
Axel langsung memeluk tubuh Ana dengan erat, sebenarnya ia juga tak mau kehilangan Ana.
''Maafin Ana ya Mas,'' ucap Ana.
''Maaf buat apa?'' tanya Axel penasaran.
''Karna udah bikin Mas Axel sedih,'' Ana mendongak menatap wajah Axel yang juga tengah menatapnya.
''Enggak An, Mas yang salah sangka sama kamu. Mas terlalu cemburu sama Leon. Aku harap kamu memegang kata-katamu untuk tidak meninggalkanku,'' ujar Axel serius.
*
Hari-hari pun silih berganti. Hari ini Nois pergi ke rumah Leon untuk memohon agar Leon tak jadi menceraikannya. Ia mengetuk pintu rumah Leon, namun ia merasa asing setelah melihat seseorang yang membukakan pintu. Apalagi orang itu memakai kursi roda.
''Cari siapa?'' tanya wanita itu.
''Aku cari Leon. Pemilik rumah ini,'' ucap Nois.
''Oh, Mas Leon. Sebentar aku panggilkan,'' ucap Wanita itu memutar balik kursi rodanya dan pergi dari hadapan Nois. Beberapa saat kemudian, Leon datang sambil mendorong kursi roda milik wanita itu.
''Ngapain kamu kesini?'' tanya Leon menatap datar Nois yang berada di ambang pintu.
''Le, aku mohon jangan tinggalin aku,'' ucap Nois memelas.
''Kita udah nggak ada hubungan apapun No. Dan anak itu, bawa pergi dari sini. Aku bahkan ingin mencekiknya saat melihatnya,'' ujar Leon memalingkan wajahnya.
''Apa gara-gara wanita ini kamu meninggalkanku?'' tanya Nois yang tak sadar dengan kesalahannya.
''Dengar ya No. Pernikahan kita hanya sebuah rasa tanggung jawabku pada bayi yang kau kandung. Dan aku telah berjanji, setelah anak itu lahir aku akan menceraikanmu, apalagi anak itu bukan darah dagingku,'' ujar Leon menjeda ucapannya. ''Dan 1 lagi, kamu benar, aku lebih baik memilih dia daripada bertahan dengan wanita ular sepertimu,'' ucap Leon membuat wanita yang berada di kursi roda itu melebarkan matanya.
__ADS_1
Flashback On
Leon melemparkan kertas yang berisi tes DNA itu tepat di wajah Nois. Nois jelas kaget, ia melihat raut wajah Leon yang merah memendam amarah.
''I ini apa?'' tanya Nois gugup, ia pun mengambil kertas itu lalu membukanya. Mulut Nois menganga, ia segera menutup mulutnya dengan telapak tangan.
''Dia bukan anakku!'' ucap Leon menunjuk bayi yang ada di gendongan Nois.
''Mulai saat ini aku talak kamu. Kita bukan suami istri lagi,'' ujar Leon menatap tajam ke arah Nois.
''Leon jangan bicara seperti itu. Aku nggak mau kehilangan kamu Le,'' Nois memohon.
''Hh,, nggak mau kehilangan aku atau hartaku?'' Leon menatap Nois dengan sinis.
''Ini nggak seperti yang kamu kira Le,'' Nois menangis, entah itu air mata sungguhan atau hanya air mata buaya agar Leon iba dengannya.
''Sekarang jelaskan kenapa kamu hamil dengannya,'' tanya Leon dengan tatapan datar.
''Se setelah kejadian malam itu bersamamu, aku memutuskan pulang ke apartemen, namun saat aku ingin masuk ke dalam apartemenku, aku di bekap olehnya dari belakang. Aku pun di bawa masuk ke dalam apartemen yang tak jauh dari apartemenku. Dia sedang mabuk berat, setelah itu aku di pe*kosa di sana,'' tangis Nois pecah saat mengingat kejadian kurang lebih 10 bulan yang lalu.
