Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 61 PGD


__ADS_3

Leon kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri, sementara Ana juga pergi ke kamar mandi.


Ana tersenyum bahagia karna Leon bisa menerima kedua orang tuanya, walaupun Leon tau jika orang tuanya berasal dari desa dan sedikit kuno. Sama halnya seperti dirinya waktu belum lama tinggal di jakarta, sampai-sampai Ana di bilang udik dan kampungan oleh Leon.


''Semoga Mas Leon memang benar-benar pilihan yang tepat untuk hidupku di masa depan. Walaupun dulu aku pernah di bilang udik, kampungan dan tidak level berteman dengan Lufi, tapi sekarang Mas Leon tidak lagi seperti itu. Ia terlihat sangat menghormati kedua orang tuaku, aku juga melihat jika ia begitu sangat menyayangi orang tuaku,'' gumam Ana, sambil berendam di dalam bathup.


20 menit kemudian, Ana baru saja selesai membersihkan diri. Ia keluar dari kamar mandi hanya melilitkan handuk di tubuhnya.


Leon yang sejak tadi sudah menunggu Ana duduk di atas ranjang pun menatap Ana dengan mata yang melebar dan mulut yang menganga.


''Mas Leon!!'' pekik Ana. Ia kaget saat melihat Leon sudah berada di dalam kamarnya.


''Sayang kamu mau menggodaku?'' tanya Leon sambil mendekat ke arah Ana.


''Jangan macam-macam Mas, minggir!! Aku mau ambil baju,'' ucap Ana dengan tubuh yang gemetar saat Leon mendekat dan mengendus lehernya.


''Wangi banget sih,'' Leon memejamkan matanya, ia menghirup wangi sabun yang ada di tubuh Ana membuat gai*ah Leon memuncak.


''Mas!! Mending Mas Leon keluar sekarang, kita bisa khilaf Mas kalau begini terus,'' Ana pun merasakan hal yang aneh di tubuhnya saat Leon menyentuh kulitnya tanpa terhalang apapun. Ana pun mengeratkan pegangan pada handuknya, ia takut jika handuknya tiba-tiba jatuh ke lantai.


''An,'' gumam Leon pelan. Ia terus menghirup dan kadang menghisap leher Ana.


''Mass, eughh,'' d*sahan Ana mampu membuat Leon tak bisa menahan ha*ratnya. Pegangan yang ada pada handuknya pun mulai melonggar. Tangan Leon juga tak bisa tinggal diam.


''An, boleh kan?'' tanya Leon. Ana hanya diam sambil menahan sesuatu yang rasanya ingin keluar. Tiba-tiba handuk yang melilit di tubuh Ana pun jatun ke lantai, tak ada 1 pun kain yang menghalangi tubuh Ana saat ini.


Ana ingin mengambil handuk yang jatuh, namun pergerakannya kalah dengan gerakan cepat Leon, Leon segera menginjak handuk itu dan menggendong tubuh Ana ke atas ranjang. Ana berusaha menutupi aset berharganya. Ingin rasanya ia menolak, namun tubuhnya menginginkan sentuhan-sentuhan dari Leon.


Leon menatap tu*uh Ana yang tengah polos dengan mata yang enggan berkedip.


''Mas, jangan begini,'' Ana berusaha ingin bangun, namun entah kemana tenaga kuatnya saat ini, rasanya ia sangat tak berdaya.


Leon segera mendaratkan ke*upannya di b*bir Ana. Semakin lama kec*pan itu berubah menjadi l***tan. Gai*ah di diri Leon sudah tak bisa di tahan lagi, saat ini ia hanya ingin menyatukan dirinya dan Ana menjadi satu.


Leon ingin membuka kaos yang sudah menempel di tubuhnya, namun tiba-tiba.

__ADS_1


Tok tok tok.


''Ana, kamu mandi lama sekali Nak,'' ucap Ibu Siti di balik pintu. Ana dan Leon langsung melihat ke arah pintu, dan seketika pandangan mereka bertemu.


