
Di sebuah ruangan kantor nya, terlihat seseorang yang sedang marah marah dan melempar semua peralatan yang ada di atas meja kerja nya.
Dia begitu kesal dan cemburu karena tidak sengaja melihat orang yang selama ini di cintai nya bermesraan dengan lelaki lain di depan mata nya.
Entah apa yang ada dalam pikiran pria itu saat ini, yang jelas dia terlihat sangat marah. Sekretaris nya pun menjadi korban kemarahan nya.
Sekretaris nya bernama Rio, orang yang dulu pernah duduk di sekolah yang sama dengan nya.
"Rio.. cepat ke ruangan saya sekarang, ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan mu." Perintah Gilang kepada Rio Sekretaris nya sekaligus asisten pribadi nya.
"Baik pak, saya segera kesana." Jawab Rio mulai cemas.
Bagaimana tidak, ketika bos nya sedang marah pasti dia yang akan menjadi pelampiasan untuk kemarahan itu.
Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan Gilang. Dia langsung memerintahkan kepada orang tersebut untuk masuk.
"Kamu kemana aja sih Yo, kok lelet banget jadi orang." Rio yang baru datang langsung di sembur oleh Gilang.
"Sorry bro, lo kenapa sih marah marah terus kerja nya. Kumat lagi?" Tanya Rio.
Rio dulu nya seseorang yang berpenampilan culun sekarang berubah menjadi pribadi yang lebih tegas. Semenjak lulus SMA, Rio memilih kuliah di luar negeri bersama Gilang.
Awal nya Rio selalu menjadi bahan ejekan bagi mahasiswi tempat diri nya kuliah. Melihat kejadian itu, Gilang merasa kesal karena sahabat nya selalu di ejek oleh teman teman nya.
Akhirnya Gilang memutuskan untuk merubah penampilan Rio. Rio pun pasrah dan mengikuti apa yang si sarankan oleh Gilang.
Sejak saat itu mulai lah Rio menjadi seorang pria yang tampan dan berkarisma. Banyak orang yang selama ini mengejek nya, berubah menjadi tergila-gila pada diri nya.
Sampai akhir nya mereka berdua lulus kuliah dengan nilai yang memuaskan. Gilang di perintahkan oleh ayahnya mengurus perusahaan yang berada di Jakarta.
Rio memilih untuk ikut dengan Gilang sambil bekerja di perusahaan Gilang. Dia merasa berhutang budi pada Gilang yang telah merubah kehidupan nya menjadi lebih baik.
Begitu lah kisah singkat tentang Gilang dan Rio sampai akhirnya mereka bekerja di perusahaan yang sama.
Kembali ke cerita Gilang tadi yang sedang marah kepada Rio.
__ADS_1
"Diam lo, batal kan semua meeting kita hari ini. Kemudian cari lah hari yang tepat." Perintah Gilang tegas.
"Tapi Lang, gak bisa gitu dong main batal batal aja. Gue udah atur jadwal yang pas untuk itu semua." Jelas Rio.
"Gak ada tapi tapian, pokok nya cancel semua pertemuan dengan clien hari ini. Atau bonus lo bulan depan gue potong." Ancam Gilang.
"Yah jangan gitu dong lang, oke gue batalkan sekarang. Tapi bonus gue jangan di potong ya.. please deh." Rio tampak memohon kepada Gilang.
"Oke... "
"Yess... " Rio tampak bahagia.
"Tapi gue pikir pikir dulu." Jawab Gilang santai.
"Yah jangan gitu dong lang, kalau lo ada masalah pasti bonus gue yang jadi taruhan nya." Kemudian Rio tampak mengotak atik ponsel nya dan menghubungi seseorang.
"Halo pak, maaf ya pertemuan kita harus ditunda dulu karena kami ada urusan penting dan mendadak. Sekali lagi maaf ya pak, terima kasih." Rio langsung mematikan ponsel nya.
"Tuh udah gue hubungi orang nya, tapi jangan sampai lo potong bonus gue." Rio masih terlihat sangat kesal.
"Ya udah gue pergi ya .. Awas jangan panggil gue lagi nanti, gue yakin lo bakal butuh gue." Kemudian Rio tampak membuka pintu dan keluar dari ruangan bos sekaligus sahabat nya itu.
