Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 72 PGD


__ADS_3

Sesampainya di lantai 9 nafas Ana terasa ingin habis. Ia mengeluarkan semua tenaganya untuk menaiki anak tangga yang lumayan banyak dengan kecepatan tinggi. Untung saja Ana tak kehilangan jejak Leon. Leon baru saja masuk ke dalam salah satu unit apartemen yang berada di ujung pojok.


Ana melangkahkan kakinya dengan perlahan. Antara melanjutkan langkahnya atau kembali ke apartemen miliknya sendiri.


''Aku benar-benar takut ya Tuhan,'' gumam Ana. Keringat dingin mengucur pada tubuhnya. Detak jantungnya pun seperti lari maraton saja.


Sesampainya di depan pintu apartemen yang Leon masuki tadi. Tangan Ana menggantung di udara. Ingin rasanya ia mengetuk pintu, namun ia juga takut menghadapi kenyataan nantinya.


''Ayo Ana, kuatkan hatimu lagi. Jangan lemah seperti ini,'' guman Ana. Tangannya mengetuk pintu apartemen itu, namun tak ada tanda-tanda di bukakan pintu.


''Apa aku tadi salah lihat ya, kalau Mas Leon masuk ke apartemen yang ini,'' batin Ana.


Tubuh Ana rasanya sangat lemas setelah menaiki anak tangga tadi. Ia bersandar di depan pintu kamar yang tadi ia ketuk, dan tak di sangka pintu itu malah terbuka dengan mudah.


''Eh,'' Ana kaget saat pintu apartemen terbuka dengan sendirinya. Saat Ana ingin menutup kembali pintu tadi, ia malah mendengar suara yang tak asing di telinganya.


''Kok di dalem seperti suara Mas Leon ya,'' gumam Ana mengurungkan niatnya untuk menutup pintu itu. Ia malah masuk ke dalam apartemen yang entah siapa pemiliknya. Ana mendengar suara itu berasal dari dalam ruangan yang ia yakini itu adalah sebuah kamar.


''Aww pelan No, tubuhmu kenapa berat sekali,'' ucap suara yang berasal dari dalam kamar.


Ana mendekat lagi ke arah kamar. Sesampainya di depan pintu Ana memejamkan matanya sejenak dan menghembuskan nafasnya panjang. Lalu ia memutar knop pintu dengan pelan. Mata Ana mengintip lewat celah pintu, saat tau siapa yang ada di dalam sana, Ana langsung melebarkan matanya. Pintu pun di buka selebar-lebarnya oleh Ana sampai berbunyi brakkk.


Seseorang yang ada di dalam sana pun terlonjak kaget.


''Ana,'' gumam Leon yang saat ini tengah menggendong Nois.


''Ini yang kamu bilang bisnis Mas! Sejak kapan kamu berbisnis dengan wanita-wanita seperti ini, ha?'' ucap Ana dengan mata yang memerah menahan amarah.


''Sayang aku bisa jelasin semuanya,'' ucap Leon langsung menurunkan Nois dari gendongannya.


''Jelasin? Apa yang mau kamu jelasin! Semuanya sudah jelas Mas. Aku benar-benar kecewa sama kamu,'' ucap Ana langsung meninggalkan Leon dan Nois begitu saja. Air mata yang di bendungnya sejak tadi mengalir dengan deras di pipinya.


Seseorang yang selama ini di percaya dan sangat di cintainya mampu mengkhianatinya.


''Ana, Ana tunggu Mas sayang,'' Leon mengejar Ana yang tengah berlari menuju lift.

__ADS_1


Tiba-tiba tubuh Ana hampir tumbang saat ia menabrak tubuh kekar seseorang.


''Maaf, Maaf,'' ucap Ana yang masih tertunduk.


''Ana, Ana kamu kenapa?'' tanya seseorang yang Ana tabrak ternyata sangat mengenal Ana. Ana pun mendongakkan wajahnya. Ia menatap orang yang berada di hadapannya saat ini.


''Tolong bawa aku pergi dari sini Mas,'' ucap Ana. Orang tersebut dengan senang hati membawa Ana dan langsung memencet tombol ke lantai 1 atau lantai dasar.


