
''Ma, Ana boleh ya tinggal di sini untuk sementara waktu,'' ucap Axel.
''Boleh, tapi ada 1 syarat,'' ucap Mama Tari menatap mereka dengan senyum penuh arti.
''Apaan sih Ma, kenapa pakek syarat segala,'' gerutu Axel.
''Mau apa enggak nih,'' ucap Mama Tari.
''Apa syaratnya?'' tanya Axel dengan tatapan penuh selidik.
''Ana harus jadi menantu Mama,'' ucap Mama Tari.
Uhuk uhuk uhuk.
''Ana yang hanya duduk manis mendengarkan ucapan ibu dan anak itu tiba-tiba tersedak dengan air liurnya sendiri.
''An kamu nggak pa-pa. Nggak usah dengerin ucapan Mama,'' ucap Axel memberikan minum yang tadi di hidangkan oleh Mama Tari.
''Aku nggak pa-pa kok,'' Ana hanya memaksakan senyum yang ada di bibirnya.
''Mama bercanda sayang. Kamu boleh kok tinggal di sini. Dari dulu Mama pengen banget punya anak perempuan, tapi Axel udah nggak bisa punya adik lagi. Jadi ya udah mentok di Axel anak satu-satunya kami,'' ucap Mama Tari.
''Terima kasih Tante,'' ucap Ana merasa canggung.
''Panggil Mama ya. Please,'' ucap Mama Tari denagn tatapan memohon.
''I i iya Ma,'' ucap Ana.
''Nah gitu dong,'' ucap Mama Tari tersenyum bahagia.
''Andai Ana bisa menjadi milikku, pasti Mama adalah orang pertama yang sangat bahagia mempunyai menantu seperti dia,'' batin Axel.
''Axel bawa Ana ke kamarnya. Mama juga udah pesankan beberapa baju, mungkin sebentar lagi sampai,'' ucap Mama Tari.
''Nggak usah repot-repot Tan eh Ma,'' ucap Ana merasa merepotkan.
''Nggak pa-pa sayang. Mama suka kok beliin anak perempuan Mama baju dan perlengkapan lainnya,'' ucap Mama Tari tersenyum kepada Ana.
''Makasih ya Ma, aku nggak tau dengan cara apa membalas kebaikan Mama dan Mas Axel,'' ucap Ana memeluk Mama Tari dengan erat.
__ADS_1
Di saat dia rapuh seperti ini, masih ada orang yang menyayangi dia dengan tulus. Walaupun di dalam darahnya tak mengalir setetes pun darah orang itu, namun kasih sayang seorang ibu kepada anaknya bisa Ana rasakan lewat pelukan seperti ini.
''Udah sana istirahat dulu, pasti kamu lelah kan,'' ucap Mama Tari mengelus pucuk kepala Ana.
''Ana ke kamar dulu ya Ma,'' pamit Ana.
''Iya sayang, istirahatlah,'' ucap Mama Tari.
Axel mengantar Ana ke kamar tamu. Sampai di depan pintu, Axel menghentikan langkahnya.
''Ini kamar kamu, istirahatlah, kalau ada apa-apa beritahu aku,'' ucap Axel.
''Makasih ya Mas,'' ucap Ana lalu masuk ke dalam kamar yang sudah di sediakan untuknya. Ana duduk di atas ranjang. Ia kembali mengingat saat Leon tengah menggendong wanita lain di hadapannya. Sakit, itulah yang di rasakan oleh Ana saat ini.
''Kamu benar-benar tega Mas. Aku nggak nyangka sama kamu,'' ucap Ana kembali terisak saat mengingat kejadian tadi.
Handphone yang sejak tadi di dalam tas terus berdering. Namun Ana malas untuk mengambilnya, apalagi mengangkat telepon itu.
''Selama ini aku terlalu bodoh percaya denganmu Mas. Aku terlalu di butakan oleh cintaku sendiri. Sampai-sampai aku tak tau jika kamu main hati di belakangku,'' batin Ana.
Di lain tempat, Leon kebingungan mencari Ana. Setelah dari apartemen Nois, Leon langsung menuju apartemen Ana, namun Ana tak ada di sana. Ia langsung pulang ke rumah, berharap Ana ada di sana, namun Ana juga tak ada di rumahnya.
