Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 87 PGD


__ADS_3

Kanker yang di idap Mama Tari masih stadium awal atau stadium 1. Namun akhir-akhir ini Mama Tari sering sekali mengalami sakit di bagian kepalanya.


''Mama harus kuat ya,'' ucap Axel terisak di pelukan Mama Tari.


''Mama cuma pengen lihat kamu nikah Nak. Kabulkan permintaan Mama yang 1 ini,'' ucap Mama Tari dengan suara pelan.


''Iya, Axel akan bawa calon istri Axel kesini. Tapi Mama janji, Mama harus sembuh,'' ujar Axel.


''Kamu udah punya calon?'' tanya Mama Tari langsung menatap anak semata wayangnya. Axel yang di tatap seperti itu oleh Mama Tari hanya menelan salivanya dengan kasar.


''Em, iya ada. Mama tenang aja,'' ucap Axel setengah gugup.


''Nanti malam ajak dia kesini. Mama pengen kenalan sama calon menantu Mama,'' ucap Mama Tari antusias.


''Mampus aku! Aku harus ajak siapa coba. Bahkan aku sama sekali tidak punya teman wanita,'' batin Axel.


''Gimana kalau kapan-kapan aja Ma. Mama kan masih---''


''Kenapa? Kamu nggak mau?'' tanya Mama Tari.


''Bukan begitu Ma. Iya iya nanti Axel bakal bawa calon istri Axel,'' ujar Axel. Axel berfikir keras, siapa wanita yang mau menjadi kekasih pura-puranya. Bahkan teman sesama dokter di rumah sakit pun sudah mempunyai suami semua.


Jam pun menunjukkan pukul 7 malam. Namun Axel masih duduk diam di taman samping rumah.


''Aku harus jemput siapa?'' Axel menjambak rambutnya dengan kasar. Saat ini ia benar-benar terjebak dengan ucapannya sendiri.


''Mas Axel kok masih di sini?'' tanya Ana yang tiba-tiba datang dari arah belakang.


''Eh, iya An,'' ucap Axel menetralkan detak jantungnya.


''Mas Axel nggak jemput kekasih Mas Axel. Kan ini udah jam 7,'' ucap Ana berjalan mendekat dan duduk di samping Axel.


''Aku sebenarnya nggak punya kekasih An,'' ucap Axel lirih.


''Nggak punya kekasih?'' beo Ana.

__ADS_1


''Hem, sebenarnya di hatiku hanya ada 1 nama. Namun dia tak mungkin bisa aku miliki,'' ucap Axel menatap lurus ke depan.


''Kenapa? Apa dia istri orang?'' tanya Ana.


Axel hanya menggelengkan kepalanya. ''Dia mencintai lelaki lain,'' ucap Axel.


''Bukankah sebelum janur kuning melengkung masih ada harapan Mas,'' ucap Ana yang tak tau menahu siapa wanita yang di cintai temannya itu.


''Benarkah?'' Axel menoleh, menatap Ana dalam-dalam. Ana yang di tatap seperti itu oleh Axel menjadi salah tingkah.


''Kamu nggak ingin tau siapa wanita yang ada di hatiku?'' tanya Axel masih memandang wajah cantik Ana.


''Si siapa?'' tanya Ana.


''Kamu. Kamu adalah wanita kedua setelah Mama yang aku cintai. Aku mencintaimu sejak pertama kita bertemu,'' ucap Axel.


''Ha ha ha ha Mas Axel bercandanya terlalu jauh,'' ucap Ana di selingi tawa.


''Aku serius An. Hanya 1 hal yang aku kalah dari Leon, yaitu kamu. Andai saja aku lebih dulu bertemu denganmu. Pasti aku bisa memilikimu,'' ucap Axel menghembuskan nafasnya kasar.


''An, maukah kamu menjalani hubungan denganku?'' Axel menatap wajah Ana yang terlihat bingung. Ia menggenggam jari jemari Ana.


Ana langsung melepaskan pegangan tangan Axel dengan pelan.


''Aku nggak bisa Mas,'' tolak Ana mentah-mentah.


''Apa karna Leon?'' tanya Axel dengan raut wajah kecewa. Ana hanya diam, tak menjawab, apalagi hanya menggelengkan atau menganggukkan kepalanya, ia enggan untuk melakukan itu.


