
Lufi menurut saja saat Leon mengajak ia pulang. Ia juga sakit hati saat melihat Nino lebih dekat dengan orang lain.
Kini mereka sudah di perjalanan menuju rumah keluarga Lewis. Lufi terlihat diam tanpa sepatah kata apapun. Ia hanya menatap jendela mobil dengan tatapan kosong.
''Apa kamu ingin makan di tempat makan favorite kita Fi?'' tanya Ana.
''Enggak An,'' ucap Lufi.
''Kalau iya nggak pa-pa. Biar aku yang traktir kali ini. Biasanya kan kamu terus yang traktir aku,'' ucap Ana mencairkan suasana.
''Aku belum miskin An,'' ucap Lufi.
''Ya, kan beda kalau makan bayar sendiri sama yang gratisan,'' ucap Ana terkekeh.
''Ya udah deh boleh lah kalau gitu. Aku ingin makan yang banyak hari ini. Kangen juga makanan luar, tiap hari makan bubur terus,'' keluh Lufi.
''Nah gitu dong. Kita ke Restauran pelangi ya Mas,'' ucap Ana.
''Baik Nyonya Leon,'' ucap Leon menganggukkan kepalanya patuh. Ana hanya tersenyum mendengar ucapan Leon.
Sesampainya di Restauran pelangi, mereka segera memesan menu makanan kesukaan mereka berdua. Mereka berdua nampak antusias jika makan di tempat ini. Leon yang duduk di dekat mereka pun nampak di abaikan oleh Ana dan Lufi.
Makanan yang mereka pesan telah tersedia di atas meja. Leon hanya menelan salivanya dengan susah.
''Siapa yang akan menghabiskan semua ini?'' tanya Leon heran.
''Kalau Kakak nggak mau biarkan kami yang makan Kak. Kami udah biasa makan dengan porsi banyak,'' ucap Lufi.
''Apa kalian nggak takut gemuk. Em maksudku apa kalian nggak takut, jika berat badan kalian naik,'' ucap Leon membenarkan ucapannya tadi.
''Apa Mas Leon takut jika aku gemuk dan nggak cantik lagi?'' tanya Ana menatap Leon.
''Enggak sayang, bukan seperti itu maksud aku---''
''Udah cepet habisin An. Jangan terlalu mikirin ucapan Kak Leon,'' ucap Lufi, Lufi tau jika perdebatan nanti akan berakhir pertengkaran.
Mereka memulai makan mereka dengan berdoa, setelah itu Ana dan Lufi langsung memakan makanan yang ada di depannya. Tanpa menggunakan sendok, mereka berdua makan dengan tangan langsung, setelah mencuci tangan.
Menu kesukaan mereka adalah seefood. Ana dan Lufi biasa memesan kepiting saus padang, cumi goreng asem, udang goreng tepung, gurami bakar madu dan lobster saus padang, tak lupa nasi putih 1 bakul kecil. Tapi hari ini pesanan mereka bertambah, karna ada Leon yang ikut.
''Apa nggak ada cara lain untuk memakan makanan ini?'' sindir Leon.
''Coba taruh sendok Mas Leon, kemudian Mas Leon cuci tangan,'' perintah Ana.
__ADS_1
''Nggak bisa An, aku nggak bisa makan langsung pakek tangan,'' ucap Leon.
''Udahlah An, biarin saja dia. Kamu cukup fokus pada makananmu,'' ucap Lufi.
''Baiklah, kalau kamu perlu bantuan jangan sungkan-sungkan Fi,'' ucap Ana, Lufi hanya menganggukkan kepalanya.
Leon hanya bisa menatap Ana dan Lufi makan dengan lahap. Ana yang merasa di perhatikan oleh Leon segera mengambil nasi dan lauk lalu di suapkan ke dalam mulut Leon.
''Buka mulutmu Mas!'' ucap Ana.
Dengan ragu-ragu Leon membuka mulutnya. Ia fokus merasakan makanan yang ada di mulutnya.
''Enak sayang mau lagi dong,'' ucap Leon memohon.
''Enak sayang mau lagi dong,'' ucap Lufi menirukan suara Kakaknya.
Dengan sabar Ana menyuapi Leon langsung dengan tangannya. Leon nampak seperti anak kecil yang sedang di suapi oleh Ibunya.
