
Leon kembali menatap Nois yang saat ini berada di depannya. ''Setelah ini apa rencanamu?'' tanya Leon.
''Saya hanya ingin anda bertanggung jawab,'' ucap Nois.
''Bertanggung jawab yang bagaimana? Belum tentu juga dia anakku,'' ujar Leon.
''Terserah jika anda tak mau mengakuinya. Aku akan mati bersama anak ini,'' ucap Nois berdiri dari duduk nya.
''Hey hey hey kamu mau kemana?'' tanya Leon.
''Apa peduli anda?'' tanya wanita itu balik.
''Akhhh siall, kenapa semuanya bisa seperti ini. Waktu itu, waktu itu aku tidak ingat apapun. Tapi aku yakin jika anak itu bukan anakku. Aku harus mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya dulu,'' batin Leon.
Nois berjalan meninggalkan Leon, namun Leon segera mencegahnya.
''Kamu mau kemana?'' tanya Leon lagi.
''Aku ingin pergi,'' jawab Nois.
''Iya, pergi kemana? Di sini kan nggak ada saudaramu,'' ucap Leon. Nois hanya diam. Benar, di sini tak ada satupun keluarganya. Uang yang ia bawa hanya pas-pasan. Ia juga bingung harus tinggal di mana. Leon menangkap wajah kebingungan Nois.
''Ikut aku,'' ujar Leon berjalan di depannya, Nois mengikutinya dari belakang.
Mereka melewati para karyawan perusahaan Lewis Corp. Ana juga melihat jika Leon baru saja pergi bersama wanita yang ia jumpai di ruangan Leon tadi.
''Wanita itu sebenarnya siapa sih,'' batin Ana bertanya-tanya.
Leon mengendarai mobilnya menuju apartemen yang tak jauh dari kantornya. Apartemen itu pun juga tak jauh letaknya dari apartemen Ana.
''Sementara ini, kamu tinggal di sini,'' ucap Leon datar.
''Saya tidak mau!'' tolaknya.
''Why?''
''Tolong jangan membuat aku pusing No,'' ucap Leon.
''Beberapa bulan ini, saya mengalami insomnia. Saya tak pernah bisa tidur pulas. Yang ada di bayangan saya hanya anda Tuan. Mungkin anak kita yang menginginkan dekat dengan ayahnya,'' ucap Nois.
''Aku nggak bisa! Aku mempunyai kekasih No, dan sebentar lagi aku akan menikah dengannya. Apa kata kekasihku jika ia tau kita tinggal 1 atap,'' ucap Leon.
''Saya hanya ingin dekat dengan anda Tuan. Saya janji akan merahasiakan ini semua,'' ucap Nois dengan wajah yang memelas.
''Enggak! Kamu hanya boleh tinggal di sini. Jika tak mau ya sudah, cari tempat tinggalmu sendiri,'' ujar Leon meninggalkan Nois.
__ADS_1
Leon sangat yakin jika anak yang di kandung Nois itu bukan anaknya. Namun ia masih perlu bukti untuk membuktikan jika ia tak pernah melakukan hubungan terlarang itu bersama Nois.
Leon pun kembali ke perusahaan. Di ruangannya, Ana telah menunggu Leon.
''Kamu dari mana Mas?'' tanya Ana saat Leon baru saja membuka pintu.
''Eh,'' Leon terlonjak kaget. ''Sayang kamu ngapain di sini. Buat orang jantungan saja,'' ucap Leon mengusap dadanya.
''Kamu dari mana?'' tanya Ana kembali.
''Em, aku tadi keluar sebentar. Apa kamu sudah menunggu lama?'' tanya Leon duduk di samping Ana.
''Lumayan Mas. Ayo kita makan,'' ucap Ana membuka bekal yang sempat ia masak tadi pagi.
''Wah kayaknya enak banget nih. Pinter banget sih calon istriku masak kayak gini,'' puji Leon.
''Biasa aja kali Mas. Tiap hari juga di masakin seperti itu, kenapa mujinya baru sekarang,'' ucap Ana yang menangkap tingkah Leon hari ini sangat aneh.
''Mas, wanita tadi siapa? Kenapa ada di sini,'' tanya Ana.
''Em, itu, dia mantan sekretarisku yang ada di LN. Dia ingin liburan di sini,'' bohong Leon.
