
''Mas Leon mau ngapain?'' tanya Ana yang saat ini terbaring di atas ranjang king size milik Leon. Ana berusaha mundur namun Leon segera menindih tubuh Ana.
''Kamu kenapa?'' tanya Leon dengan tatapan sayu.
''Nggak pa-pa,'' ucap Ana yang memalingkan wajahnya. Ia tak mau menatap wajah Leon.
''Tatap aku sayang! Kamu marah soal ucapan Lufi tadi? Aku berani bersumpah kalau aku tidak melakukan hal bejat itu sebelum menikah. Aku juga tak pernah dekat dengan wanita manapun. Kamu yang pertama dan terakhir di dalam hatiku,'' ucap Leon menatap Ana yang saat ini tengah menatapnya.
''Apa aku harus percaya begitu saja?'' tanya Ana.
''Apa yang membuatmu tidak mempercayai ucapanku?'' tanya Leon.
''Karna kamu tampan, kamu banyak uang. Aku tak yakin jika kamu belum melakukan hal itu. Apalagi selama ini kamu tinggal lama di sana,'' ucap Ana.
''Apa aku harus membuktikan jika aku masih perjaka?'' tanya Leon menahan tawanya.
''Buktikan jika itu bisa membuat aku percaya,'' ucap Ana.
''Caranya?'' tanya Leon yang pura-pura bodoh.
''Ke kenapa Mas Leon tanya aku? Ya mana aku tau,'' ucap Ana tiba-tiba merasa gugup.
''Kamu mau buktikan? Ayo kita menikah. Akan aku buktikan jika aku masih perjaka,'' ucap Leon tersenyum penuh kemenangan.
''Ihhh, pasti ujung-ujungnya mesum. Udah minggir! Aku mau pulang!'' ucap Ana mendorong tubuh Leon.
''Rumah kamu di sini sayang. Mau pulang kemana, hm?'' tanya Leon.
Leon mengecupi seluruh wajah Ana semakin lama semakin turun menuju leher. Rasa geli menjalar ke seluruh tubuh Ana.
''Akhhhhhh Masss!!!!'' pekik Ana.
''Sttt, jangan keras-keras sayang. Aku takut jika Lufi dengar, pasti dia ingin juga,'' ucap Leon.
''Mas Leon mesum banget sih. Aku semakin curiga kalau Mas Leon udah pernah melakukan itu. Udah ah minggir! Jangan deket-deket sama aku!'' ucap Ana meronta agar Leon menggeser tubuhnya, namun bukannya bergeser, tubuh Ana malah melekat dengan tubuh Leon.
''Kamu bener-bener nggak percaya ya?'' tanya Leon.
''Iya, aku memang nggak percaya!'' ucap Ana dengan lantang.
Leon semakin menjadi-jadi. Ia melahap bibir milik Ana dengan rakus. semakin turun menuju leher dan turun lagi menuju dada. Leon ingin melepaskan kancing baju Ana, namun segera ia urungkan.
''Aku akan melakukannya setelah kita menikah! Dan semua dugaanmu itu salah sayang,'' ucap Leon berbaring di sebelah Ana. Walaupun saat ini juniornya sudah berdiri tegak, namun ia tak mungkin melakukan sebelum halal.
__ADS_1
Ana segera duduk dan merapikan rambut dan juga bajunya yang berantakan.
''An,'' panggil Leon saat Ana ini turun dari ranjang.
''Aku berani bersumpah jika aku belum melakukannya An. Kenapa kamu sulit sekali percaya kepada pasangan kamu sendiri. Bukankah suatu hubungan itu harus di landasi dengan kepercayaan,'' ucap Leon.
''Aku percaya sama kamu Mas,'' ucap Ana.
''Terima kasih An,'' ucap Leon langsung memeluk tubuh Ana dari belakang.
''Aku pulang dulu Mas,'' pamit Ana.
''Pulang kemana? orang suruhanku sudah membawa kesini barang-barang yang ada di kosmu,'' ucap Leon.
''Apaa?????''
''Biar aku nggak menahan rindu sayang,'' ucap Leon.
''Ihhhhh Mas Leon buat aku bete tau nggak!'' ucap Ana menekuk wajahnya.
''Udahlah sayang, bukankah malah enak tinggal di sini. Ya itung-itung latihan jadi istri yang baik untuk suaminya,'' ucap Leon.
