Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 99 PGD


__ADS_3

''Aduh, tubuhku sakit semua,'' rintih Ana saat bangun dari tidurnya. Matahari pun sudah tinggi, dan mereka baru saja bangun setelah pergulatan panas tadi pagi.


''Kamu kenapa Yang?'' tanya Axel dengan suara khas bangun tidur.


''Tubuhku rasanya remuk Mas, seperti habis di keroyok orang 1 kampung,'' ujar Ana memijat mijat area pahanya.


''Sini aku pijitin,'' ucap Axel.


''Enggak ah. Yang ada nanti mijitin yang lain,'' ucap Ana mengerucutkan bibirnya.


''Hehe, enggak Yang. Janji deh,'' ujar Axel. Ia pun segera memijit paha Ana sampai kakinya. Memang olah raga semalam dan tadi pagi membuat Ana kelelahan. Bahkan tubuhnya seperti remuk tak bertulang.


*


1 bulan pun telah berlalu. Kondisi kaki Naswa saat ini sudah lumayan sembuh. Ia sudah bisa berjalan walaupun masih pelan-pelan. Naswa ingin segera keluar dari rumah itu dan mencari pekerjaan. Kasihan adik dan kedua orang tuanya di rumah jika ia tak bekerja di sini.


''Kaki cepet sembuh ya. Masih banyak mimpi yang harus kau kejar,'' gumamnya.


Di rumah yang sama namun berbeda tempat, saat ini Leon baru saja mengomeli adiknya yang baru pulang pagi hari. Padahal ia pergi kemarin sore, kenapa pulang di pagi hari? Pertanyaan itu di lontarkan kepada adik perempuannya yang semakin hari semakin susah di bilangi.


''Jawab yang jujur kamu dari mana aja?'' tanya Leon setengah membentak.


''Dari rumah temen Kak,'' jawab Lufi santai.


''Rumah temen? Temen yang mana? Aku bahkan tak tau jika kamu punya teman selain Ana,'' ucap Leon.


''Pasti kamu habis dari apartemen Nino kan?'' tebak Leon. Lufi langsung pucat pasi saat Leon bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi.


''Iya kan?! Jawab Fi!'' bentak Leon.


''I iya,'' Lufi menundukkan wajahnya, ia juga takut jika di bentak seperti itu oleh Leon.


''Udah mulai pinter yah kamu. Main ke apartemen cowok sampai nginep segala. Mau jadi apa kamu ha?'' tanya Leon dengan tatapan penuh amarah.


''Nino tunangan aku Kak. Udah biasa kan kalau aku nginep di sana,'' ucap Lufi.


''Kamu perempuan, kalau kamu hamil gimana?'' tanya Leon semakin marah dengan jawaban Lufi.

__ADS_1


''Aku nggak mungkin hamil Kak. Kita nggak ngelakuin apa-apa. Kakak percaya deh sama aku,'' ucap Lufi.


''Mending kalian cepat nikah, aku nggak mau menanggung malu jika kamu hamil duluan,'' ujar Leon.


''Aku kan udah pernah bilang, aku nggak mau ngelangkahin Kakak. Kenapa Kakak nggak ngerti sih,'' gerutu Lufi.


Leon mengusap wajahnya kasar. ''Kakak belum ada calon Fi. Kamu juga harus ngertiin Kakak dong,'' ucap Leon.


''Kak Naswa mau di kemanain. Kayaknya akhir-akhir ini kalian deket banget deh. Aku penasaran hubungan di antara kalian,'' ucap Lufi menatap Leon penuh selidik.


''Eh, kenapa malah ngomongin Naswa,'' ucap Leon tak terima.


''Memangnya kenapa? Aku tau kalian itu sama-sama suka. Tapi Kakak aja yang kurang peka dengan perasaan Kakak sendiri,'' ucap Lufi.


''Aku deket sama dia hanya karna aku merasa bertanggung jawab atas Naswa Fi. Nggak lebih,'' ucap Leon.


''Awas ya Kak, kemakan omongan sendiri. Aku yakin kalian itu sama-sama suka. Tapi Kakak aja yang nggak mau ngakuin, Kakak masih menyimpan nama Ana di hati Kakak,'' ucap Lufi.


