Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 93 PGD


__ADS_3

Leon pulang ke Jakarta dengan perasaan hancur. Sesampainya di Jakarta orang yang pertama kali ingin ia tanya adalah Lufi.


Tok tok tok.


''Fi, Lufi!'' teriak Leon.


Ceklek.


''Apa sih Kak?'' tanya Lufi yang terlihat kesal karna Leon telah mengganggunya.


''Waktu wisuda kemarin kamu bertemu Ana kan?'' tanya Leon.


Lufi mengangguk. ''Iya, terus?''


''Ana datang sama siapa?'' tanya Leon lagi.


''Aku nggak tau!'' ucap Lufi seadaanya. Lufi pun sebenarnya masih kesal dengan Leon.


''Fi, aku beneran nanya ini,'' Leon pun di buat jengkel oleh jawaban Lufi.


''Ya aku memang nggak tau. Aku datang duluan, tapi Ana pulang duluan. Aku nggak bareng-bareng sama dia,'' ucap Lufi sewot.


''Kamu tau kan kalau Ana udah menikah?'' tanya Leon dengan tatapan penuh selidik.


''Menikah? hahahaha, Kakak bukan pelawak ya, candaan Kakak nggak lucu,'' ujar Lufi tak percaya.


''Ana sudah menikah Fi. Dia menikah dengan musuh Kakak!'' ucap Leon geram jika mengingat kejadian tadi.


''Apa?! Kenapa Ana nggak beritahu aku?'' ucap Lufi tengah berfikir.


''Akhhhhh, aku terlambat Fi. Aku terlambat,'' ucap Leon penuh penyesalan.


''Udahlah Kak. Kakak kan udah punya istri yang cantik, sebentar lagi punya dede bayi yang lucu, kenapa harus mengharapkan Ana,'' ujar Lufi setengah menyindir. Lufi juga melihat Nois yang sedang lewat di dekat mereka.


''Dia cinta pertama Kakak Fi. Gimana Kakak bisa melupakan dia. Kakak sangat-sangat mencintainya. Ini semua gara-gara Nois sialan, kalau dia nggak datang di kehidupan kami pasti semua ini nggak akan terjadi,'' gumam Leon mengepalkan tangannya erat.


''Nggak perlu menyesali semua yang sudah terjadi. Biarkan Ana bahagia dengan suaminya. Aku nggak sabar cepet-cepet dapet kabar kalau Ana hamil gitu. Pasti anak mereka lucu banget,'' ucap Lufi di buat-buat. Ia ingin membuat Leon marah.


''Tutup mulutmu jika masih mau uang jajan dari Kakak,'' ujar Leon menatap tajam ke arah Lufi. Leon lebih memilih pergi ke kamarnya. Otaknya rasanya ingin meledak saat itu juga.

__ADS_1


Namun di tempat yang sama namun berbeda kamar. Nois sedang memikirkan ucapan Lufi tadi. Jika benar kekasih Leon sudah menikah itu artinya ia bisa menjadi satu-satunya di hidup Leon. Nois pun tersenyum licik.


*


1 bulan pun telah berlalu. Hubungan Ana dan Axel sudah semakin dekat. Apalagi 1 bulan ini mereka tidur bersama dan hidup hanya berdua saja, membuat mereka perhatian satu dengan yang lain.


''Mas ini sarapannya,'' Ana meletakkan 2 piring nasi goreng yang setiap pagi ia buat. Karna mereka sama-sama bekerja, Ana membuat menu simple di pagi hari.


''Terima kasih istriku,'' ujar Axel. Ana pun tersipu malu dengan panggilan Axel. Selama 1 bulan ia menjadi istri Axel, jantung nya selalu maraton jika Axel perhatian lebih atau duduk terlalu dekat dengannya. Apa Ana sudah jatuh cinta kepada Axel? Entahlah. Namun saat ini Ana nyaman berada di dekat suaminya. Ia seperti di lindungi.


''Nanti, mungkin aku pulang telat An, kamu pulang naik taksi nggak pa-pa kan?'' ucap Axel.


''Nggak pa-pa Mas,'' ucap Ana.


Setelah sarapan selesai, Axel mengantar Ana berangkat bekerja terlebih dulu. Setelah itu ia baru berangkat menuju rumah sakit milik pamannya.


''Semangat kerjanya Honey, Love you,'' ucap Axel menatap Ana dengan senyuman khasnya.


