Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 94 PGD


__ADS_3

Axel mengeryitkan dahinya.


''Apa Mas Axel akan menceraikan aku?'' tanya Ana sambil mata terpejam.


''Maksud kamu apa?'' tanya Axel yang bingung dengan pertanyaan Ana.


''Apa Mas Axel akan menceraikan aku jika aku tidak memberikan hak Mas Axel?'' tanya Ana kembali.


''Hem, tergantung sih,'' ujar Axel.


''Tergantung?'' beo Ana. Ia tak tau maksud Axel.


''Ya tergantung kamu nggak memberi hakku karna apa. Kalau kamu belum cinta sama aku, aku akan berusaha lebih untuk membuat kamu jatuh cinta dan kita bisa menjadi suami istri pada umumnya. Tapi, kalau kamu nggak memberi hakku hanya karna masih memikirkan orang lain yang jelas aku nggak terima dong. Sabar juga ada batasnya Yang,'' ujar Axel.


Hening.


Mereka berperang pada fikirannya sendiri-sendiri.


''Memangnya kamu udah siap jadi istriku seutuhnya?'' tanya Axel penasaran.


Ana mengangguk pelan. Bagaimana pun juga Axel suami sahnya. Dan dia sangat berdosa jika tak mau memberikan hak suaminya.


''Beneran?'' tanya Axel dengan wajah berseri-seri.


''I iya Mas,'' ucap Ana tertunduk.


''Kalau kamu belum siap nggak pa-pa kok. Aku akan menunggu sampai kamu siap,'' ucap Axel.


''Aku siap Mas,'' ucap Ana. Sebenarnya hatinya masih dilema. Namun ia tak mau menjadi janda hanya karna ia masih memikirkan mantan kekasihnya yang sudah beristri.


Axel hanya tersenyum tipis. Jantungnya juga ikut deg-deg an saat Ana siap untuk memberikan haknya.


''Nanti nangis?'' ejek Axel.


''Ihh enggak ya. Yang penting pelan-pelan,'' gerutu Ana.


''Iya sayang, habisin dulu makanannya,'' perintah Axel.


Hari pun semakin malam, namun Mereka berdua malah asik dengan pekerjaan masing-masing. Ana memegang buku tentang bisnis sedangkan Axel mempelajari tentang ilmu kedokteran. Tapi siapa yang tau, di balik buku itu ada ponsel yang menyala menelusuri halaman tentang malam pertama. Ya, itulah Axel. Ia benar-benar polos jika menyangkut hal yang seperti itu.


''Ehm, udah malam kamu nggak tidur?'' tanya Axel.


''I iya Mas,'' ucap Ana gugup.

__ADS_1


Axel menutup bukunya dan mematikan ponselnya. ''Tidur yuk,'' ajak Axel. Axel sebenarnya juga gugup, tapi ia juga ingin merasakan surga dunia seperti yang di ucapkan orang-orang.


Axel menghadap ke arah Ana yang juga tengah menghadapnya. Axel membimbing Ana membaca doa sebelum melakukan hubungan suami istri. Ana terharu? Jelas. Bagaimana tak terharu, ia menemukan sosok suami yang sholeh dan baik seperti Axel. Tapi Ana masih belum bisa move on dari mantan kekasihnya.


Bibir Axel mendekat ke arah Ana, Ana hanya memejamkan matanya. Gugup dan tak nyaman menjadi satu.


Cup.


''Aku tau kamu belum siap An. Maka dari itu aku nggak akan memaksamu melakukannya,'' ujar Axel mengelap keringat dingin yang mengalir di pelipis Ana. Axel tau jika Ana betul-betul belum siap.


Ana menghembuskan nafas panjangnya. ''Maafin Ana Mas,'' ucap Ana tertunduk.


''Nggak pa-pa. Aku tau ini berat untukmu. Tapi aku akan selalu setia menunggumu Honey,'' ucap Axel. Axel mengurungkan niatnya untuk melakukan hubungan suami istri saat ia melihat rasa tak nyaman dari istrinya.


''Makasih Mas, Ana akan berusaha lebih keras lagi untuk mencintai Mas Axel,'' ucap Ana memeluk tubuh suaminya dengan erat.


''Mas percaya sama kamu. Jangan rusak kepercayaan Mas ya. Mas sangat mencintaimu,'' ucap Axel tulus.