''Apa benar yang di katakan Lufi,'' batin Leon.


''Kalau suka ungkapin. Dari pada nanti nyesel,'' ucap Lufi meninggalkan Leon.


''Aku harus keluar dari rumah ini dari pada hati ini nggak bisa melupakan dia,'' ucap Naswa membereskan pakaiannya ke dalam tas yang pernah ia bawa untuk mencari pekerjaan di Jakarta.


*


Pagi hari pun tiba. Leon dan Lufi sudah berada di kursi meja makan, Naswa pun ikut bergabung di sana. Sudah 2 hari ini ia tak memakai kursi roda. Jalannya sudah cukup lancar walaupun harus pelan-pelan.


''Pagi semua,'' sapa Naswa.


''Pagi Kak,'' ucap Lufi.


''Pagi,'' ucap Leon.


Mereka pun sarapan pagi tanpa ada yang bersuara. Naswa juga bingung harus mengawali pembicaraan dari mana.


''Em, Naswa mau ngomong,'' ucap Naswa lirih.

__ADS_1


''Ngomong aja Kak. Ada apa?'' tanya Lufi penasaran.


''Em gini,'' Naswa mengambil nafas dalam-dalam lalu di hembuskannya secara perlahan. ''Naswa kan udah sembuh, Naswa mau pamit ke Mas Leon dan Lufi. Makasih udah mau menampung Naswa di sini, semoga Tuhan membalas semua kebaikan kalian,'' ujar Naswa.


''Kamu mau pamit kemana Nas?'' tanya Leon yang tak rela jika Naswa pergi dari rumah itu.


''Naswa ingin mencari kerja Mas,'' ucap Naswa.


''Cari kerja dimana? Di Jakarta susah lo cari kerja,'' ucap Leon.


''Naswa siap kok kerja apa aja. Maka dari itu Naswa mau cari kerja Mas. Naswa masih punya cita-cita untuk membahagiakan kedua orang tua dan adik yang harus melanjutkan studynya,'' ucap Naswa.


''Kenapa hatiku rasanya tak rela jika Naswa pergi dari sini? Ada apa sebenarnya denganku,'' batin Leon.


''Kapan kamu akan pergi?'' tanya Leon datar.


''Setelah sarapan ini Mas. Lebih cepat lebih baik bukan?'' ucap Naswa.


''Mas Leon kenapa kayak nggak ikhlas gitu. Hihi pasti dia udah jatuh hati sama Kak Naswa tapi masih sok jual mahal,'' batin Lufi hanya menyimak perbincangan mereka berdua.


Setelah sarapan usai, Naswa mengambil barang-barangnya yang berada di kamar yang selama ini ia tempati. Ia menggendong tas ransel dan menjinjing tas plastik.


''Beneran kamu mau pergi?'' tanya Leon memastikan.


''Iya Mas, aku pamit ya. Makasih untuk semuanya, Naswa juga mau minta maaf jika Naswa di sini punya banyak salah sama kalian,'' ucap Naswa.


''Aduh drama ini kapan sih berakhirnya, Kak Leon nggak peka banget jadi cowok. Udah kelihatan kalau Kak Naswa berat gitu mau pergi, ehh dianya malah santai gitu, nanti ujung-ujungnya nyesel,'' gerutu Lufi dalam hati.


''Fi, Kakak pamit ya,'' ucap Naswa mencium pipi kanan dan pipi kiri milik Lufi.


''Hati-hati Kak,'' ucap Lufi tersenyum ke arah Naswa. ''Kalau mau nikah kabarin Lufi ya, pasti Lufi datang,'' ucap Lufi cengengesan sambil melirik Leon.


''Lufi apa-apaan sih, kenapa ngomongin nikah segala,'' gerutu Leon dalam hati.


''Ya udah bye semua,'' Naswa melambaikan tangan ke arah Leon dan Lufi. Leon hanya diam tak membalas lambaian tangan Naswa, ia seperti tak rela Naswa pergi dari rumahnya.


*

__ADS_1


*


__ADS_2