
Leon turun dari mobilnya dengan perasaan was-was. Baru kali ini ia merasa takut dengan seseorang. Biasanya ia menghadapi klien dari manapun tak pernah ada ketakutan sama sekali. Ia terkenal dingin dan arogan.
Leon merapikan rambut dan jas yang ia pakai. Ia menghela nafas panjang, untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Leon berjalan mendekat ke arah pintu utama, di sana terdengar sayup-sayup orang yang tengah mengobrol hangat.
''Assalamualaikum,'' sapa Leon masuk ke dalam ruang tamu. Orang yang ada di ruang tamu langsung menoleh ke arah sumber suara.
''Walaikumsalam,'' jawab mereka serempak.
''Pak, Bu kenalin ini Kakak Lufi namanya Kak Leon. Dia keluarga satu-satunya yang Lufi punya,'' ucap Lufi memperkenalkan Leon.
Leon mendekat ke arah calon mertuanya. Ia menyalami calon mertuanya dengan takzim.
''Leon Pak, Bu,'' ucap Leon.
''Tampan sekali Nak Leon ini. Apa Nak Leon sudah berkeluarga?'' tanya Ibu Siti.
''Belum Bu, calonnya masih kuliah, harus nunggu sampai lulus dulu,'' ucap Leon melirik ke arah Ana yang tengah melebarkan matanya.
''Wah, beruntung sekali ya wanita yang akan di nikahi Nak Leon ini. Sudah tampan, mapan dan juga baik hatinya,'' ucap Ibu Siti.
''Alhamdulillah Bu,'' ucap Leon tersenyum penuh arti.
''Baik hati? Baik hati apanya, tiap hari kerjanya hanya ngomel-ngomel nggak jelas. Kata Ibu gitu kok baik hati,'' gumam Ana dalam hati.
''Ibu juga berharap suatu hari nanti Ana juga mendapatkan suami seperti Nak Leon ini,'' ucap Ibu Siti. Ana yang tengah meminum tehnya pun langsung tersedak.
Uhuk uhuk uhuk.
''Pelan-pelan dong sa---
''Sa? Sa apa?'' tanya Ibu mengerutkan keningnya.
''I itu bu, nama Ana kan Anastasya, Kak Leon biasa manggil Ana dengan sebutan Tasya, iya kan Kak?'' ucap Ana memberi kode kepada Leon.
''Iya betul sekali Bu,'' ucap Leon membenarkan ucapan Ana barusan.
''Owalah, Ibu kira apa,'' ucap Ibu Siti.
''Tuan, kamar tamu sudah selesai Bibi bereskan,'' ucap Bibi pembantu di rumah itu.
''Terima kasih ya Bi. Ibu dan Bapak bisa langsung istirahat. Pasti lelah habis perjalanan jauh,'' ucap Leon.
''Terima kasih ya Nak Leon. Maaf jika kami merepotkan kalian,'' ucap Bapak Husein.
__ADS_1
''Bapak dan Ibu jangan berkata seperti itu. Jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri,'' ucap Leon.
''Bi, tolong antarkan Ibu dan Bapak ke kamar ya,'' perintah Leon.
''Baik Tuan, mari saya antar,'' ucap Bibi.
Ibu dan Bapak mengikuti Bibi dari belakang. Ibu dan Bapak merasa takjub melihat isi dari rumah mewah dan besar itu.
''Silahkan,'' ucap Bibi membuka pintu kamar.
''Terima kasih ya Bi,'' ucap Ibu Siti.
''Sama-sama, kalau butuh sesuatu bisa panggil saya Bu, saya permisi ke belakang dulu,'' ucap Bibi.
Ibu dan Bapak masuk ke dalam kamar yang dulu di tempati oleh Ana.
''Ya ampun Pak, kamarnya besar sekali. 1 kamar di sini sebesar rumah kita Pak. Benar-benar kaya ya Nak Leon itu Pak,'' ucap Ibu Siti yang melihat sekeliling kamar.
''Iya Bu. Ana sangat beruntung di kelilingi orang baik seperti mereka,'' ucap Bapak Husein.
Sementara di ruang tamu, Leon tengah menatap Ana dengan tajam. Ada perasaan kesal, marah dan rindu menjadi satu.