Setelah berbincang-bincang sedikit lama, akhirnya mereka pun terlelap ke dalam mimpinya.


*


Hari pun telah berganti. Hari ini Axel akan kembali ke Jakarta karna kondisi Mama Tari yang menurun.


''Iya Mas. Besok insyaallah aku akan menyusulmu ke Jakarta,'' ucap Ana.


''Iya kamu hati-hati,'' Sebelum pergi, Axel mencium dahi Ana. Ana pun mencium tangan Axel.


''Hati-hati Mas,'' ucap Ana. Axel lalu melajukan mobilnya menuju Jakarta, sedangkan Ana berangkat bekerja menggunakan taksi online.


*


Di sepanjang perjalanan, perasaan Axel mulai tak tenang. Hatinya gundah, ia memikirkan kondisi Mamanya yang katanya menurun.


Sementara di perusahaan, saat ini Ana menghadap Indra untuk meminta izin cuti beberapa hari karna ingin menjenguk seseorang yang sakit di Jakarta. Ia tak memberitahu Indra kalau ia sudah menikah dengan Axel.


''Oke, sekarang kamu boleh pulang ke Jakarta An. Tapi jangan lupa kembali lagi kesini,'' ucap Indra.


''Aku boleh pulang sekarang? Makasih ya Kak, Ana pasti balik lagi kesini kok. Kak Indra tenang aja,'' ucap Ana tersenyum bahagia.


Ana pun segera membereskan pekerjaannya. Ia tak menyangka akan menemukan bos yang sangat baik seperti sahabatnya ini.


*

__ADS_1


Saat ini Ana sudah berada di dalam bus. Ia tidak memberitahu Axel jika dirinya sudah berangkat menuju Jakarta. Ia akan membuat surprise untuk suaminya.


2 jam lebih 30 menit, Ana baru tiba di Jakarta. Ia segera memesan taksi menuju Rumah Sakit tempat mertuanya di rawat. Tak lupa ia membawa buah tangan untuk mertuanya.


''Mas Axel pasti kaget aku tiba-tiba sampai di Jakarta,'' gumamnya sambil tersenyum membayangkan ekspresi Axel.


Beberapa menit kemudian ia telah sampai di Rumah Sakit, ia segera turun dari taksi dan masuk ke dalam.


Tiba-tiba ada tangan yang menariknya.


Greb.


''Akhhhh,,,,''


Bibir Ana langsung di bungkam saat Ana ingin menjerit.


''An ini aku,'' suara itu sangat di kenal oleh Ana. Detak jantungnya seperti lari maraton saat itu juga.


Ana menoleh ke arah orang yang membungkamnya. Netra mata mereka bertemu. Ana melebarkan matanya saat orang yang di cintainya selama ini ada di hadapannya.


''An, aku merindukanmu,'' ucap Leon.


''Mas Leon ngapain di sini?'' tanya Ana.


''Nois melahirkan An,'' ucap Leon.


Ana berusaha tersenyum saat mendengar ucapan Leon. ''Selamat ya,'' ucap Ana sambil menyingkirkan tangan Leon yang berada di pundaknya.


''An, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu. Aku mohon dengarkan ucapanku sekali ini saja. Setelah itu aku berharap kamu meninggalkan suamimu,'' ucap Leon.


''Kamu udah gila ya Mas,'' ucap Ana tak menyangka dengan ucapan Leon.


''Ini, ini bukti bahwa aku tidak pernah tidur dengan Nois. Anak itu bukan anakku, dia hanya ingin memiliki hartaku saja, dan anak itu menjadi senjatanya,'' ujar Leon.


Ana pun membuka tes DNA yang di lakukan Leon kemarin. Ana melebarkan matanya karna hasilnya memang tidak ada kecocokan.


''Kamu udah percaya kan kalau aku tidak pernah menduakanmu. Aku benar-benar mencintaimu An,'' ucap Leon menggenggam tangan Ana.


Ana mematung di tempatnya. Ia merasa lega karna anak itu bukan anak Leon, namun ia juga tak bisa kembali lagi kepada Leon.


Mereka tak tau jika tak jauh dari mereka ada yang mendengar pembicaraan mereka dari awal.


*

__ADS_1


Hayo siapa ya yang denger pembicaraan antara Leon dan Ana😁


__ADS_2