Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 51 PGD


__ADS_3

1 bulan telah berlalu, dan hari ini adalah tepat hari di mana Kevin, Nino, Indra dan Lukman wisuda. Sebenarnya Lufi ingin sekali datang untuk menghadiri wisuda sahabat-sahabatnya, namun ia tak mau bertemu dengan orang yang sangat ia cintai.


''Gimana Fi, jadi pergi nggak?'' tanya Ana.


''Huh, aku di lema An,'' ucap Lufi menghembuskan nafasnya kasar. Ia benar-benar di lema kali ini.


''Setidaknya kita memberi selamat kepada yang lain,'' ucap Ana.


''Baiklah, aku siap-siap dulu,'' ucap Lufi bergegas pergi ke kamarnya.


Ana pun juga bersiap-siap di kamarnya.


''Aku pakek baju yang mana ya?'' gumam Ana sambil mengobrak abrik baju yang ada di lemarinya. ''Ini aja deh, pasti Kak Kevin seneng kalau aku pakek ini, ini kan hadiah ulang tahun aku darinya, ya itung-itung aku menghargai pemberian darinya,'' ucap Ana mengambil dress warna putih pemberian Kevin.



Pasti nanti ada yang ngamuk😂


Ana terlihat sangat anggun memakai dress tersebut. Ia segera keluar dari kamar dan menunggu Lufi di ruang keluarga. Lufi juga terlihat anggun dengan dress berwarna peach, Nino pernah memilihkan dress itu untuk Lufi.


''Waoww, kamu sangat cantik Fi,'' puji Ana.


''Kamu juga cantik An. Kita berangkat sekarang yuk,'' ucap Lufi.


''Kamu beneran mau nyetir sendiri. Kaki sama tanganmu emang udah sembuh beneran?'' tanya Ana ragu.


''Iya beneran, aku udah sembuh total An. Udah jangan khawatir,'' ucap Lufi.


Mereka pun berangkat menuju kampus. Di sepanjang perjalanan mereka nampak mengobrol santai, hingga tanpa sadar mobil yang mereka kendarai telah sampai di halaman kampus.


Kebetulan Kevin dan yang lain baru saja tiba di kampus.


''Selamat buat Kakak-kakakku atas gelar barunya,'' ucap Ana.


''Makasih An. Semoga cepet nyusul ya,'' ucap Kevin dengan senyuman. Ia terpesona melihat kecantikan Ana saat memakai dress yang ia berikan saat itu.


''Selamat ya semuanya, semoga ilmunya bermanfaat,'' ucap Lufi.


''Aamiin,'' ucap mereka serempak.


Lufi terlihat tolah toleh mencari seseorang yang hampir 1 bulan ini tak ia lihat.


''Pasti kamu cari Nino kan?'' tanya Indra.


''Enggak, siapa bilang aku mencarinya,'' ucap Lufi berkilah.

__ADS_1


Tiba-tiba ada mobil alphard berwarna putih parkir di dekat mereka. Orang yang ada di dalam mobil itupun turun, Ana dan yang lainnya pun penasaran dengan orang yang ada di dalamnya.


''Nino,'' ucap Mereka.


''Halo bro,'' ucap Nino mendekat ke arah Kevin dan sahabatnya yang lain.


''Gimana udah sehat beneran? Maaf ya belum sempet jengukin kamu lagi, akhir-akhir ini kita di sibukan sama pekerjaan di kantor orang tua kita masing-masing,'' ucap Kevin mewakili teman-temannya yang lain.


''Its oke, nggak pa-pa kali. Aku udah sehat kok,'' ucap Nino. Tiba-tiba ada tangan yang melingkar di lengan Nino, siapa lagi kalau bukan Diska. Baju yang mereka pakai pun senada, Lufi yang melihat itu semua hanya memalingkan wajahnya.


''Kalian udah jadian?'' tanya Indra penasaran.


''Nggak, iya,'' mereka berdua menjawab barengan.


''Nggak, dia udah aku anggap seperti adik sendiri kok,'' ucap Nino.


''Kok gitu sih No, orang tua kita kan udah setuju dengan hubungan kita,'' ucap Diska sambil merengek.


''Tapi kan---


''Nih kenalin, cewek baru aku. Dia cantik kan?'' ucap Indra tiba-tiba merangkul pundak Lufi. Semua orang yang ada di sana diam membeku dengan perkataan Indra.