''Em, Mas aku kembali ke kamar ya. Aku mau istirahat dulu,'' ucap Ana yang sudah merasa tak enak dengan tatapan Leon. Leon tak menjawab, ia terus menatap Ana yang pergi meninggalkannya.
''Kejar Kak, kalau rindu di ungakapin, jangan marah-marah nggak jelas!'' ucap Lufi juga berlalu meninggalkan Leon. Tanpa berfikir panjang, Leon segera menyusul Ana yang tengah menaiki anak tangga, setelah sampai di depan kamar, Ana langsung masuk ke dalan kamarnya lalu menutup pintunya. Leon pun ikut masuk ke dalam kamar Ana tanpa sepengetahuan Ana.
Leon memeluk Ana dari belakang. Wangi yang selama ini ia rindukan sekarang sudah bisa ia rasakan kembali.
''Mas Leon.''
''Kamu membuat aku menahan rindu An,'' ucap Leon terisak di punggung Ana
''Mas Leon nangis?'' tanya Ana karna merasa bajunya basah.
''Mas Leon kenapa?'' tanya Ana membalikkan badannya dan menatap Leon.
Cup.
Leon mengecup sekilas bibir ranum milik Ana.
''Mas Leon benar-benar menangis? Apa segitu rindunya sama aku, sampai-sampai dia menangis seperti ini,'' batin Ana menatap Leon yang tengah terisak.
Cup.
Ana mengecup pipi Leon.
__ADS_1
''Udah jangan nangis Mas, sekarang kan aku udah ada di sini,'' ucap Ana menghapus air mata Leon.
''Kamu jahat An, kamu pulang tanpa pamit sama aku, di telpon nggak pernah di angkat, di wa juga nggak pernah bales. Kamu mau nyiksa aku, iya?'' ucap Leon dengan kesal.
''Ih Mas Leon kok jadi melow kayak gini sih. Aku belum percaya sepenuhnya jika ini Mas Leon yang terkenal dingin dan arogan itu,'' batin Ana dalam hati.
''Kenapa kamu menatapku seperti itu?'' tanya Leon menatap Ana dengan tatapan tajam.
''Em eng enggak Mas,'' ucap Ana gugup.
Leon langsung mel*mat bibir ranum milik Ana. Ana hanya pasrah, tubuhnya juga tak menolak semua sentuhan dari Leon. Tangannya melingkar di leher Leon.
Leon memperdalam ciumannya, mereka pun larut dalam gairah na*su sesaatnya.
''Mas,'' Suara Ana mampu membuat sesuatu di bawah sana berdiri tegak.
''Aku tau batasanku An, jangan khawatir,'' ucap Leon mengusap bibir Ana dengan pelan.
''Maafin Ana Mas, udah buat Mas Leon menahan rindu kayak gini,'' ucap Ana tertunduk.
''Iya, tapi jangan di ulangi ya. Kalau ada apa-apa langsung bilang sama aku. Jangan main kabur-kaburan kayak kemarin, aku nggak suka An,'' ucap Leon.
''Gimana mau beritahu Mas Leon kalau nomor Mas Leon nggak aktif,'' gerutu Ana.
''Iya maaf. Baterai Mas habis waktu itu An,'' ucap Leon.
''Berarti bukan sepenuhnya salah Ana dong. Kan Ana udah mencoba menberitahu Mas leon,'' ucap Ana.
''Iya, iya Mas Leon juga salah. Tidur yuk, aku kangen tidur bareng kamu,'' ucap Leon langsung menggendong Ana ke atas ranjang.
''Ihhhh, Mas Leon selalu mesum deh. Di bawah ada orang tua aku Mas. Gimana kalau mereka tau kita punya hubungan sedekat ini,'' ucap Ana.
''Ya bagus dong. Pasti kita langsung di nikahkan. Dan aku bisa memilikimu seutuhnya,'' ucap Leon memeluk tubuh Ana dengan erat.
''Aku nggak bisa nafas Mas. Mas Leon mau bunuh aku?'' nafas Ana tersengal sengal karna pelukan erat dari Leon.
''Habisnya kangen banget sayang,'' ucap Leon mengecupi seluruh wajah Ana.
*
*
Jangan Lupa dukungannya kawan๐๐๐๐
Like, coment, fav, vote dan beri hadiah yaa.
__ADS_1
See you next episode๐