
Ana kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Tak menunggu lama, Ana tertidur kembali ke alam mimpi, mungkin karna efek obat yang Axel berikan menjadikan Ana cepat terlelap.
''An, aku mencintaimu. Aku benar-benar ingin hidup bersamamu An. Aku tidak ingin bersaing atau mendapatkan apa yang Leon dapatkan. Ini murni kalau aku memang benar-benar mencintaimu sebelum aku tau, jika Leon adalah kekasihmu,'' gumam Axel pelan.
Ia menatap Ana dengan perasaan sedih. Ia sadar diri, Ana tak mungkin mau menerima cintanya, karna cinta Ana hanya untuk Leon seorang. Baru kali ini ia kalah dengan Leon, karna sejak dulu ia lebih unggul dari Leon.
''Aku bisa saja merebutnya darimu Leon. Namun, bukankah cinta tidak bisa di paksakan,'' batin Axel. Ia menghembuskan nafasnya kasar. Lalu ia mengambil selimut dan badcover untuk di buat tidur di lantai.
*
Pagi pun menjelang, Ana lebih dulu membuka matanya karna tidurnya terusik dengan silau matahari yang menerobos lewat jendela kaca. Hari ini badannya sudah kembali fit, jadwal pagi setelah ia bangun tidur adalah pergi ke kamar mandi. Ia berdiri mengambil infus yang saat ini sedang menggantung di dekat ranjangnya. Saat ingin melangkah, ia seperti menginjak sesuatu dan tubuhnya tiba-tiba limbung.
Brukkk.
''Awww,'' bukan Ana yang memekik kesakitan, namun Axel. Axel memekik kesakitan karna Ana jatuh di atas tubuhnya.
Manik mata mereka bertemu, Axel hanya menelan salivanya saat wajah Ana sangat dekat dengan wajahnya. Apalagi wajah cantik khas bangun tidur Ana mampu menghipnotis Axel.
''Ma maaf Mas,'' ucap Ana yang ingin berdiri, namun tangan Axel masih berada di atas pinggangnya.
''Mas biarkan aku berdiri,'' ucap Ana yang sulit untuk berdiri. Axel segera membuyarkan lamunannya, ia segera melepaskan tangannya yang berada di atas tubuh Ana.
''Maaf Mas, aku tadi nggak tau kalau Mas Axel tidur di sini,'' ucap Ana tak enak hati.
''Nggak pa pa An. Kamu mau kemana?'' tanya Axel yang melihat Ana turun dari ranjang.
''Aku mau ke kamar mandi Mas,'' Ana langsung berjalan menuju kamar mandi karna sesuatu di dalam sana ingin segera di keluarkan. Setelah selesai, Ana keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar.
''Gimana keadaanmu sekarang An?'' tanyavAxel.
''Sudah membaik Mas. Mas Axel udah bisa melepas infusnya sekarang,'' ucap Ana yang duduk di ranjang sebelah Axel.
''Beneran udah baikan?'' tanya Axel memastikan.
''Iya Mas.''
''Ya sudah aku akan melepas infusnya,'' ucap Axel mengambil kapas untuk menghentikan darah bekas jarum infus.
''Tahan, ini akan sedikit sakit,'' ucap Axel.
__ADS_1
Ana hanya memejamkan matanya untuk tidak melihat, saat Axel melepas jarum infus yang ada di dalam tangannya.
''Aww,'' pekik Ana saat Axel berhasil mengambil jarum suntiknya.
''Udah An. Ternyata kamu takut juga ya sama jarum,'' ucap Axel tersenyum ke arah Ana.
''Sakit Mas,'' Ana mengerucutkan bibirnya dan mengelus elus tangan bekas jarum infus tadi.
''Aku kembali ke kamar dulu ya, mau mandi. Jangan lupa ikut sarapan bareng di ruang makan. Mama pasti udah nungguin,'' ucap Axel berjalan meninggalkannya.
''Keluarga ini memang benar-benar baik,'' gumam Ana. Ia membereskan tempat tidurnya, setelah itu ia berjalan keluar kamar menuju ruang makan.