''Gantian kamu juga yang makan, jangan aku terus An,'' ucap Leon. Leon mencuci tangannya terlebih dulu. Setelah itu ia mengambil gurame dan memisahkan tulang dan daging ikan tersebut.
''Aaaa,'' ucap Leon.
Ana pun menurut, saat ini Leon menyuapi Ana dan Ana menyuapi Leon.
''Fikss, setelah menikah Kak Leon pasti tambah melar tubuhnya,'' ucap Lufi.
''Kok bisa?'' tanya Leon.
''Buktinya sekarang aja Kak Leon habis 2 porsi tuh,'' ucap Lufi menunjuk bakul kosong yang ada di depannya. Biasanya 1 bakul bisa untuk 4 orang.
''Hey, ini bukan aku ya yang menghabiskan. Bukan kan sayang?'' tanya Leon.
''Bukan Mas. Hanya jelmaan Mas Leon aja yang menghabiskan,'' ucap Ana terkekeh.
''Ya ampun sayang, gimana kalau nanti perutku buncit,'' ucap Leon menekuk wajahnya.
''Emangnya kenapa kalau buncit? Aku cinta Mas Leon apa adanya, bukan karna ada apanya,'' ucap Ana.
''Beneran? Tapi aku nggak mau kalau perutku buncit. Masa cewek secantik kamu bersanding sama om-om perut buncit,'' ucap Leon. Mereka pun tertawa bersama saat mendengarkan ucapan Leon.
Setelah selesai makan, Ana segera menuju kasir untuk membayar semua makanan yang mereka makan sesuai janjinya tadi.
''Totalnya 985 ribu Kak,'' ucap kasir restauran itu.
__ADS_1
''Bayar pakek ini saja Mbak,'' ucap Leon memberikan kartu kepada kasir.
''Jangan Mas!! Aku punya uang kok, kan tadi aku yang mau traktir kalian. Ini aja Mbak,'' ucap Ana menyerahkan uang tunai 1 juta kepada kasir namun di cegah oleh Leon.
''Jangan Mbak. Pakek kartu itu saja,'' ucap Leon. Kasir hanya menganggukkan kepalanya pelan.
''Mas, jangan gini dong. Aku masih punya uang buat bayar makanan kita ini,'' ucap Ana.
''Udahlah sayang, aku ini calon suamimu. Harus nurut sama calon suami, okey,'' ucap Leon. Ana menekuk wajahnya kesal.
Di sepanjang perjalanan pun Ana nampak diam enggan untuk bicara.
''Aku turun di dekat perempatan!'' ucap Ana dingin.
''Kamu nggak ikut ke rumah An?'' tanya Lufi.
''Kapan-kapan aja Fi. Aku harus mengerjakan tugas kuliahku,'' ucap Ana beralasan.
''Kamu bisa mengerjakannya di rumah An, kita mampir ke kosmu buat ambil peralatanmu kuliah ya,'' ucap Leon.
''Nggak perlu Kak,'' ucap Ana.
''Sayang kamu kenapa sih?'' tanya Leon ingin menggenggam tangan Ana namun tangan Ana segera menghindar.
''Udah stop di sini aja Kak,'' ucap Ana. Leon langsung menepikan mobilnya.
''Cepet sembuh Fi. Kapan-kapan aku pasti main kesana,'' ucap Ana melepas seatbeltnya lalu turun tanpa mengucap apapun kepada Leon. Leon pun ikut turun, ia merasa jika Ana sedang marah dengannya.
''An, An tunggu An!'' ucap Leon meraih tangan Ana.
''Apalagi sih Kak,'' ucap Ana.
''An, kamu kenapa? Kenapa cuek gini sama aku. Aku salah apa sih An?'' tanya Leon.
''Kak Leon nggak salah apa-apa. Udah ya Kak, aku mau masuk dulu. Terik banget nih,'' keluh Ana, memang matahari siang itu begitu terik. Ana melepaskan cekalan di tangannya, ia segera berlari menuju ke kosnya.
''Ada apa sih sebenarnya?'' batin Leon. Leon masuk ke dalam mobilnya, ia lalu melajukan mobilnya pulang ke rumah.
''Ana kenapa Kak?'' tanya Lufi.
''Kakak nggak tau. Setelah mengantar kamu pulang, Kakak akan menemui dia,'' ucap Leon.
*
__ADS_1
*