''Iya Mas, Mas Axel juga semangat ya,'' ucap Ana. Axel menganggukkan kepalanya pelan. Ana pun turun dari mobil suaminya dan melambaikan tangan ke arah Axel. Axel hanya tersenyum, lalu ia berangkat menuju rumah sakit.


Sesampainya di meja kerjanya, Ana mendengar gosip-gosip tentang teman satu divisi dengannya.


''Bener, Mbak Meta itu dicerai sama suaminya. Ya katanya sih gara-gara nggak kasih jatah gitu selama menikah. Kan mereka menikah karna di jodohkan. Tapi Mbak Meta nya masih mengharap kekasihnya yang dulu itu loh. Katanya sih masih berhubungan sama kekasihnya itu di belakang suaminya,'' ujar salah satu temannya.


''Ya gitu deh. Kan namanya cinta nggak bisa di paksa. Iya nggak sih. Tapi kalau ujung-ujungnya kayak gini sih siapa yang mau,''


''Terus ada yang pernah lihat Mbak Meta itu keluar dari hotel sama kekasihnya itu tu. Coba ngapain mereka ke hotel, kalau nggak gitu-gituan.''


Deg.


''Kenapa kisahnya hampir sama dengan kisahku ya. Aku sampai saat ini belum memberikan hak suamiku. Apa Mas Axel akan menceraikan aku juga kalau aku nggak memberikan haknya,'' batinnya.


Tiba-tiba hatinya dilema setelah mendengar ucapan teman-temannya. Siapa sih yang mau jadi janda? Nggak ada kan, sebisa mungkin Ana juga akan mempertahankan rumah tangganya, walaupun masih sulit untuk mencintai Axel.


*


Hari pun sudah berganti menjadi sore. Ana yang lelah bekerja seharian pun segera memesan taksi online untuk mengantarkannya menuju kos.


Setelah perjalanan beberapa menit, Taksi yang di tumpangi Ana telah sampai di depan kos-kosan. Ana segera masuk dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.

__ADS_1


''Akhhh, kenapa aku kefikiran perkataan teman-teman tadi ya. Apa aku harus melakukannya sekarang. Tapi sebenarnya aku belum siap. Aku harus gimana. Kasihan juga Mas Axel, aku sangat berdosa jika terus menerus seperti ini,'' batin Ana meraup wajahnya dengan kasar.


*


Ia segera bergegas mandi sebelum Axel pulang dari rumah sakit. Setelah mandi, ia memasak untuk makan malam mereka berdua.


Pukul 8 malam, Axel baru pulang dari rumah sakit. Wajah lelahnya membuat Ana merasa iba.


Huh. Axel menyandarkan tubuhnya di kursi, matanya terpejam sejenak.


''Mas Axel capek ya?'' tanya Ana mendekat ke arah Axel dan memijit tangan Axel.


''Lelahnya hilang setelah ketemu kamu,'' ujar Axel tersenyum.


''Cantik banget sih istri Mas. Pengen makan kalau gini,'' sambungnya lagi.


''Ya udah cepet mandi setelah itu Makan,'' ucap Ana.


''Emang boleh?'' tanya Axel yang salah paham dengan ucapan Ana.


''Ya boleh dong Mas. Aku udah masakin buat Mas Axel,'' ucap Ana membuat senyum Axel tiba-tiba menghilang dari wajahnya.


''Aku kira,,,'' gumamnya.


''Udah cepet mandi dulu sana Mas. Bau ih,'' ucap Ana sambil menutup hidungnya.


''Mana ada aku bau. Wangi gini kok,'' Axel tak terima di bilang bau oleh Ana.


''Iya iya wangi. Tapi Mas Axel harus mandi dulu ya. Setelah itu kita makan bareng,'' ucap Ana.


''Oke, tolong siapin bajuku ya,'' ucap Axel bergegas ke kamar mandi.


''Iya Mas,''


Setelah selesai mandi mereka makan bersama-sama. Ana diam-diam mencuri pandang ke arah Axel.


''Kenapa?'' tanya Axel yang sadar dengan Ana yang mencuri pandang ke arahnya.


''Eh, enggak pa-pa kok Mas,'' kilah Ana.

__ADS_1


''Ada yang ingin kamu tanyakan?'' tanya Axel menatap Ana dengan penasaran.


''Itu anu,,,''


__ADS_2