
Pesona seorang anastasya memang tak bisa di ragukan lagi ya๐
Lufia Lewis, sahabat Ana yang sudah seperti saudara. Lufi di kenal lebih cuek kepada siapapun yang tidak di kenalnya.
*
*
''Kamu nggak pengen tau siapa orangnya?'' tanya Lufia.
''Siapa?'' tanya Ana.
''Kamu,'' ucap Lufi.
''Hahaha nggak mungkin Fi. Kak Leon aja sekarang kembali seperti dulu, cuek banget sama aku,'' ucap Ana pelan.
''Masa sih?'' tanya Lufi yang mungkin tak percaya.
''Iya, kayaknya dia sedang menjaga hati seseorang deh. Buktinya dia jaga jarak banget sama aku. Dia juga berbicara formal sama aku,'' ucap Ana. Walaupun di hatinya ia kecewa, namun ini memang keputusan Ana waktu dulu. Saat ia masih berpacaran dengan Fadil. Dan jika sekarang Leon menghindarinya, itu semua salah Ana bukan salah Leon, pikir Ana.
''Apa mungkin Kak Leon udah dapat pengganti Ana. Aku harus tanyakan nanti kepada Kak Leon,'' batin Lufi.
''Oh iya An, tolong telpon Nino dong, suruh kesini, aku kangen. Hehehe,'' ucap Lufi sambil tertawa.
''Eh, itu anu Fi. Hp aku ketinggalan di mobilnya Mas Axel,'' ucap Ana mencoba mencari alasan.
''Kok bisa?'' tanya Lufi penasaran.
''Tadi malam aku di antar oleh Mas Axel. Nggak sengaja hp aku jatuh di sana,'' ucap Ana.
''Ya udah pakek hp aku aja. Tuh di atas meja,'' ucap Lufi.
''Aduh gimana ini. Aku harus apa coba. Masa aku harus bilang kalau Nino sekarang lagi kritis. Yang ada nanti Lufi malah histeris. Aduh aku harus cari alasan apalagi ya,'' batin Ana.
''An, kok malah ngelamun sih,'' sentak Lufi.
''Eh, itu Fi. Hp Nino kemaren jatuh, jadi udah nggak bisa di gunain lagi,'' ucap Ana.
''Kamu tenang aja, nanti Nino pasti kesini kok,'' ucap Ana.
''Maafin aku ya Fi. Aku nggak mau kalau nanti kamu tambah sakit setelah melihat Nino yang sedang kritis,'' batin Ana kasihan melihat Lufi.
''Ya udah deh,'' ucap Lufi menurut. Ana menghembuskan nafasnya lega.
''Mending sekarang kamu cari sarapan, udah jam setengah 8 tuh,'' ucap Lufi.
__ADS_1
''Kamu harus sarapan dulu biar aku suapin, setelah itu kamu minum obat dan istirahat,'' ucap Ana mengambil mangkuk bubur yang sudah tersedia di atas meja. Ana dengan telaten menyuapi Lufi.
''Nggak enak An,'' keluh Lufi.
''Nggak usah di rasa Fi. Langsung di telan aja,'' ucap Ana.
''Mana bisa kayak gitu!'' ucap Lufi kesal.
''Ya kan ini cuma bubur. Nggak usah di kunyah nggak pa-pa. Udah buruan, mau sembuh nggak sih,'' ucap Ana.
''Iya iya Kakak ipar bawel,'' ucap Lufi melirik ke arah Leon yang ternyata sudah bangun sejak tadi.
''Sttt, jangan kenceng-kenceng Fi. Nanti Kak Leon bangun,'' ucap Ana yang tak tau jika Leon memang sudah bangun sejak tadi.
''Memangnya kenapa kalau Kak Leon bangun?'' tanya Lufi.
''Ya, ya nggak pa-pa sih,'' ucap Ana gugup.
''An, sebenarnya kamu masih cinta nggak sih sama Kak Leon?'' tanya Lufi memancing agar Ana bicara dan langsung di dengar oleh Leon.
''Udah jangan bahas itu,'' ucap Ana.
''Jujur sama aku An. Aku udah menganggap kamu kayak saudara loh. Masak kamu nggak mau cerita sama aku,'' ucap Lufi. Namun Ana malah menghembuskan nafasnya kasar.