''Dia? Ternyata dia kekasihnya Indra? Tapi baju itu, aku seperti tak asing dengan baju itu tapi di mana aku melihatnya?'' batin Nino tiba-tiba memegang kepalanya yang terasa sakit.


''Kamu kenapa No?'' tanya Diska panik.


''Nino,'' panggil Diska.


''Lufi,'' gumam Nino pelan, tak ada yang mendengar ucapan Nino. Lufi hanya menangis saat melihat Nino yang merasa kesakitan seperti itu, namun ia tak bisa mendekat apalagi sampai menyentuhnya.


''Nino kamu kenapa?'' tanya Diska lagi.


''Aku baik-baik saja,'' ucap Nino yang merasa kepalanya sudah tak sesakit tadi.


''Apa kamu bilang tadi? Dia kekasihmu? Yang ada dia kekasihku Ndra,'' ucap Nino tiba-tiba. Semua orang di sana melongo mendengarkan ucapan Nino.


''Nino kamu---


''Ya, aku sudah ingat. Dia Lufi kekasih yang sangat aku cintai,'' ucap Nino mendekat ke arah Lufi. Namun air mata Lufi seperti air yang mengalir deras. Ini pasti mimpi, pikir Lufi.


''Fi, maafkan aku,'' ucap Nino memeluk tubuh Lufi yang mematung.


''Maafin aku karna aku baru ingat semuanya Fi,'' ucap Nino.


''An, cubit aku. Pasti aku cuma mimpi kan,'' ucap Lufi yang tak percaya jika Nino sudah kembali mengingatnya lagi.

__ADS_1


''Ini bukan mimpi Fi. Ini nyata, Nino ingat semuanya Fi,'' ucap Ana juga merasa bahagia.


''Nino,'' ucap Lufi pelan.


''Iya sayang. Kamu mau kan maafin aku,'' ucap Nino mengurai pelukannya.


''Seharusnya aku yang minta maaf. Gara-gara aku kamu jadi seperti ini No,'' ucap Lufi.


''Bukankah seorang laki-laki harus melindungi perempuannya?'' tanya Nino. Lufi kembali memeluk Nino dengan erat. Diska merasa geram karna ingatan Nino sudah kembali lagi.


''Udah stop!!! Kita ini mau menikah No. Kenapa kamu peluk-peluk wanita lain,'' ucap Diska memisahkan mereka berdua.


''Kapan aku menyetujuinya? Aku hanya menganggapmu sebagai adikku, tidak lebih Dis,'' ucap Nino.


''Enggak! Pokoknya aku mau kita menikah!! Orang tua kita sudah menyetujui hubungan kita No,'' ucap Diska.


''Aku hanya mencintai Lufi. Dan sampai kapan pun aku hanya akan menikahi dia, bukan kamu ataupun orang lain!'' ucap Nino tegas.


''Kamu jahat No, kamu jahat!!!'' ucap Diska pergi meninggalkan mereka.


''Kita masuk yuk!'' ajak Nino.


''Gimana sama dia No? Gimana kalau dia nekad?'' ucap Lufi.


''Udah jangan di fikirin,'' ucap Nino menggandeng tangan Lufi masuk ke dalam gedung yang di gunakan untuk acara wisuda.


Ana berjalan di belakang mereka, di sampingnya ada Kevin yang setia berada di samping Ana.


''Kamu cantik An,'' ucap Kevin.


''Terima kasih Kak, bajunya sangat bagus, siapapun yang memakainya akan terlihat cantik,'' ucap Ana.


''Tidak An, karna orang yang memakainya sangat cantik, makanya pakai baju apapun akan terlihat sangat pas,'' puji Kevin.


''Kak Kevin bisa aja sih,'' ucap Ana.


''Apa ini tanda kamu menerima cintaku An?'' batin Kevin.


''Aku takut jika nanti aku mengutarakan perasaanku, kau malah menghindariku An,'' batin Kevin lagi.


Mereka pun duduk di kursi masing-masing. Tak ada orang tua mereka yang ikut hadir, karna sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dan mereka pun sudah terbiasa hidup tanpa ada orang tuanya di sisi mereka.


*


*

__ADS_1


Dah ya, Nino dah kembali ingat tuh.


Jangan lupa kasih gift nya buat author amatir ini😁😁


__ADS_2