
''Terus kita mau kemana sekarang Nak?'' tanya Bapak Husein.
''Em----''
''Ke apartemenku Pak. Sebaiknya kalian tinggal di apartemenku dulu,'' sela Axel.
''Tapi Mas---''
''Nggak pa-pa An. Di sini kamu nggak punya tempat tinggal kan,'' ujar Axel. Ana hanya mengangguk lemah.
''Ya udah, aku antar ke apartemen. Mari Bu, Pak,'' ucap Axel.
''Ya Allah, aku sungguh nggak enak sama Mas Axel. Dia udah baik banget sama aku,'' batin Ana.
Mereka pun memasuki mobil milik Axel yang terparkir tak jauh dari sana. Saat Axel tengah fokus menyetir, ponselnya tiba-tiba berdering.
''Hallo,'' ucap Axel.
''Mas! Ibu, Ibu pingsan Mas,'' suara panik terdengar di balik telepon.
''Mama Pingsan? Aku segera pulang Bi,'' ucap Axel.
''Mama kenapa Mas?'' Ana ikut panik saat mendengar ucapan Axel jika Mama Tari pingsan.
''Mama pingsan An. Kamu dan orang tuamu nggak pa-pa kan aku ajak ke rumah dulu,'' ujar Axel yang terlihat panik.
''Iya nggak pa-pa Mas,'' ucap Ana.
Axel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi pulang ke rumahnya. Ia benar-benar khawatir dengan kondisi Mamanya.
Selang beberapa saat, mobil milik Axel sudah sampai di halaman rumah. Axel keluar dari mobil dan lari masuk ke dalam rumah.
''Bu, Pak, ayo kita masuk,'' ajak Ana.
Mereka pun menyusul Axel yang sudah masuk dulu ke dalam rumah. Saat sampai di ruang tamu, Ana bertemu dengan ART yang bekerja di sana.
''Nona Ana, Mas Axel ada di kamar Ibu Nona,'' ucap ART itu.
''Boleh aku ikut masuk Bi?'' tanya Ana.
__ADS_1
''Silahkan Nona,'' ucap ART itu.
Ana segera masuk ke dalam kamar Mama Tari setelah mengetuk pintu.
''Assalamualaikum Ma,'' Ana mendekat ke arah ranjang Mama Tari.
''Ana, kamu di sini Nak. Mama kangen banget sama kamu Nak,'' Mama Tari langsung duduk saat melihat Ana datang. Ana langsung memeluk Mama Tari yang terlihat sangat lemah dan kurus.
''Mama apa kabar?'' tanya Ana lembut.
''Mama baik sayang. Ya walaupun akhir-akhir ini Mama merasakan sedikit sakit,'' ujar Mama Tari berbohong.
''Mama cepet sembuh ya. Kasian Mas Axel, dia sedih kalau lihat Mama begini,'' ucap Ana.
''Mama lebih sedih lagi kalau Mama pergi Axel belum menemukan pendamping hidupnya Nak,'' ujar Mama Tari.
''Ma, mending Mama istirahat ya,'' ucap Axel.
''Mama masih kangen sama anak perempuan Mama Nak. Kamu itu selalu begitu kalau Mama bahas tentang jodoh kamu,'' ujar Mama Tari dengan nada sedikit jengkel.
''Mama jangan ngomong yang nggak-nggak. Mama pasti sembuh kok. Apa Mama nggak mau lihat Mas Axel menikah dan punya anak. Pasti nanti anak-anak Mas Axel lucu-lucu Mah,'' ujar Ana tersenyum kepada Mama Tari.
''Tapi kapan? Mama udah nggak sanggup merasakan sakit seperti ini sayang. Mama juga ingin melihat Axel menikah dan ingin menggendong cucu Mama yang lucu-lucu,'' ucap Mama Tari dengan tatapan sendu. Ana melirik ke arah Axel yang tengah menatapnya.
''Ma, Mama harus istirahat. Ana juga baru saja sampai Ma. Di depan juga ada Ibu dan Bapaknya Ana,'' ujar Axel.
''Benarkah? kenapa kamu nggak bilang dari tadi. Rasanya aku sangat tidak sopan tidak menemui orang tuamu Nak,'' ucap Mama Tari.
