
Di sebuah restoran mewah tampak seorang pria dan wanita yang sedang menikmati makan siang mereka sambil sesekali tersenyum kecil.
Mereka berdua sangat menikmati suasana saat ini. Karena bagi mereka momen seperti ini lah yang paling mereka tunggu selama ini.
Setelah selesai makan siang, Gilang mengajak Sintya istirahat sebentar di pinggir pantai. Kebetulan restoran tempat mereka makan siang berada di tepi pantai dengan pemandangan yang luar biasa indah nya.
Banyak orang yang duduk berpasangan di tepi pantai sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang menyejukkan hati dan jiwa mereka.
"Gimana menurut kamu? Tanya Gilang sambil tersenyum ke arah Sintya.
Melihat senyuman manis yang Gilang berikan kepada nya, Sintya merasa malu dan jantung nya pun berdetak dengan sangat kencang.
Sintya memilih untuk mengarahkan pandangan nya ke arah lain.
"Kamu kok diam aja Sin, aku kan nanya tadi gimana menurut kamu." Wajah Gilang mulai cemberut.
"Hmmm apa nya yang gimana?" Sintya balik bertanya.
"Ya itu... Hmm pemandangan nya gitu, bagus gak." Jawab Gilang asal. Dia sangat malu saat ini karena hampir aja mulut nya keceplosan.
"Ya bagus sih, tapi kalau siang hari gini udara nya sedikit panas kan." Sintya berusaha menetralkan rasa gerogi nya.
"Kamu suka gak sama tempat ini."
__ADS_1
Sintya tampak berfikir sebelum menjawab pertanyaan Gilang yang sangat mudah untuk dijawab itu. Namun Sintya merasa sangat sulit untuk menjawab nya karena rasa malunya yang berlebihan.
Gimana Sintya gak merasa malu, Gilang dari tadi selalu memperhatikan nya dengan senyuman manis yang membuat Sintya selalu rindu akan senyuman itu.
"Kok diam aja Sin, kamu gak suka ya tempat ini. Maaf aku gak tau kalau kamu gak suka, lain kali kita gak kesini lagi deh.. " Gilang merasa bersalah karena telah mengajak Sintya ke tempat itu.
Mendengar pernyataan Gilang yang seakan menyalahkan dirinya sendiri, Sintya langsung menjawab dengan cepat pertanyaan Gilang.
"Aku aku suka kok, tapi aku takut kalau gak ada lagi lain kali nya." Jawab Sintya jujur.
"Maksud kamu apa Sin?" Tanya Gilang penuh selidik.
"Oh gak papa kok Lang, lupain aja. Kayak nya waktu istirahat udah hampir habis deh. Kita kembali ke kantor yuk, nanti terlambat." Sintya langsung berdiri dan ingin meninggalkan tempat itu, namun secepat kilat dicegah oleh Gilang.
Kini tidak ada jarak di antara mereka berdua, Sintya berada di atas paha Gilang dan tangan Gilang memeluk tubuh Sintya.
Jantung mereka berdua berpacu dengan sangat kencang. Mungkin mereka berdua bisa merasakan jantung masing-masing.
Pandangan mereka beradu tanpa ada yang menghalangi nya.
Tiba tiba mereka tersentak karena suara seseorang berhasil mengagetkan mereka berdua.
"Ehhhmm... Kalau mesra mesraan jangan disini pak, malu di lihat orang." Suara pria lacnat itu berhasil mencairkan suasana yang sedang membeku.
__ADS_1
Mereka berdua langsung berdiri dan mengambil posisi masing masing dengan wajah dan suasana hati masih seperti tadi.
"Kok Lo disini sih Yo, pake ganggu acara orang segala lagi. Bikin kaget aja, emang Lo mau gaji Lo bulan depan gue potong." Ancam Gilang kepada Rio dengan wajah serius karena berusaha menyembunyikan rasa malunya.
"Enak aja main potong potong, gue gak salah kali. Kalian nya aja yang gak tau tempat." Rio berusaha membela diri nya sendiri. Perkataan yang di lontarkan oleh nya pun berhasil membuat Sintya tambah malu.
Sintya hanya bisa menunduk kepala nya ke arah bawah sambil menyembunyikan rasa malunya. Rasa nya dia ingin tenggelam ke dasar laut karena saking malunya menghadapi situasi seperti ini.
"Diam Lo, gue gak sengaja kali. Tadi Sintya hampir jatuh maka nya gue selamatkan." Jawab nya jujur.
"Tapi Lo nikmatin kan pelukan hangat nya Sintya." Cibir Rio.
"Sekali lagi Lo ngomong gitu, gue robek mulut Lo yang tidak punya sopan santun itu. Pulang sana, ngapain juga harus nyusul gue kesini. Gue ingin istirahat sebentar dengan tenang aja gak bisa, teman macam apa Lo ini." Seru Gilang frustasi.
"Sorry bro bukan maksud gue ganggu acara Lo berdua, tapi ada urusan mendadak. Gue telfon nomor Lo gak aktif, maka nya gue cari sampai ke ujung dunia." Jelas Rio yang berhasil membuat Gilang merasa tidak enak.
"Oh hp gue mati, lowbat dari tadi. Emang nya ada perlu apa Lo sampai segitu nya nyari gue." Tanya Gilang mulai serius.
"Itu tuh pimpinan perusahaan yang Lo tolak kemarin datang lagi, kata nya dia punya penawaran menarik. Dia bilang kalau dia gak akan pergi sampai Lo kembali dan mau menemui dia." Jelas Rio.
"Kalau gitu ayo kita kembali ke kantor, dia belum tau siapa yang dia hadapi dan apa yang bisa ku lakukan untuk semua ini."
Mereka akhirnya meninggal kan tempat itu untuk kembali ke kantor milik keluarga Gilang Ramadhan.
__ADS_1