''Bukan itu masalahnya Mas. Aku udah bayar 2 bulan kosnya. Kan lumayan uangnya,'' ucap Ana.
''Mas, jangan gini dong. Aku geli tau!'' ucap Ana merasa bulu kuduknya berdiri.
''Wangi kamu buat aku candu sayang. Aku benar-benar nggak bisa jauh dari kamu,'' ucap Leon.
''Iya, tapi jangan begini. Aku takut jika nanti kita khilaf Mas. Aku pergi aja ya dari sini. Aku mau masak dulu,'' ucap Ana.
''Biar Bibi yang masak. Temani aku tidur dulu. Sejak kemarin tidur memeluk tubuhmu, aku tak bisa tidur jika hanya memeluk guling sayang,'' ucap Leon.
''Nggak usah kayak bayi dong Mas. Dan stop jangan terus menerus mengendus leherku. Geli Mas!'' pekik Ana.
''Iya maaf-maaf, kita bobok dulu ya,'' ucap Leon menata bantal untuk di buat tidur mereka berdua.
''Sangat di sayangkan jika nanti aku nggak kamu nikahi Mas. Kita udah tidur bareng kayak gini loh,'' ucap Ana.
''Kita hanya tidur bareng, nggak nglakuin apapun sayang. Kalau pun saat ini juga kamu ingin kita menikah, aku siap lahir batin menikahimu,'' ucap Leon memeluk tubuh Ana yang tengah berhadapan dengannya.
''Tunggu beberapa bulan lagi. Nggak sabar banget!'' ucap Ana.
''Aku hanya takut khilaf sayang. Apalagi tubuhmu yang sangat menggoda iman seperti ini,'' ucap Leon mengelus lengan Ana.
__ADS_1
''Nggak usah mulai deh Mas, cepet tidur. Kalau nggak tidur aku tinggal nih,'' ucap Ana.
''Iya iya, galak banget sih calon istri aku,'' ucap Leon menoel hidung mancung milik Ana. Ana hanya mencebikkan bibirnya saja.
Mereka pun memejamkan kedua matanya dan terlelap ke dalam mimpi.
*
Sementara di depan pintu Leon, Lufi sedang menguping. Lufi tadi mendengar pekikan Ana. Lufi jadi curiga apa yang sedang meraka lakukan di dalam kenapa lama sekali.
''Mereka ngapain sih. Aku bener-bener kepo nih,'' ucap Lufi.
Lufi memutar handle pintu dengan pelan. Namun pintu tak bisa di buka.
''Kak Leon sampai mengunci pintunya? Sedang apa sih mereka,'' gumam Lufi.
Lufi memilih meninggalkan depan kamar Leon. Ia tak mau ketahuan menguping oleh Leon dan Ana.
*
Di lain tempat, Nino masih diam memikirkan wanita yang beberapa hari ini tak muncul di hadapannya. Wanita yang sejak ia sadar terus bertanya keadaanya. Ia mencoba mengingat siapa wanita itu, namun kepalanya tiba-tiba sangat pusing.
''Siapa sebenarnya wanita itu, kenapa dia juga seperti habis kecelakaan. Bahkan semua orang bilang jika dia kekasihku. Apa benar dia kekasihku, tapi kenapa tadi dia seperti tak mengenaliku?'' batin Nino.
Ia terus memikirkan Lufi yang tadi malah memalingkan wajahnya saat bersitatap dengannya.
''No kamu lagi mikirin apa?'' tanya Diska yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Nino.
''Nggak mikirin apa-apa Dis,'' Nino berkilah.
''Tapi sejak tadi aku lihat kamu banyak melamunnya,'' ucap Diska.
''Enggak kok. Aku hanya kefikiran gadis yang tadi,'' ucap Nino.
''Yang mana? Yang ngaku-ngaku jadi kekasihmu itu?'' tanya Diska. Nino hanya mengangguk pelan.
''Jika dia kekasihmu mana mungkin kamu melupakannya No, sedangkan kamu tidak melupakan orang lain,'' ucap Diska.
''Benar juga ya yang di katakan Diska. Jika gadis itu kekasihku, mana mungkin aku melupakannya. Sementara orang lain saja aku ingat,'' batin Nino.
*
*
__ADS_1