang hampir tengah malam,'' ucap Leon dengan raut wajah khawatir.
''Mas Leon nggak usah khawatir. Aku sudah melewatinya lebih dari 3 tahun Mas. Jadi udah biasa bagiku,'' Ana tersenyum ke arah Leon. Ia meyakinkan Leon jika dirinya baik-baik saja.
''Ya sudahlah. Tapi kamu harus janji, setelah lulus kamu harus keluar dari cafe itu. Jika kamu mau bekerja, bekerjalah di perusahaan keluarga Lewis,'' ucap Leon.
''Iya Mas,'' ucap Ana.
''Tapi setelah kita menikah, kamu sudah tidak boleh kerja lagi,'' ucap Leon yang tidak bisa di negosiasi.
__ADS_1
''Tapi Mas,,,''
''Jika kamu bekerja untuk membalas jasa orang tuamu. Aku yang akan membalasnya, karna setelah kita menikah, orang tuamu orang tuaku juga. Apalagi aku sudah tidak mempunyai keduanya,'' ucap Leon dengan wajah yang sendu jika mengingat kedua orang tuanya. Apalagi ia belum memberikan kebahagiaan untuk orang yang ia sayang.
''Mas,'' Ana mengusap lengan Leon pelan, ia menyandarkan kepalanya di bahu Leon yang tengah menyetir.
''Kita doakan agar mereka tenang di sana Mas. Mereka tidak butuh apapun selain doa dari anak yang sholeh dan sholehah Mas,'' ucap Ana kembali.
Leon menganggukkan kepalanya. ''Aku beruntung memiliku wanita sepertimu sayang. Kamu telah mengubah hidupku yang selama ini abu-abu menjadi penuh warna,'' ucap Leon mencium tangan Ana.
''Aku juga beruntung mempunyai kekasih yang tampan dan kaya raya seperti dirimu,'' ucap Ana mengerlingkan sebelah matanya. Mereka pun tertawa bersama-sama di dalam mobil.
Mobil yang mereka tumpangi terus melaju entah kemana tujuannya. Namun yang pasti mereka berdua nyaman seperti ini. Menghabiskan waktu berdua dengan mengobrol santai di dalam mobil. Tak perlu tempat mewah, jika di dalam mobil saja bisa membuat bahagia kenapa tidak!.
Jam pun hampir menunjukkan pukul 5 sore, mereka baru saja sampai di kediaman keluarga Lewis. Ana turun lebih dulu, setelah itu Leon menyusul. Mereka berjalan bersama-sama menuju pintu utama. Mereka masuk ke dalam rumah, terlihat sepi tak ada satu orang pun di sana.
''Lhoh Mas, kemana semua bajuku?'' tanya Ana yang sampai ruang tamu tak melihat bajunya ada di sana. Ruangan yang terakhir kali seperti kapal pecah saat ini menjadi ruangan yang rapi seperti biasanya.
''Mungkin udah di pindahin sama Bibi,'' ucap Leon enteng.
Aan segera berjalan ke kamar tamu di mana selama ini ia tidur di sana.
''Mas Leonnn!'' pekik Ana.
''Ada apa?'' tanya Leon berjalan cepat ke kamar tamu setelah mendengar pekikan Ana.
''Mas, kenapa barang-barangku nggak ada semua?'' ucap Ana panik.
''Oh iya aku lupa, kamar kamu sekarang ada di lantai atas, dekat kamarku. Semua barang-barangmu sudah di pindahkan ke sana,'' ucap Leon.
''Pindah? Ke lantai atas? Memangnya kenapa?'' tanya Ana bingung.
''Aku nggak mau An jauh-jauh dari kamu. Aku ingin kamu selalu berada di dekatku,'' ucap Leon memeluk tubuh Ana dari belakang.
''Mas kita sekarang sudah berada di rumah yang sama, bukan seperti dulu yang berjauhan,'' ucap Ana tak habis fikir dengan jawaban Leon.
__ADS_1
*
*