''Aku nggak pantas untuk Mas Axel,'' ucap Ana setelah bungkam beberapa saat.


''Terus siapa yang pantas untukku An. Di usiaku yang hampir 30 tahun ini, aku bahkan belum pernah jatuh cinta. Baru kali ini aku jatuh cinta kepada gadis sederhana seperti dirimu An,'' ucap Axel.


''Mas Axel bisa mendapatkan yang lebih baik dari pada Ana Mas. Ana bahkan tidak pantas untuk lelaki manapun,'' ucap Ana dengan mata berkaca-kaca. Ia mengingat kejadian saat bersama dengan Leon.


''Kenapa? Apa Leon pernah berbuat sesuatu kepadamu?! Jawab An,'' pekik Axel yang terlihat mengeraskan rahangnya. Baru kali ini Ana melihat Axel marah.

__ADS_1


''Mas, Mas Axel bisa mendapatkan yang lebih dari Ana. Mas Axel tampan, baik, kaya, seorang dokter pula. Siapa sih yang nggak mau sama Mas,'' ujar Ana mengalihkan pertanyaan Axel.


''Jadi benar kamu sudah berbuat sesuatu dengannya. Aku nggak akan buat dia tenang,'' Axel berdiri dari duduknya, saat ia ingin melangkah, Ana menahan tangan Axel.


''Udah Mas. Yang lalu biarlah berlalu. Aku minta sama Mas Axel, tolong lupakan Ana Mas. Ana benar-benar nggak bisa terima cinta Mas Axel,'' ucap Ana menatap Axel yang tengah menatapnya dengan kecewa.


''Enggak! Jika seumur hidup kamu, kamu tidak akan menikah. Aku pun juga, karna di hatiku hanya ada kamu,'' ucap Axel kekeh.


''Aku mencintaimu apa adanya An. Bukan ada apanya. Walaupun kamu pernah berbuat yang tidak-tidak dengan Leon, aku nggak mempermasalahkan itu. Karna aku benar-benar mencintaimu,'' ucap Axel.


''Mas----''


''Mas, Mas Axel, Ibu pingsan lagi setelah muntah-muntah Mas,'' pekik ART yang bekerja di saja.


''Mama,'' Axel langsung berlari masuk ke dalam rumah dengan panik.


''Ma, Mama,'' Axel menggoyang-goyangkan tubuh Mama Tari yang pucat pasi. Axel khawatir jika keadaan Mama Tari semakin memburuk. Ia segera membawa Mama Tari ke Rumah Sakit.


''Mas Mama kenapa?'' tanya Ana yang bertemu mereka di dekat tangga. Ana baru saja masuk dari taman samping rumah.


''Mama pingsan lagi. Sepertinya keadaannya sangat lemah. Aku akan membawanya ke Rumah Sakit,'' ujar Axel.


''Aku ikut Mas,'' ucap Ana mengikuti Axel dari belakang.


Sesampainya di Rumah Sakit, Mama Tari langsung di bawa ke IGD untuk di beri penanganan pertama. Axel yang juga seorang dokter ikut masuk dan memeriksa penyakit Mamanya.


Saat Dokter Neurologi menyampaikan jika Mama Tari mengidap penyakit kanker stadium 4, Axel langsung menjatuhkan dirinya di lantai. Ia benar-benar tak menyangka dengan apa yang di dengarnya barusan. Pasalnya, baru beberapa hari kemarin, Mama Tari memberitahu jika ia terkena kanker otak stadium awal.


''Kenapa Mama bohongi Axel Ma,'' Axel menangis saat melihat Mama Tari tak berdaya seperti ini.


Ia akan menyesal jika tak bisa menyelamatkan nyawa seorang wanita yang pernah mengandungnya. Bahkan operasi pun tak menjamin bisa menyelamatkan nyawa Mama Tari.


''Ma, kenapa Mama sembunyikan ini sama aku dan Papa. Apa Mama udah nggak sayang Axel lagi? Axel baru saja kehilangan wanita yang Axel cintai Ma, Axel tak mau kehilangan Mama juga,'' Axel menangis memeluk Mama Tari yang menutup matanya.


Ana yang mendengar ucapan Axel pun ikut menangis.

__ADS_1


__ADS_2