''Kenapa An?'' tanya Lufi.
''An jangan nangis dong!''
''Sakit Fi rasanya di cuekin sama orang yang kita suka.Memang dari segi manapun aku nggak pantas buat Kakak kamu,'' ucap Ana.
''Jangan bicara seperti itu. Bagaimana kalau Kak Leon juga cinta sama kamu?'' tanya Lufi sambil melirik Leon lagi. Leon hanya melebarkan matanya memberi kode untuk Lufi agar diam.
''Mana mungkin. Kemarin saja dia seperti tak mengenaliku,'' ucap Ana menahan isak tangisnya.
''Hati orang, mana ada yang tau An,'' ucap Lufi mengerlingkan matanya ke arah Leon. Dan itu semua tanpa sepengetahuan Ana.
''Udah ah jangan di bahas, mungkin aku saja yang terlalu berharap dengannya,'' ucap Ana.
''Udah dong jangan nangis,'' ucap Lufi.
''Cepet habisin makan kamu, aku juga lapar tau!'' Ana mengusap air matanya yang menetes di pipinya.
''Jadi Ana masih cinta sama aku. Ini kesempatan emas buatku mendekati dia,'' batin Leon tersenyum bahagia.
''Udah, aku udah kenyang,'' ucap Lufi.
''Ya udah sekarang minum obatnya,'' Ana mengambil obat Lufi yang berada di atas meja. Betapa terkejutnya Ana saat melihat ke arah sofa, Leon sedang memperhatikan dirinya dengan tatapan yang sulit di artikan.
''Ka Kak Leon udah bangun?'' tanya Ana gugup.
__ADS_1
''Hem,'' Leon yang hanya berdehem, lalu ia pergi ke kamar mandi.
''Fi, Kak Leon baru bangun kan?'' Ana berbalik menatap Lufi yang tengah terkikik geli.
''Iya Kak Leon baru bangun,'' ucap Lufi berbohong.
''Syukurlah kalau baru bangun,'' Ana mengelus dadanya. Ia malu jika Leon mendengar ucapannya tadi. Apalagi ia mengakui perasaannya.
Ana mengambil obat yang berada di atas meja, ia segera membuka kan obat untuk di minum Lufi.
''Buka mulutmu,'' ucap Ana.
''Tanganku yang kanan masih bisa An. Nggak usah lebay deh,'' ucap Lufi mengambil obat yang ada di tangan Ana.
''Pelan-pelan. Itu tanganmu ada infusnya loh Fi,'' ucap Ana memperingatkan Lufi.
Leon keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Entah apa yang di lakukan di kamar mandi. Hanya sekedar cuci muka atau langsung mandi.
''Mending kalian cari sarapan sana. Aku mau istirahat,'' ucap Lufi.
''Kak Leon aja dulu, biar aku jagain kamu di sini,'' Ana merasa canggung saat berhadapan dengan Leon.
''Aku udah sehat An, mending kalian ke kantin sana. Aku nggak pa-pa di sini sendiri An,'' ucap Lufi.
''Ayo kita sarapan,'' ajak Leon. Ana hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
''Cepet sana An!'' ucap Lufi. Ana pun menurut, ia berjalan di belakang Leon.
''Kak Leon emang nggak ada romantisnya,'' gumam Lufi yang melihat mereka berjalan berjauhan.
Sesampainya di kantin, Leon memesankan makanan untuk mereka berdua. Tanpa bertanya kepada Ana, Leon langsung memesan begitu saja. Urusan tak suka pikir nanti, pikir Leon.
Makanan yang Leon pesan pun sudah berada di atas meja, Leon segera memakan makanan tersebut.
''Makanlah, apa kamu tidak lapar?'' ucap Leon.
''I iya Kak,'' ucap Ana. Ana merasa sikap Leon pagi ini berbeda. Tidak seperti tadi malam yang terlalu dingin kepadanya.
''Aku rindu Kakak yang perhatian seperti ini,'' batin Ana masih memperhatikan Leon yang tengah makan.
''Apa kamu belum puas melihat ketampananku?'' tanya Leon tanpa melihat ke arah Ana. Leon merasa jika sejak tadi Ana memperhatikannya.
''Maaf,'' ucap Ana pelan. Ana segera memakan makanannya.
''Menikahlah denganku.''
*
*
__ADS_1