''Mama kan masih sakit, nggak pa-pa nggak menemui mereka Ma,'' ujar Ana.
''Enggak, aku harus menemui mereka sayang,'' ucap Mama Tari yang nekad turun dari ranjang.
''Mending Mama duduk di atas kursi roda saja. Mama masih terlalu lemas untuk berjalan kaki,'' ucap Axel memperingatkan.
''Mama udah nggak pa-pa Nak. Ayo kita temui mereka,'' ucap Mama Tari antusias. Tangan Mama Tari di lingkarkan di lengan Ana dan Axel.
Sesampainya di ruang tamu, Mama Tari segera menyalami Ibu dan Bapak Ana. Mama Tari sangat antusias ketika Ibu dan Bapak Ana datang.
''Perkenalkan, saya Tari, Mama Axel dan Mamanya Ana juga,'' Mama Tari tengah tersenyum ke arah Ibu Siti dan Bapak Husein.
''Mama Ana?'' beo Ibu Siti.
__ADS_1
''Iya Bu. Ana udah saya anggap seperti anak perempuan saya sendiri,'' ujar Mama Tari.
''Owalah. Saya kira Ana dan Nak Axel,'' Ibu Siti menyatukan kedua tangannya. Pertanda Ana dan Axel ada hubungan.
''Bu,,'' ucap Ana memperingati.
''Eh, kenapa aku nggak kefikiran sama mereka ya. Axel pertama kali membawa Ana kesini. Pasti Ana wanita spesial di hidup Axel. Apa aku jodohkan mereka saja ya,'' ucap Mama Tari dalam hati.
''Hem, kalau Ana belum punya pasangan, Axel mau kok menikah dengan Ana,'' ucap Mama Tari. Axel yang mendengar ucapan Mamanya langsung melebarkan matanya.
''Ma, Mama apa-apaan sih,'' ucap Axel pelan.
''Ana belum punya pasangan Bu. Dia sudah berjanji kepada kedua orang tuanya agar tak mempunyai pacar dulu sebelum lulus,'' ucap Ibu Siti blak-blakan.
''Benarkah? Wah kebetulan Axel juga belum punya pasangan Bu. Ana wanita pertama yang ia bawa ke rumah ini,'' ucap Mama Tari sangat antusias.
''Kebetulan sekali ya Bu,,,''
''Bu, udah ya. Em mending kita cari penginepan aja. Pasti Ibu dab Bapak capek,'' ucap Ana memotong perkataan Ibunya.
''Kamu mau kemana sayang. Mama masih kangen lo sama kamu,'' ucap Mama Tari dengan raut wajah yang sedih.
''Em, besok Ana akan kesini Ma,'' ucap Ana tak enak hati berlama-lama di sana. 2 wanita paruh baya itu akan memojokkan mereka berdua jika berlama-lama di sana.
''Padahal Mama pengennya kamu nginep di sini lo sayang,'' ujar Mama Tari lirih. Air matanya pun mengalir di pipi.
''Ma, maafin Ana ya. Iya Ana di sini kok. Mama jangan sedih dong,'' ucap Ana mengelus lembut tangan Mama Tari.
Tiba-tiba tubuh Mama Tari ambruk ke tubuh Ana. Ana yang tak kuat menyangga tubuh Mama Tari pun ikut ambruk.
''Ma, Ma, Mama,'' Axel segera membangunkan Mamanya yang tengah pingsan. Axel segera menggendong Mama Tari menuju kamarnya.
Axel memberikan minyak angin di dekat hidung Mama Tari agar Mama Tari bangun dari pingsannya. Selang beberapa saat, Mama Tari tengah membuka matanya.
''Ma,'' panggil Axel.
''Kepala Mama pusing,'' Mama Tari menyentuh kepala bagian sampingnya. Rasa pening di kepalanya semakin hari semakin bertambah.
''Aduhhh, kenapa kepala Mama tambah sakit Nak. Apa umur Mama nggak lama lagi,'' rintih Mama Tari yang terdengar sangat kesakitan.
''Mama nggak boleh bicara seperti itu. Axel belum bahagiain Mama. Please Ma, jangan bicara seperti itu,'' ucap Axel menangis sambil memeluk Mamanya.
__ADS_1