
Beberapa saat berlalu begitu saja. Gilang dan Rio tampak sedang menikmati makanan nya.
"Kok melamun aja sih bro, tuh liat makanan lo udah nangis minta di makan. Kasian banget kan.. " Ucap Rio membuka pembicaraan.
"Gak nafsu makan gue bro, gimana mau makan kalau pikiran gue masih sama dia." Jawab Gilang.
"Udah lah bro gak usah di pikirin tu perempuan, kalau lo gini terus ntar bisa sakit lagi. Kan lebih parah tuh." Timpal Rio kemudian. Rio merasa sangat kasihan melihat sahabat nya seperti itu.
"Ya harus gimana lagi bro, nama nya juga cinta. Apa pun harus bisa kita lakukan untuk nya. Cinta kan juga butuh yang namanya pengorbanan." Jelas Gilang.
"Iya juga sih bro, tapi gak harus gitu amat kali. Ingat juga kesehatan, tapi itu sih terserah lo." Rio mulai menyerah menghadapi makhluk yang satu ini.
Setelah selesai makan mereka berdua berencana meninggal kan tempat itu, namun langkah mereka berdua terhenti ketika melihat Sintya tampak duduk dengan seorang pria.
"Gue gak salah liat kan lang? Gila ya Sintya tuh cantik banget sekarang, pantasan lo galau berat kayak gini." Ucap Rio.
"Lo gak salah liat Yo, itu emang Sintya. Sintya emang cantik dari dulu. Dan yang di sebelah nya itu adalah cowok yang sudah berani meluk Sintya di depan mata gue." Gilang kembali terlihat sedih.
"Tapi tuh cowok siapa ya, wajah nya lumayan juga sih gak jelek jelek amat. Pakaian nya rapi dan terlihat sempurna. Tapi tenang aja Lang, gantengan lo sih dari pada dia." Ucap Rio panjang lebar.
"Udah ah gue mau pulang aja, kesal gue kalau di sini terus." Gilang berencana meninggal kan tempat itu, tapi langkah kaki tiba tiba di hentikan oleh Rio.
"Tunggu... Tunggu dulu sebentar Lang, dari pada kita penasaran, mending kita temui dia sekarang. Kita tanya baik baik biar semua nya jelas." Rio menarik tangan Gilang sambil berjalan menuju meja yang di duduki oleh Sintya.
"Haiii... Sintya Bella kan, masih ingat aku gak?" Tanya Rio sambil tersenyum mengulurkan tangannya.
"Hhh.. Haiii... Juga, hmmm kamu kamu Rio Febrian teman SMA ku dulu kan, yang penampilan nya... " Perkataan Sintya terhenti sesaat.
"Yang berpenampilan culun maksud kamu kan?" Jawab Rio cepat.
"Aku.. aku.. Maaf ya bukan maksud aku begitu, tapi... " Sintya merasa tidak enak kepada Rio. Kemudian dia membalas jabatan tangan Rio.
"Udah gak papa kok, santai aja lagi. Gue kan emang culun waktu SMA. Tapi sekarang gue udah keren kan?" Ucap Rio sambil menaik turun kan alisnya.
"Iya juga sih kamu tambah ganteng, rapi lagi." Puji Sintya kepada Rio yang membuat Gilang merasa tidak nyaman.
"Tuh dengarin Lang, Sintya muji gue ganteng. Lo gak usah cemburu ya, tenang aja, gue gak bakal rebut." Bisik Rio tepat di telinga Gilang.
Gilang yang sudah merasa kesal dari tadi langsung mengarah kan tinju nya ke perut Rio.
__ADS_1
"Aduuuhhh... Sakit kali Lang, gue kan cuma bercanda." Rio membela diri nya.
"Maka nya li jaga mulut lo, jangan asal ceplos aja." Bisik Gilang.
Sintya yang dari tadi hanya bisa tersenyum melihat drama mereka berdua. Kemudian dia kembali ke tempat duduk nya dan mempersilahkan Gilang dan Rio untuk duduk.
"Silahkan duduk, mari bergabung bersama kami di sini." Sintya tersenyum ke arah Gilang.
"Oke deh Sin, makasih ya udah ngajak kami untuk duduk." Rio langsung menduduki bangku di sebelah Rian. Sementara itu Gilang masih memilih untuk berdiri.
"Oh iya Sin, emang nya kami berdua gak akan menggangu nih ceritanya?" Tanya Rio basa basi sambil melirik ke arah Rian.
