
''Dari mana sih Ana kenal dari Dokter itu. Ahh sainganku bertambah ini,'' batin Kevin panik.
Selama 6 bulan ini Kevin tak mengetahui jika Ana berpacaran dengan Fadil. Yang ia tau mereka hanya dekat sebatas teman kerja saja.
''Saya permisi,'' pamit Dokter Axel.
''Kamu kenal dia dimana?'' tanya Kevin kepo.
''Tadi aku hampir saja tertabrak oleh mobilnya Kak,'' ucap Ana.
''Kok bisa?'' tanya Kevin penasaran.
''Ya bisa lah pokoknya,'' ucap Ana.
Saat mereka tengah mengobrol, ruangan IGD terbuka lebar. Blankar yang di tempati Nino di dorong keluar oleh perawat.
''Mau di bawa kemana sus?'' tanya Lufi.
''Karna kondisi pasien sudah stabil, maka pasien akan di pindahkan ke ruang rawat,'' ujarnya.
Ana, Lufi dan dambaan mertua mengikuti dari belakang. Terlihat raut wajah penuh kesedihan di wajah mereka. Sahabat yang hampir sehari-hari bersama dengan mereka, saat ini tengah terkurai lemas di atas blankar. Selang infus dan oksigen telah tertancap di tempatnya.
''Nino,'' gumam Lufi pelan.
''Nino pasti segera sadar Fi. Percayalah,'' ucap Ana.
Setelah sampai di depan ruang rawat inap Ana dan Lufi ikut masuk dan sahabat yang lain menunggu di luar.
''Jangan di ajak bicara dulu ya. Biarkan pasien istirahat,'' ucap suster. Ana dan Lufi hanya melihat Nino dari kejauhan.
''Gimana kalau Nino nggak bangun An,'' ucap Lufi.
''Sttt jangan bicara seperti itu. Nino pasti bangun. Kita bantu doa untuk kesembuhan Nino ya,'' ucap Ana.
Ana mengajak Lufi menunggu di luar, awalnya Lufi menolak, namun dengan segala cara akhirnya Lufi mau keluar dari ruangan.
''Mending kalian pulang aja, biar kami yang jaga Nino di sini,'' ucap Lukman.
''Aku nggak mau. Aku ingin di sini!'' ucap Lufi dengan tatapan kosong.
''Fi, tubuh kamu juga butuh istirahat. Kita pulang yuk, besok pagi kita kesini lagi,'' ajak Ana.
''Aku akan antar kalian,'' ucap Kevin.
''Tapi aku ingin disini An,'' ucap Lufi.
''Fi kalau kamu nggak istirahat terus kamu sakit siapa yang akan mengurus Nino. Sementara ini orang tuanya masih di LN perjalanan bisnis,'' ujar Indra.
''Kita pulang ya,'' bujuk Ana.
''Baiklah. Jaga Nino ya. Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku,'' ucap Lufi.
__ADS_1
''Iya iya,'' ucap Indra dan Lukman.
Kevin mengantar Ana dan Lufi pulang ke rumah Lufi. Setelah itu ia akan kembali lagi ke RS.
''Kamu nginep di rumahku kan?'' tanya Lufi.
''Iya,'' ucap Ana.
''6 bulan aku tak menginjakkan kakiku di sana, dan malam ini aku akan kembali ke rumah itu. Rumah yang penuh dengan kenangan,'' batin Ana, ia menghela nafasnya panjang agar rasa sesak di dadanya segera menghilang.
Setelah sampai di rumah Lufi, Ana segera menggandeng tangan Lufi masuk ke dalam rumah. Sementara Kevin langsung balik lagi ke RS.
Ana mengantarkan Lufi menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
''Nggak cuci muka dulu?'' tanya Ana.
''Aku lelah. Biarkan saja seperti ini. Aku ingin segera tidur agar bisa bangun pagi An,'' ucap Lufi memejamkan kedua matanya.
Ana memilih keluar dari kamar Lufi. Ia menuruni anak tangga dan menuju kamar tamu yang sudah ia tinggalkan 6 bulan ini.
Ana mengingat kembali saat-saat ia bersama Leon.
''Kak, aku ingin melupakanmu. Tapi kenapa, semakin kesini aku semakin mencintaimu Kak,'' ucap Ana. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Setelah itu ia menutup kedua matanya.
