Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Kesabaran


__ADS_3

Pagi yang cerah, matahari mulai menampakkan cahaya nya di sela sela tirai jendela kamar seorang gadis. Gadis itu adalah Sintya Bella. Hari ini Sintya dengan sangat malas berusaha berusaha bangkit dari tempat tidur walaupun sebenarnya mata nya masih mengantuk akibat tidak bisa tidur nyenyak semalam.


"Huuaahhh... Masih ngantuk, kalau tidur lagi nanti terlambat. Tapi kalau gak tidur masih ngantuk." Gumam Sintya sendirian.


Kemudian dia memilih langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya yang sudah terasa lengket.


Sambil bersenandung kecil Sintya langsung mengambil handuk menuju kamar mandi.


Setengah jam sudah berlalu, namun Sintya masih betah berlama-lama di dalam kamar mandi nya.


Sintya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah segar kembali. Dia langsung membuka lemari pakaian untuk mencari baju kaos yang akan di pakai nya nanti. Dia juga mencari celana jeans panjang kesukaan nya.


Walaupun penampilan wanita itu sederhana, namun banyak memikat hati para pria tampan.


Penampilan nya yang sederhana ini lah yang menjadi kesan tersendiri bagi sebagian besar laki laki. Dia terlihat cantik walaupun tanpa make up di wajah nya.


Penampilan nya begitu natural. Berbeda dengan wanita lain yang selalu tampil cantik dengan riasan makeup tebal di wajah nya.


Sintya hanya sarapan dengan sebuah roti dan satu gelas susu.


Kemudian dia beranjak meninggalkan tempat itu untuk menuju tempat kerja nya.


Tak butuh waktu yang lama bagi Sintya untuk sampai di tempat itu. Hanya membutuhkan waktu seperempat jam dengan berjalan kaki.


"Huff.. Akhirnya sampai juga." Gumam Sintya.


Dia berlari kecil menuju tempat penyimpanan barang dan menaruh tas nya di sana. Kemudian dia langsung menuju dapur untuk membantu yang lain membereskan semua nya.

__ADS_1


"Sin kok kamu kelihatan lebih fresh hari ini, lebih bahagia daripada yang kemarin." Leni akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"Gak papa kok Len, biasa aja perasaan." Jawab Sintya malu.


"Jujur aja kali Sin, kita kan sudah lama berteman. Aku juga tau bagaimana kamu." Leni terkekeh melihat tingkah Sintya yang tampak malu.


"Iya Len aku tau kok, aku benaran gak ada apa apa." Sintya langsung menuju ke arah meja yang belum tersusun rapi. Dia kemudian menyusun meja dan kursi sambil membersihkan nya.


Ternyata Leni yang masih penasaran pun mengekori nya dari belakang dan langsung berada di samping Sintya.


"Kamu lagi jatuh cinta ya Sin, atau dapat rezeki nomplok." Tebak Leni yang membuat wajah Sintya memerah.


"Kamu apaan sih Len, jangan ngerumpi mulu. Kerja gih sana, masih banyak yang belum dibersihkan." Sintya langsung melempar kain lap yang ada di tangan nya tepat di wajah Leni.


"Sintya.... Awas kamu ya.."Teriak Leni kesal yang langsung di sambut tawa oleh Sintya.


Setelah selesai membereskan meja, kursi dan juga bersih bersih, Sintya dan Leni membantu memasak makanan di dapur.


Tak butuh waktu yang lama bagi mereka berdua, akhirnya pekerjaan nya sudah beres. Mereka kini tinggal menunggu tamu yang berkunjung untuk makan atau hanya sekedar minum saja.


"Len ada tamu tuh meja nomor 3, tanya mereka mau makan apa." Sintya menunjuk ke arah meja itu.


"Siap bos." Jawab Leni bersemangat.


"Permisi pak, mau pesan apa? Silahkan di cek menu nya." Tawar Leni dengan lembut.


Kemarin saat Sintya bertemu Gilang, Leni memang tidak masuk kerja karena dia minta izin pulang kampung. Ibu nya sakit.

__ADS_1


Sambil sesekali melirik ke arah Sintya, orang itu tampak berfikir mau makan apa. Dia akhirnya menjawab dengan jawaban yang membuat Sintya agak ragu.


"Kami pesan semua makanan yang mahal di sini, asalkan gadis cantik itu yang mengantar nya." Jawab salah seorang dari mereka.


"Oke pak, di tunggu ya pesanan nya." Leni berlalu meninggalkan tempat itu menuju ke arah Sintya.


"Kata nya kamu yang ngantar, anterin tuh yang banyak biar makanan kita cepat habis." Kata Leni.


"Tapi Len aku .."


Perkataan Sintya langsung di potong oleh Leni, " Gak ada tapi tapian, gak papa kok." Leni berusaha menenangkan sahabat nya itu.


Leni bukan nya tidak tau apa yang terjadi dengan Sintya selama ini, tapi dia hanya berusaha untuk menenangkan hati sahabat nya itu. Itulah resiko jadi orang cantik.


Setelah beberapa saat berkutik di dapur, Sintya akhirnya menampakkan wajah nya dengan membawa beberapa menu favorit cafe mereka.


Dia kemudian meletakkan makanan itu di atas meja nomor 3. "Silahkan dinikmati pak, ini menu favorit cafe kami." Ucap Sintya lemah lembut.


"Makasih ya cantik, ternyata selain berwajah cantik kamu juga baik dan lemah lembut ya." Ucap salah satu dari mereka.


"Makasih pak, kalau gitu aku permisi dulu." Sintya menundukkan kepalanya sambil tersenyum dan langsung meninggalkan tempat itu.


"Iya silahkan.."


Begitu hari hari yang dilalui oleh Sintya di cafe itu, kadang ada yang baik dan banyak juga yang berniat jahat kepada Sintya.


Sintya hanya bisa pasrah dan bersabar karena kalau dia tidak bekerja, dia mau makan apa. Mencari pekerjaan di kota itu pun sangat susah bagi seorang Sintya yang hanya mempunyai ijazah SMA.

__ADS_1


Dia harus berjuang untuk bertahan hidup karena tidak ada lagi orang yang bisa membantu kalau bukan dirinya sendiri.


__ADS_2