"Gak lah Yo, kenapa juga harus merasa terganggu. Malahan aku seneng banget bisa ketemu kalian berdua di sini." Jawab Sintya sambil tersenyum sedikit.
"Oh iya kenal kan itu sahabat aku, nama nya Rian Permana. Dia seorang dokter muda yang sekarang memegang kendali di sebuah rumah sakit besar di kota ini. Rumah sakit milik ayahnya." Jelas Sintya sambil menekan kan kata sahabat.
Kemudian Rio tampak menjabat tangan Rian sambil menyebut kan nama nya.
"Rio Febrian teman SMA nya Sintya."
"Oh oke nama saya Rian Permana, seperti yang di sebut kan oleh Sintya tadi." Jelas Rian.
"Gue Gilang Ramadhan." Gilang langsung melepaskan tangan nya dari Rian.
Dalam hati nya Rian berkata " Mungkin kah orang ini yang di sukai oleh Sintya, pria yang selama ini di puja puja oleh Sintya." Pikiran nya melayang entah kemana.
"Oh iya kalian berdua ngapain disini, kok bisa kebetulan gitu ya?" Tanya Sintya.
"Aku lagi nemanin sahabat aku yang galau berat karena cemburu melihat orang yang dicintai nya bersama pria lain." Ucap Rio tiba tiba dan mendapat injakan keras di kaki nya.
"Auuhh..."
"Kamu kenapa Yo, kok kayak kesakitan gitu." Tanya Sintya.
"Oh aku gak papa kok Sin, santai aja." Rio berusaha menahan rasa sakit di kaki nya.
"Ya udah deh kalau gitu, kalian berdua udah makan apa belum? Kalau belum pesan aja makanan nya." Sintya terlihat melambaikan tangan ke arah pelayan.
"Kami udah makan kok Sin, jadi gak usah repot-repot lagi." Gilang langsung menimpali pertanyaan Sintya.
__ADS_1
"Oke deh kalau gitu, kebetulan kami juga udah makan kok. Kamu apa kabar sekarang, udah lama juga ya kita gak ketemu." Tanya Sintya basa basi.
"Aku baik kok Sin, kamu sendiri gimana kabarnya." Ucap Gilang.
"Aku juga baik kok, kenapa kamu gak pernah datang lagi ke tempat kerja ku." Sintya terlihat sedih.
"Maaf ya Sin, aku lagi sibuk banget. Kerjaan ku banyak di kantor." Jelas Gilang.
"Sin pulang yuk, udah mulai gelap nih." Ajak Rian kemudian.
"Biar aku antar ya Sin, kalau kamu gak keberatan sih." Potong Gilang.
"Dia pergi sama saya dan pulang nya juga harus sama saya." Jawab Rian kemudian.
"Kita tanya orang nya aja langsung, mau pulang nya sama siapa." Rio yang melihat ada perang dingin antara mereka berdua pun langsung berinisiatif memotong pembicaraan mereka.
"Maaf ya dokter Rian, aku gak papa kok pulang sama Gilang. Dokter duluan aja." Jawab Sintya sambil tersenyum.
"Kalau gitu saya duluan ya Sin, permisi." Rian langsung meninggalkan tempat itu menuju mobil nya.
"Aku jadi nyamuk dong sekarang." Ucap Rio sambil memonyongkan bibirnya.
"Ayo Sin aku antar pulang, ntar kemalaman lagi." Gilang tampak tersenyum sambil menggandeng tangan Sintya ke arah mobil nya.
Kemudian dia membuka kan pintu mobil untuk Sintya dan mempersilahkan Sintya masuk.
"Silahkan tuan putri."
"Makasih ya lang.."
Sintya langsung masuk dan pintu mobil di tutup kembali oleh Gilang. Kemudian dia berlari kecil menuju pintu mobil kemudi dan langsung masuk ke dalam nya.
"Gue gak lo bukain pintu nih?" Rio terlihat sewot.
"Lo buka aja sendiri, kan ada tangan tuh." Jawab Gilang santai.
"Lo kejam Lang, giliran perempuan aja lo bukain pintu. Giliran gue sahabat lo yang selalu ada buat lo, gak lo bukain pintu. Tega amat lo." Rio pura pura ngambek sambil masuk ke dalam mobil bagian belakang.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah kos tempat tinggal Sintya. Tanpa terasa kini Sintya sudah tertidur pulas dan kepala nya jatuh ke lengan kekar Gilang.
__ADS_1
Gilang hanya bisa tersenyum sambil menikmati kejadian langka tersebut.