Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 82 PGD


__ADS_3

''Mari kita makan guys,'' ucap Bima sambil menyendokkan makanannya ke dalam mulut.


Mereka makan dengan hening. Hanya dentingan sendok yang bersuara.


Tring tringg tringgg.


Ana membuka tasnya dan mengambil ponselnya yang berada di dalam tas kerjanya. Nama yang tertera di layar ponselnya adalah nama Axel.


''Mas Axel?'' gumamnya sambil mengerutkan keningnya. Lalu Ana menggeser tombol warna hijaunya.


''Ha hallo,'' ucap Ana.


''Kamu dimana An?'' tanya Axel to the point.


''Ak a aku kerja Mas,'' ucap Ana gugup.


''Iya kerja di mana? Aku dari kemarin menghubungimu tapi nomormu tidak aktif,'' ucap Axel.


''Aku nggak bisa memberitahu di mana nya Mas. Intinya sekarang aku nggak di Jakarta,'' ucap Ana.


''Kamu nggak di Jakarta?'' tanya Axel memastikan.


''Iya Mas, tapi jangan beritahu siapapun Mas,'' ucap Ana.


''Oke, tapi,,, Awww,''


''Maaf Pak, ini memang sedikit sakit,'' ucap seseorang di balik telepon. Ana mengerutkan dahinya.


''Mas Axel kenapa?'' tanya Ana penasaran.


''Ehm eng enggak. Tadi Leon kesini,'' ucap Axel.


''Kalian berantem lagi ya,'' tebak Ana.


''Aku nggak mungkin diam saja saat dia menendang perutku An. Apalagi jika bersangkutan denganmu. Aku nggak mungkin diam saja kan. Apalagi kamu wanita istimewa di hidupku,'' ujar Axel dengan suara yang semakin pelan namun masih terdengar jelas di telinga Ana.


Ana pun menetralkan jantungnya saat mendengar ucapan Axel.


''Ma maafin Mas Leon ya Mas,'' ucap Ana dengan gugup.


''Kenapa kamu yang minta maaf? Bahkan dia merasa tak bersalah sedikitpun,'' ucap Axel sambil menatap lurus kedepan.


''Karna Mas Leon, Mas Axel merasa sakit lagi,'' ucap Ana.


''Hem,'' Axel hanya menjawab dengan deheman saja.


''Ya sudah kalau gitu Mas, aku tutup ya teleponnya,'' ucap Ana.

__ADS_1


''Share lokasi An. Sejak kemarin Mama cariin kamu terus,'' ucap Axel dengan nada serius.


''Aku 15 hari lagi ke Jakarta kok Mas. Aku pasti akan menemui Tante Tari,'' ucap Ana.


''Janji ya, kabari aku kalau mau pulang. Biar aku jemput,'' ucap Axel.


''Aku bisa pulang sendiri kok Mas,'' tolak Ana halus.


''Baiklah. Kamu hati-hati di sana,'' ucap Axel penuh perhatian.


''Iya,'' Ana lalu mematikan panggilannya dengan Axel. Bima dan Nada melihat interaksi Ana dan si penelpon tadi. Mereka bahkan menjeda makannya hanya ingin mendengarkan Ana menelpon.


''Kenapa kalian melihatku sampai segitunya?'' tanya Ana tak enak di pandang seperti itu.


''Siapa? Pacar kamu?'' tanya Nada penasaran. Sementara Bima tak suka mendengar pertanyaan Nada.


''Dia temen aku yang ada di Jakarta,'' ucap Ana sambil menyendok kembali makanannya.


''Oh temen, aku kira pacar. Kalau pacar kamu di mana?'' tanya Nada yang masih kepo.


''Em, ak aku nggak punya pacar,'' ucap Ana teringat dengan Leon yang pernah singgah di hidupnya, lalu mematahkan hatinya.


''Tapi aku nggak percaya dengan ucapanmu An,'' ucap Nada menatap lekad-lekad ke arah Ana.


''Iya beneran. Untuk apa pacaran kalau hanya membuat kita menjadi lemah. Langsung nikah malah enak, pacaran setelah halal,'' ucap Ana yang sok tegar di depan Nada dan Bima.


''Jadi Ana nggak mau kalau pacaran. Mintanya langsung di halalin gitu?'' batin Bima yang mengangguk-anggukkan kepalanya.