''Pagi Tan eh Ma,'' sapa Ana.
''Pagi sayang. Kamu udah beneran sembuh?'' tanya Mama Tari mendekat ke arah Ana.
''Udah kok Ma, tadi Mas Axel udah melepas infusnya,'' ucap Ana berusaha tersenyum ke arah Mama Tari.
''Syukurlah kalau begitu, ayo kita sarapan bersama,'' ucap Mama Tari menggandeng Ana menuju meja makan. Mereka menunggu Axel untuk sarapan bersama.
''Pagi Ma,'' sapa Axel yang sudah rapi dengan kemeja lengan panjang dan celana hitam.
''Bukan gitu Ma, jarak rumah dan rumah sakit kan jauh,'' ucap Axel beralasan.
''Memang Mas Axel selama ini tinggal dimana?'' tanya Ana.
''Di apartemen yang kemarin,'' ucap Axel. Wajah Ana langsung berubah sedih saat kembali teringat dengan kejadian kemarin.
''Maaf An, aku nggak bermaksud mengingatkanmu---''
''Nggak pa-pa Mas. Aku udah nggak pa-pa kok,'' bohong Ana. Padahal wajahnya menggambarkan jika saat ini ia tak biasa-biasa saja.
''Aku tau jika hatimu merasakan sakit An,'' ucap Axel di dalam hatinya.
Setelah sarapan, Axel berpamitan dengan Mama Tari dan Ana untuk pergi ke rumah sakit.
''Ma, An aku berangkat dulu ya,'' pamit Axel.
''Hati-hati sayang,'' ucap Mama Tari.
__ADS_1
''Hati-hati Mas,'' ucap Ana.
''Iya.'' Axel langsung masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraannya. ''Udah berasa punya istri. Mau kerja pamit sama Mama dan Ana, ya ampun, impianku ini,'' ucap Axel sambil senyum-senyum sendiri.
Sesampainya di rumah sakit, Leon sudah dulu menunggu Axel di halaman rumah sakit. Ia benar-benar ingin memberikan pelajaran untuk Axel yang telah membawa calon istrinya pergi darinya.
Setelah Axel membuka pintu mobilnya dan hendak turun, tiba-tiba bogem mentah mendarat di dekat bibir Axel. Axel langsung memegang pipinya yang terasa nyeri.
''Sini kamu!'' Leon menarik paksa kemeja Axel agar Axel turun dari mobil.
''Di mana kau sembunyikan Ana, ha?'' tanya Leon dengan amarah yang menggebu-gebu. Axel hanya tersenyum mengejek walaupun sudut bibirnya sudah berdarah.
''Jawab!! Di mana Ana?'' pekik Leon.
''Ana berada di tempat yang aman. Kamu tak usah mengkhawatirkan dia,'' ucap Axel santai.
''Apa katamu, aku tidak usah mengkhawatirkan dia? Dia calon istriku! Dan kamu jangan jadi orang ketiga di antara kami,'' ucap Leon dengan amarah yang memuncak.
''Calon istri? Apa kamu masih yakin jika Ana bisa memaafkanmu setelah apa yang kamu lakukan kepadanya. Dan satu lagi, apa kamu ingin menjadikan Ana istri keduamu? Kayaknya istri tuamu sedang hamil deh,'' ejek Axel.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Leon berkali-kali meninju perut Axel. Axel tak melawan, ia rela di pukuli seperti ini oleh Leon. Agar Ana berfikir ulang untuk memaafkan Leon.
''Dasar Dokter brengsek! kamu tidak tau apapun tentang kami. Jadi tutup mulut busukmu itu!'' ucap Leon meninju kembali perut Axel. Axel terkurai lemas di atas tanah, hingga datang 2 security untuk memisahkan mereka berdua.
''Tolong jangan buat keributan di sini Pak. Ini rumah sakit, bukan ring tinju,'' ucap salah satu security memperingati Leon. Dan salah satu security membantu Axel berdiri.
*
Tim Ana Leon☝
Atau
Tim Ana Axel☝
__ADS_1