''Ohh,'' Ana menganggukkan kepalanya mengerti.
Tingg.
''Bagaimana caranya saya makan. Bahkan saya tidak memiliki uang sepeserpun,'' bunyi pesan itu.
''Huhh, merepotkan saja,'' batin Leon kesal.
Leon mengirim pesan kepada Dirga, untuk mengantar makanan ke apartemen yang di sewa Leon untuk Nois.
''Apa ada masalah Mas?'' tanya Ana yang sejak tadi merasa di cueki oleh Leon.
''Oh, enggak kok sayang,'' ucap Leon langsung menaruh hp nya kembali.
''Mas Leon kenapa ya. Sejak tadi ia seperti tak tenang seperti itu,'' batin Ana.
Setelah makan siang bersama-sama selesai. Ana segera kembali ke ruangannya. Sementara Leon menghubungi orang suruhannya yang berada di LN untuk mencari bukti-bukti tentang kehamilan Nois.
''Bagaimana kalau Ana sampai tau masalah ini. Dia pasti tak mau menikah denganku,'' batin Leon kembali teringat kepingan kejadian sewaktu berada di LN saat ia patah hati.
Sore hari pun tiba. Leon yang sudah berjanji ingin jalan-jalan dengan Ana pun sampai lupa karna tiba-tiba di telepon oleh Nois karna perutnya terasa kram.
Leon segera melajukan mobilnya menuju apartemen di mana Nois berada. Sedangkan Ana masih menunggu Leon di loby perusahaan, Ana kira Leon masih berada di ruangannya.
__ADS_1
''Mas Leon mana sih. Tadi katanya udah mau turun,'' gumam Ana menoleh ke kanan ke kiri namun tak melihat Leon.
Ana mencoba menelpon Leon, namun tidak di angkat oleh pemilik telepon.
''Apa aku kembali aja ya ke lantai atas. Mungkin Mas Leon masih di ruangannya,'' gumam Ana. Ia kembali lagi ke atas, tempat ruangan Leon berada.
''Nona cari siapa?'' tanya Dirga tiba-tiba muncul dari belakang Ana.
''Eh, Pak Leonnya ada?'' tanya Ana.
''Tuan sudah pulang Nona. Mungkin sekitar 20 menit yang lalu,'' ucapnya.
''Pulang?'' Ana mengerutkan keningnya. Baru kali ini Leon mengingkari janjinya.
''Iya Nona,'' ucap Dirga.
Ana lebih memilih pulang dengan perasaan hampa. Ia jelas kecewa kepada Leon yang meninggalkannya tanpa ada penjelasan.
Tringg tringg tringg.
Ponsel milik Ana berdering saat ia berada di taksi. Ana segera mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. Ana berharap yang menelpon adalah Leon, namun ia harus menelan kekecewaannya lagi saat melihat yang menelponnya ialah Lufi.
''Halo Fi, ada apa?'' tanya Ana.
''Kamu dimana An? Udah pulang kan? Langsung kesini dong, aku kangen nih sama kamu,'' ujar Lufi.
''Em, oke aku akan langsung ke sana, bye,'' ucap Ana mematikan panggilan teleponnya.
Sesampainya di rumah keluarga Lewis, Ana tak mendapati mobil Leon yang terparkir di halaman rumah. Itu artinya Leon belum sampai di rumahnya.
''Sebenarnya Mas Leon kemana ya,'' gumamnya dalam hati.
Ana memilih masuk ke dalam rumah. Dan di ruang keluarga sudah ada Lufi yang menunggunya.
''Anaaaaa,'' Lufi berlari memeluk Ana, Ana membalas pelukan Lufi. ''Aku kangen banget tau sama kamu,'' ujarnya.
''Kita ketemu baru 3 hari yang lalu Fi. Segitu kangennya kamu sama aku,'' ucap Ana.
''Ya gimana dong, biasanya kan kita bareng-bareng terus. Kayak ada yang nggak lengkap gitu kalau kamu nggak ada,'' ucap Lufi melepaskan pelukannya
*
*
Walaupun aku kecewa sama NT tapi aku berusaha update ya bestie.
__ADS_1
Doakan author amatir ini biar di panjang lebarkan sabarnya.