''Kepala kamu kenapa?'' tanya Nada yang heran dengan Bima.


''Eh, memangnya kenapa kepalaku?'' Bima malah balik bertanya kepada Nada.


''Dari tadi gini-gini,'' ucap Nada sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


''Masa sih. Aku aja nggak ngerasa kok,'' ucap Bima memang tak sadar jika ia mengangguk-anggukkan kepalanya.


Setelah menghabiskan makanannya. Mereka pulang ke rumah masing-masing. Nada dan Bima kebetulan searah, namun Ana berbeda arah dengan mereka. Ana memesan taksi untuk mengantarkannya ke kontrakan yang baru ia tinggali 2 hari ini.


*


Hari pun berganti, dan hari ini tepat hari ketiga Leon berjanji akan menikahi Nois jika ia tak menemukan bukti apapun. Dan sampai detik ini pun, Leon tak menemukan bukti itu. Bahkan rekaman CCTV yang pernah ia lihatpun sudah tak ada lagi di perusahaan cabangnya.


''Akhhhhhhh, apa yang harus aku lakukan?'' gumamnya. Ia merutuki kebodohannya yang berani berjanji seperti itu.


Leon mengambil ponsel di meja kerjanya. Ia menelpon semua orang suruhannya yang ia tugaskan mencari bukti itu. Namun semua seakan buntu, semua orang suruhannya pun tak menemukan bukti apa-apa.


Tringg

__ADS_1


Tringg


Tringg.


Bunyi ponselnya membuyarkan lamunan Leon. Lein segera meraih ponselnya dan melihat nama si penelpon.


''Nois''


Leon seketika membanting ponselnya ke lantai sampai ponsel itu benar-benar mati. Leon menghembuskan nafas panjangnya. Ia benar-benar tak bisa berfikir jernih akhir-akhir ini.


Tok tok tok.


''Masuk,'' ucap Leon dari dalam ruangan.


''Permisi Tuan. Baru saja Nona Nois menelpon saya. Dia----''


''Kenapa?'' tanya Leon menatap Dirga dengan tajam.


''Nona Nois mengancam ingin menyebarkan foto scandal anda dengan dirinya ke media. Ia ingin menghancurkan perusahaan ini jika Tuan tak menikahinya hari ini,'' ucap Dirga menundukkan pandangannya karna takut dengan sorot mata tajam milik Leon.


''Akhhhhh,'' Leon langsung menghancurkan barang-barangnya yang ada di ruangan tersebut. Bagaimana bisa ia terjebak dengan wanita licik seperti Nois.


''Bilang kepadanya. Aku akan ke apartemennya malam nanti. Dan satu lagi, carikan penghulu!'' perintah Leon. Dirga hanya menelan salivanya dengan susah. Ia tak menyangka jika Tuannya ingin menikahi mantan sekretarisnya dan meninggalkan kekasih yang sangat di cintainya.


''Ba baik Tuan, saya permisi,'' ucap Dirga menundukkan wajahnya, lalu pergi dari ruangan Leon.


Leon duduk, menyandarkan kepalanya di sofa. Air matanya pun tiba-tiba mengalir di pipinya.


''Ana maafkan aku,'' 3 kata yang keluar dari mulut Leon. Ia benar-benar di posisi tersulit saat ini. Antara cinta atau janjinya. Antara cinta atau perusahaannya. Antara cinta atau bayi tak berdosa.


Malam pun telah tiba. Leon benar-benar menepati janjinya untuk menikahi Nois. Ia berangkat ke apartemen Nois di temani dengan Dirga. Sesampainya di sana, penghulu yang akan menikahkan mereka pun telah tiba. Senyum bahagia tergambar di wajah Nois. Noia juga memakai gaun berwarna putih, terkesan sangat mewah. Sementara Leon nampak berantakkan dengan kemeja yang ia pakai dari tadi pagi.


Ini bukanlah pernikahan yang ia inginkan seumur hidupnya. Ia hanya ingin menikah dengan Ana. Cinta pertama di hidupnya.


*


Di lain tempat.


Ana seharian ini merasa tak nyaman bekerja. Hati dan fikirannya entah berada di mana.


''Ada apa sih sebenarnya. Kenapa seharian ini aku nggak bisa fokus,'' keluh Ana.


*


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.


Lope you pull all

__ADS_1


__ADS_2