''Ana! Ana,'' Leon terlambat mengejar Ana. Ia memilih turun menggunakan tangga darurat.


''Ana maafin aku An,'' batin Leon di sela-sela ia turun.


Saat sampai di lantai bawah, Axel mengajak Ana pergi menggunakan mobilnya. Ana pun menurut tak ada penolakan saat Axel juga menggandeng tangannya.


Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil milik Axel, Leon terlambat mengejar Ana.


''Ana maafin aku sayang,'' gumamnya lirih. Air matanya pun menetes.


Di dalam mobil, Ana hanya diam. Namun air matanya tak bisa berhenti begitu saja. Air matanya terus menerus turun lewat pipinya. Ia berusaha menghapus air matanya, namun air mata itu lagi-lagi turun dengan sendirinya.


''Apa memang aku tak pantas untuknya Mas. Kenapa aku harus merasakan sakit hati seperti ini. Aku nggak nyangka jika Mas Leon punya wanita lain di belakangku. Dan, dan aku melihat wanita itu sedang mengandung Mas, hiks hiks,'' gumam Ana kembali terisak.


''Dia yang tidak pantas untukmu An. Kamu terlalu baik dan sempurna untuknya,'' ucap Axel.


''Lupakan dia. Dia memang lelaki brengsek,'' ucap Axel menggenggam stirnya dengan erat. Ia juga kesal kepada Leon yang tak bisa menjaga hati untuk tidak melukai Ana.


''Apa aku bisa Mas?'' tanya Ana kepada Axel.


''Kenapa kamu tidak bisa. Kamu pasti bisa An. Di luaran sana banyak lelaki yang ingin bersanding denganmu. Laki-laki yang akan menjagamu dan tak akan melukaimu An,'' ucap Axel.


''Kamu tidak tau Mas. Aku rasanya juga tak pantas bersanding dengan lelaki manapun, karna aku sudah ternodai oleh orang yang saat ini menoreh luka di hatiku,'' batin Ana.


''Sekarang kamu mau kemana?'' tanya Axel.


''Entahlah, aku tak ingin kembali ke apartemen. Namun semua barang-barangku ada di sana Mas,'' ucap Ana.

__ADS_1


''Kalau begitu kamu pulang ke rumahku saja ya,'' ucap Axel.


''Jangan Mas! Aku nggak mau merepotkan Mas Axel,'' tolak Ana.


''Nggak merepotkan An. Di rumahku kamu akan aman, aku yakin Leon tak bisa menemukanmu,'' ucap Axel.


''Bagaimana dengan orang tua Mas Axel,'' ucap Ana.


''Di sana hanya ada Mamaku, pasti dia senang bisa bertemu denganmu,'' ucap Axel. Ana tak punya pilihan lain lagi selain ikut ke rumah Axel. Ia ingin melupakan masalahnya sejenak sampai ia benar-benar kuat untuk menghadapi masalah itu.


Setelah hampir setengah jam perjalanan, mereka pun telah sampai di rumah keluarga Axel. Rumah yang juga tak kalah besar dari rumah Leon.


''Masuk yuk,'' ajak Axel.


''Iya Mas,'' ucap Ana mengikuti Axel dari belakang.


''Nggak usah takut An, Mamaku nggak galak kok,'' ucap Axel yang tau jika Ana saat ini tengah gugup.


''I iya Mas,'' ucap Ana.


Mereka masuk melewati ruang tamu. Sama seperti rumah Leon, di sini juga hening seperti tak ada penghuninya.


''Ma, mama,'' panggil Axel.


''Ingat rumah juga kamu,'' ucap Mama Axel yang keluar dari arah dapur.


''Ya ingat dong Ma, ini kenalin temen Axel Ma,'' ucap Axel mengenalkan Ana kepada Mama Tari.


''Ini temen atau temen?'' tanya Mama Tari.


''Temen Ma,'' ucap Axel.


''Halo Tante, saya Ana, temennya Mas Axel,'' ucap Ana menyalami Tante Tari dengan takzim.


''Saya Tari, Mamanya Axel,'' ucap Tante Tari tersenyum penuh arti kepada Ana.

__ADS_1


*


__ADS_2