*
Pagi pun menjelang, Setelah selesai sholat subuh, ia segera ke dapur untuk membuat sarapan.
''Aku harus masak banyak pagi ini. Kasian temen-temen yang di RS. Pasti mereka kelaparan,'' ucapnya.
Tok tok tok.
''Fi, kamu belum bangun?'' tanya Ana sambil mengetuk pintu. Namun tak ada jawaban dari dalam. Ana segera memutar handle pintu dan ternyata Lufi tak ada di kamar.
''Fi, Lufi kamu di mana?'' Ana masuk ke dalam kamar dan memanggil manggil nama Lufi. Namun tak ada sahutan di sana.
''Lufi kemana sih,'' ucap Ana panik.
Ana turun ke lantai bawah, ia mencari asisten rumah tangga.
''Bi, Bibi tadi lihat Lufi nggak?'' tanya Ana.
''Enggak Non. Sejak tadi sore Bibi nggak lihat Non Lufi,'' ucapnya.
''Aduh kemana sih Lufi,'' Ana berlari ke kamar, ia mencari benda pipihnya. Setelah menemukan Ana mencoba menghubungi Lufi, namun ponsel Lufi tidak aktif. Ana pun menghubungi Kevin, ternyata Lufi sudah sampai di RS tadi pagi sebelum subuh.
''Ya ampun Fi. Kamu bikin aku jantungan, aku kira kamu kemana,'' gerutu Ana. Ana segera bersiap-siap pergi ke RS. Tak lupa bekal yang sudah ia siapkan di bawa ke RS.
Setelah hampir perjalanan 1 jam, akhirnya Ana sampai di RS di antar oleh ojek online. Ana pun segera masuk ke dalam rumah sakit. Di sana ia mendapati teman-temannya yang tengah duduk di ruang tunggu.
''Lufi mana?'' tanya Ana.
__ADS_1
''Di dalam An,'' ucap Indra.
''Kenapa kalian nggak ngasih tau aku kalau Lufi ada di sini,'' ucap Ana merasa kesal kepada teman-temannya.
''Yah kan tadi pagi kita panik, kita langsung telpon Lufi lah. Kita lupa sama kamu, hehehe,'' ucap Indra dengan cengengesan.
''Panik kenapa?'' Ana mengerutkan keningnya mendengar ucapan Indra.
''Tadi sebelum subuh Nino drop, kita panik langsung telpon Lufi. Setelah Lufi sampai di sini, alhamdulillah nggak nunggu lama Nino langsung sadar,'' ucap Indra.
''Masa sih?'' tanya Ana.
''Iya An, sekarang mereka sedang berduaan tuh di dalam,'' ucap Lukman.
''Alhamdulillah kalau Nino sudah sadar. Ini aku bawakan sarapan untuk kalian. Jangan lupa di habiskan,'' ucap Ana.
''Wahhh, asik makan gratis nih,'' ucap Lukman dengan mata berbinar.
''Kita makan di kantin!'' ucap Indra.
Indra, Kevin dan Lukman pergi menuju kantin. Ana mengintip Lufi yang sedang berada di dalam ruang rawat Nino. Mereka nampak bersenda gurau, Ana segera menutup pintu kembali.
Di dalam ruang rawat.
''Kenapa sih sulit banget nerima cinta aku,'' gerutu Nino.
''Kan udah aku terima No,'' ucap Lufi malu-malu.
''Kalau aku nggak sampai kayak gini kamu nggak akan nerima kan?'' ucap Nino.
''Ya kan aku takut jika nanti---''
''Iya iya,'' ucap Nino terlihat kesal.
''Kok gitu sih No,'' Lufi menekuk mukanya.
''Kenapa sayang, hem?'' ucap Nino menggoda.
''Ihhh nyebelin,'' ucap Lufi.
''Aduh kepalaku,'' Nino merintih merasakan sakit di kepalanya.
''Nino, Nino kamu kenapa No,'' Lufi panik saat melihat Nino merasa kesakitan.
Greb
Nino menarik Lufi ke dalam pelukannya.
''Tapi boong, hahaha,'' Nino tertawa saat Lufi terlihat khawatir dengan keadaannya.
''Nggak lucu!'' ucap Lufi kesal dengan tingkah Nino.
__ADS_1
*
Jangan lupa tinggalkan jejak kawan😆