''Ibu,'' gumam mereka bersamaan. Leon langsung turun dari atas tubuh Ana, Ana pun langsung berlari mengambil baju ganti dan masuk ke dalam kamar mandi.


''Akhhhh, hampir saja aku berbuat zina dengan Ana. Astaga apa yang sudah aku lakukan barusan!'' Leon menjambak rambutnya yang ia tata dengan rapi tadi.


''An, kamu di dalam kan?'' Ucap Ibu lagi.


''Aduh gimana ini, kalau Ibu masuk bisa tamat riwayatku,'' ucap Leon panik.


Ceklek.


Pintu pun di buka oleh Ibu Siti.


''Lho Nak Leon kok ada di sini?'' tanya Ibu yang melihat Leon sudah berada di dekat pintu.


''Eh, i iya Bu, tadi Leon mau ambil barang Leon yang tertinggal di kamar ini,'' ucap Leon beralasan.


''Owalah, barang apa Nak?'' tanya Ibu Siti.


''Ohh begitu? Ana mana ya Nak?'' tanya Ibu Siti.


''Ana lagi di kamar mandi Bu. Sepertinya dia masih mandi. Kalau begitu Leon kembali ke kamar dulu ya Bu, permisi,'' ucap Leon langsung bergegas meninggalkan kamar Ana.


''Katanya mau ambil baju, kenapa Nak Leon tadi nggak bawa baju ya?'' gumam Ibu merasa bingung dengan alasan Leon tadi.


Ceklek.


''Ibu.''


''Lama sekali sih Nak mandinya,'' omel Ibu Siti.


''Hehe maaf Bu, ada apa Ibu kesini?'' tanya Ana mencoba bersikap biasa-biasa saja.

__ADS_1


''Ibu sama Bapak udah nungguin kamu lama di ruang tamu, eh kamunya masih asik mandi,'' gerutu Ibu.


''Eh, baju siapa yang kamu pakai ini?'' tanya Ibu menatap dress yang di pakai Ana.


''Ya baju punya Ana lah Bu,'' ucap Ana santai.


''Ini baju bagus banget An, pasti harganya nggak murah, iya kan?'' ucap Ibu.


''Eh, ini anu Bu, em baju iniiiii harganya murah kok. Mana mungkin Ana sanggup beli baju yang mahal,'' ucap Ana tersenyum kaku ke arah Ibu Siti.


''Belinya di mana? Ibu juga mau beli di sana dong,'' ucap Ibu Siti.


''Iya, kapan-kapan Ana ajak Ibu kesana,'' ucap Ana.


''Ya udah cepetan dandan yang cantik, biar di lirik sama pengusaha kaya di kota ini,'' ucap Ibu Siti.


''Iya-iya Bu.''


''Ibu nggak tau aja kalau aku udah ada pawangnya. Pengusaha kaya, tampan, baik, mesum dan cemburuan,'' batin Ana.


Ana memoles tipis-tipis wajahnya, tak lupa ia memakai lipstik yang pernah di belikan oleh Leon.


''Wahh, anak Ibu cantik sekali. Kamu itu udah berubah 180 derajat sejak ada di Jakarta. Kamu tambah cantik saja Nak,'' puji Ibu Siti dengan memandang anak gadisnya dengan takjub.


''Makasih Bu, Ana cantik karna turunan dari Ibu juga. Iya nggak sih?'' tanya Ana.


''Benar sekalii. Bapakmu juga sering berkata seperti itu,'' ucap Ibu Siti dengan penuh percaya diri.


''Bukankah membuat orang tua bahagia adalah pahala ya. Jelas-jelas mukaku mirip dengan Bapak, tapi Ibu dengan percaya dirinya berkata seperti itu,'' batin Ana terkikik geli sendiri.


Sementara di kamar Leon.


Leon baru saja berhasil mengeluarkan sesuatu yang membuat kepalanya hampir pecah sejak tadi.


''Akhhhh, teringat tubuhmu membuat dia On lagi An,'' lagi-lagi Leon menjambak rambutnya dengan kasar. Ia begitu stres belum bisa seutuhnya memiliki Ana.

__ADS_1


*


*


__ADS_2