''Kak Leon kenapa?'' tanya Lufi yang melihat Leon tak seperti biasanya.
''Di mana Ana? Kamu tau kan Ana ada di mana?'' tanya Leon.
''Ana? bukankah Kakak tadi yang antar dia pulang. Kok malah tanya sama Lufi sih Kak,'' ucap Lufi. ''Jangan bilang kalau kalian habis berantem,'' ucap Lufi penuh selidik.
''Lebih dari sekedar berantem Fi. Aku telah menyakitinya, aku benar-benar lelaki brengsek,'' Leon menjambak rambutnya dengan kasar. Ia berjongkok dan menangis meratapi nasibnya.
''Anaa,'' gumam Leon pelan.
''Sebenarnya ada apa sih Kak?'' tanya Lufi penasaran.
''Ceritanya panjang. Tapi intinya aku tak melakukan apa yang Ana tuduhkan,'' ucap Leon. Leon kembali menceritakan semuanya secara detail kepada Lufi, agar Lufi tak salah paham seperti Ana.
''Dimana wanita itu sekarang?'' pekik Lufi.
''Dia ada di apartemen,'' ucap Leon.
__ADS_1
''Apartemen siapa? Jangan bilang Kakak beliin dia apartemen,'' selidik Lufi.
''Aku hanya menyewa untuk dia tempati sementara Fi. Aku nggak bisa membiarkan dia hidup kesusahan. Dulu dia kerja dengan Kakak,'' ucap Leon.
''Itu dulu Kak, dan Kak Leon sudah memberi gaji kepadanya. Bukankah itu sudah lebih dari cukup. Aku juga curiga dengan Kakak, jangan-jangan memang benar yang di katakan wanita itu jika bayi yang ada di kandungannya itu anak Kak Leon,'' ucap Lufi penuh emosi.
''Waktu itu aku benar-benar tidak ingat apapun Fi. Tapi---''
''Tapi? Tapi apa?'' tanya Lufi menunggu Leon melanjutkan ucapannya.
''Aku punya bukti, waktu itu aku sempat lihat CCTV di ruangan kerjaku,'' ucap Leon langsung mengetik sesuatu di ponselnya. Selang beberapa saat, orang suruhan Leon menelpon ke ponsel Leon.
''Bagaimana?'' tanya Leon tak sabar.
''Maaf Tuan, tapi rekaman itu sudah tidak ada,'' ucap lelaki suruhan Leon.
''Apa?? Kenapa bisa seperti itu!'' ucap Leon mengeraskan rahangnya.
''Saya tidak tau Tuan, tapi rekaman itu benar-benar tidak ada, sepertinya ada yang sengaja menghapus rekaman itu,'' ucap Lelaki itu.
''Cari bukti lain sampai dapat. Cari tau tentang latar belakang keluarga Nois juga,'' perintah Leon.
''Siap Tuan,'' ucap Lelaki itu.
Leon langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia ingin marah, namun di sini dia juga salah karna tak memberi tau masalah ini dari awal kepada Ana. Jika ia memberi tau dari awal, semuanya pasti akan baik-baik saja.
Di lain tempat, Nois sedang tersenyum bahagia. Impiannya untuk bersanding dengan Leon sebentar lagi akan terwujud. Apalagi saat ini tak ada penghalang lagi di antara mereka.
''Aku nggak nyangka sebentar lagi aku akan memilikimu Tuan Leonard Lewis. Ini adalah impianku sejak dulu. Ya walaupun aku harus menanggung malu karna hamil di luar nikah. Tapi sebentar lagi kamu akan menjadi milikku,'' gumam Nois tertawa puas.
''Aku harus menyiapkan rencana yang lebih dari ini, agar Leon segera menikahiku tanpa aku memaksanya,'' ucap Nois tersenyum licik.
''Kamu baik-baik ya di perut Mommy. Kamu adalah senjata Mommy, agar Mommy bisa dekat dengannya. Kamu nggak mau kan lahir tanpa seorang Daddy,'' gumam Nois sambil mengelus perutnya yang terlihat buncit.
*
*
Gemes nggak sih sama Nois.
__ADS_1