Tak lama kemudian dia pun masuk kembali dan berhasil mengagetkan lamunan Gilang.
"Aahhh ... Lo patah hati lagi ya, galau lagi karena mikirin dia." Tanya Rio kemudian. Rio sudah tau banyak tentang kehidupan Gilang.
Selama ini Gilang selalu bercerita kepada Rio tentang Sintya. Tentang bagaimana dia tidak pernah bisa melupakan Sintya Bella cinta pertama nya.
"Woy... Bangsat lo, keluar gak. Bikin kaget orang aja." Gilang terlihat kesal.
"Lagian lo kenapa sih Lang, harus mikirin Sintya terus. Padahal banyak wanita wanita cantik yang mengejar lo dan ingin jadi kekasih lo, tapi semua itu lo abaikan begitu saja. Udah lah Lang, lupain Sintya dan mulai lah hidup baru." Rio sebagai sahabat merasa kasihan kepada Gilang yang terus menerus memikirkan Sintya.
"Gue gak mau lihat sahabat gue gini terus, semangat dan bangkit lah. Lo itu ganteng, uang lo banyak. Siapa sih wanita yang gak mau sama lo." Ucap Rio sambil menepuk pelan bahu Gilang.
"Tapi dia itu beda Yo, dia itu wanita sederhana yang cantik dan menarik. Walaupun dia cantik tapi dia tidak pernah sombong kepada siapapun, dia ranah. Sikap nya itu yang membuat gue sulit melupakan nya." Gilang terlihat menetes air mata.
__ADS_1
Rio yang melihat kejadian langka itu hanya bisa tersenyum sambil memeluk sahabatnya itu.
"Gue salut sama lo lang, walaupun lo kuliah di luar negeri dan banyak cewek cewek cantik yang mengejar lo, tapi hati lo tetap terjaga untuk seorang wanita yang bernama Sintya."
"Karena lo belum pernah jatuh cinta Yo, maka nya lo berani nertawain gue. Coba kalo udah jatuh cinta, mungkin lo bakal lebih parah dari gue." Balas Gilang.
"Mungkin juga sih, tapi waktu kita SMA gue pernah jatuh cinta sama Diva sahabat nya Sintya. Tapi dia nolak gue mentah mentah, tapi dia apa kabar nya sekarang ya." Lamunan Rio tiba tiba kembali ke masa lalu mereka.
"Kok jadi lo yang melamun sih Yo, kan gue yang lagi galau." Gilang langsung mengarah kepalan tangan nya tepat di wajah Rio.
"Lo apa apaan sih Lang, ganggu orang lagi ngelamun aja."
"Lagian lo kenapa sih, kayak nya galau berat gitu." Tanya Rio penasaran.
"Tadi tanpa sengaja gue liat Sintya mesra mesraan sama seorang cowok. Pakai peluk peluk segala lagi." Gilang terlihat sangat murung.
"Oh jadi lo itu sedang cemburu rupa nya, hahaha. . Ganteng ganteng kok cemburuan sih." Goda Rio di sertai tawa yang menggelegar di ruangan itu.
"Gue gak cemburu, cuma gue kesal aja melihat dia dekat dekat dengan cowok lain. Pakai peluk peluk segala lagi." Jelas Gilang.
"Itu namanya cemburu kali lang, lo ngaku aja sama gue. Cemburu itu tanda nya lo cinta sama dia."
"Ehh tunggu dulu, tapi siapa ya kira kira orang yang berhasil merebut hati Sintya dari lo." Rio mulai penasaran.
"Gak tau lah gue, kalau gue tau langsung gue usir tu orang."
"Udah lah santai aja, dari pada lo galau terus tak henti hentinya, mending kita nyari tempat makan yang paling enak di kota ini." Tawar Rio.
"Lo mah makan mulu kerjaan nya.. " Jawab Gilang.
Berkat saran dari Rio, akhir nya mereka berdua pergi ke sebuah tempat makan yang katanya paling enak di Jakarta. Mereka berdua makan sambil menikmati pemandangan indah sore itu.
Terima kasih kepada kalian semua yang sudah mampir dan membaca tulisan ku yang tidak beraturan ini, mohon dukungan dari kalian semua.. πππ
Pokok nya love love untuk kalian β€οΈβ€οΈβ€οΈ
__ADS_1