''Beberapa minggu kemudian, aku periksa ke dokter dan aku di nyatakan hamil, hiks hiks,''
''Aku bingung Le, aku malu harus menanggungnya sendirian. Aku meminta pertanggung jawaban darinya, namun ia tak mau tanggung jawab. Dan aku berfikiran meminta pertanggung jawaban darimu,'' ucapan Nois semakin lama semakin pelan. Ia menunduk menahan air matanya agar tak jatuh kembali.
''Wow, sangat menakjubkan,'' Leon bertepuk tangan mendengar ucapan Nois.
''Le, aku mohon jangan ceraikan aku,'' ucap Nois yang terus menerus terisak.
''Why?'' tanya Leon menatap Nois dengan datar.
__ADS_1
''Kar karna aku memang telah jatuh hati kepadamu. Iya, memang awalnya niatku tak baik, namun setelah selama ini kita tinggal bersama, aku benar-benar jatuh hati padamu,'' ucap Nois mengutarakan isi hatinya kepada Leon.
''Hh,,'' Leon tersenyum sinis. ''Setelah apa yang kamu lakukan kepadaku, dengan pedenya kamu mengatakan cinta kepadaku? Hatiku sudah mati No, tidak ada lagi cinta di sini. Apalagi kamu sudah menghancurkan semuanya,'' ucap Leon.
''Maafin aku Le,'' ucap Nois menggenggam tangan Leon, namun Leon segera menepisnya.
''Maafmu tidak akan pernah bisa mengembalikan semuanya seperti sedia kala No, kamu kira maafmu bisa mengembalikan Ana yang telah menikah dengan orang lain?'' Leon menatap tajam ke arah Nois. Rasanya ia ingin mencekik wanita siluman yang ada di depannya ini.
''Le,,''
''Semua biaya rumah sakit sudah aku bayar. Setelah kamu keluar dari rumah sakit, jangan pernah menampakkan batang hidungmu di depanku!'' ujar Leon langsung berlalu meninggalkan Nois.
''Leon, jangan tinggalin aku Le, Leon,'' teriak Nois. Ia menangis, meratapi nasib baik yang tak pernah berpihak kepadanya.
Leon seakan tuli dengan teriakan Nois. Leon memilih pergi meninggalkan rumah sakit. Hatinya sangat sakit jika mengingat dirinya memilih bertanggung jawab kepada bayi yang sama sekali bukan darah dagingnya dan meninggalkan kekasih hatinya.
''Akhhhhh, brengsek brengsek!'' berulang kali Leon memukur stir mobilnya. Seharusnya ia lega anak itu bukan darah dagingnya, namun ia malah merasa sakit hati karna ia sudah tak bisa lagi bersama Ana. Jika Ana masih sendiri, ia mungkin akan langsung menemui Ana dan mengatakan semuanya, pasti Ana juga akan bahagia. Namun semuanya telah berbeda. Apalagi tadi Ana terang-terangan menolaknya.
Fokus Leon pun hilang saat ia mengingat kejadian-kejadian saat ia dan Ana tak bisa bersama lagi.
Tiba-tiba ada seorang wanita cantik dan seorang nenek-nenek sedang menyeberang jalan, jarak antara mobil dan penyeberang sudah sangat dekat. Alhasil Leon tak bisa menghentikan mobilnya begitu saja. Mobil Leon menyenggol kaki kiri milik wanita itu, untung nenek tadi tak ikut tersenggol mobil Leon. Namun wanita itu sepertinya mengalami patah tulang.
Leon membawa wanita itu ke rumah sakit, ia bertanggung jawab sepenuhnya dengan wanita yang ia takbrak barusan. Setelah beberapa hari menjalani operasi dan perawatan intensif akhirnya wanita itu sudah diperbolehkan pulang. Namun ada raut kesedihan di wajah wanita itu.
''Aku pergi ke Jakarta ingin mencari pekerjaan Mas. Namun aku malah kena musibah seperti ini,'' ucapnya lirih.
''Aku akan membawamu pulang ke rumah. Aku akan bertanggung jawab sampai kakimu benar-benar sembuh,'' ucap Leon.
Flashback off
__ADS_1
Jangan lupa like, coment, vote, fav, dan beri hadiah zeyenggg๐๐๐