
Jam pun menunjukkan pukul 9 malam. Ibu Siti dan Pak Husein juga menyusul mereka menuju rumah sakit.
''Gimana keadaan Ibu Tari An?'' tanya Pak Husein.
''Mama Tari belum siuman Pak. Mas Axel juga masih ada di dalam,'' ujarnya.
''Kasihan sekali ya, Ibu boleh masuk nggak. Mau lihat keadaan Ibu Tari,'' ucap Ibu Siti. Ana hanya menganggukkan kepalanya pelan.
Ibu Siti pun masuk dengan pelan. Di sana Axel tengah berbicara sendiri di dekat sang Mama. Kepalanya ia sandarkan di ranjang Mamanya. Axel pun tak sadar jika di ruangan itu tak hanya mereka berdua.
''Ma, Mama cepet sembuh ya. Axel pasti menikah kok Ma. Hanya saja Axel butuh waktu untuk mencari pasangan. Axel nggak mau kehilangan Mama, apalagi Axel baru saja kehilangan wanita yang selama ini Axel cintai Ma. Ana menolak perasaan Axel Ma. Selama hampir 30 tahun, Axel tak pernah jatuh cinta kepada wanita manapun. Tapi entahlah, Axel malah terpikat dengan pesona Ana, gadis desa yang sederhana. Selain cantik dia juga sangat baik Ma, sampai-sampai hati Axel jatuh padanya. Tapi apalah daya, Ana tak pernah mencintai Axel Ma. Dia hanya menganggap Axel sebagai teman tak lebih,'' ucap Axel dengan isak tangis.
''Jadi Nak Axel suka sama Ana?'' batin Ibu Siti.
Ibu Siti memilih keluar lagi dari dalam ruangan. Ia tak enak hati jika mengganggu Axel yang tengah curhat kepada Mamanya.
Setengah jam kemudian, beberapa Dokter tergesa-gesa masuk ke dalam ruang rawat Mama Tari. Ana yang melihat pun langsung berdiri. Ana ingin ikut masuk ke dalam ruang rawat, namun seorang suster mencegahnya.
''Maaf Mbak, sebaiknya Mbak tunggu saja di sini,'' ucap Suster itu.
''Baiklah,'' Ucap Ana pasrah.
Selang beberapa saat, Dokter yang tadi memeriksa Mama Tari keluar dari dalam ruangan. Ana pun langsung bertanya kepada Dokter yang memeriksa.
''Bagaimana keadaan pasien Dok?'' tanya Ana.
''Saat ini kondisi pasien sangat lemah. Kanker yang menyerang otaknya sudah sangat parah. Bahkan jika di lakukan operasi pun hasilnya akan fifty fifty,'' ujar Dokter tersebut.
Ana langsung membungkam mulutnya karna syok dengan ucapan dokter tersebut.
''Kami permisi,'' ucap Dokter itu.
Ibu Siti dan Pak Husein mendekati Ana.
''Kita masuk yuk, Nak Axel pasti perlu semangat dari kamu. Dia pasti sangat terpukul dengan kondisi ibunya yang kurang baik,'' ucap Ibu Siti. Mereka pun segera masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
Saat sampai di dalam ruangan. Axel terlihat segera menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya.
Mama Tari juga terlihat sudah siuman, namun kondisinya begitu memprihatinkan. Wajah pucat pasi dan tubuhnya yang melemah membuat orang yang melihat pun tak tega.
''Ma, gimana kondisi Mama saat ini,'' Ana mendekat ke arah blankar Mama Tari. Ia mengelus lengan Mama Tari dengan lembut.
''Ma ma ba ik,'' ucap Mama Tari dengan suara terputus-putus.
''Mama Tari cepet sembuh ya. Kasihan Mas Axel, dia pasti sangat sedih kalau Mama Tari seperti ini,'' ujar Ana. Mama Tari hanya menganggukkan kepalanya lemah sambil tersenyum tipis.
''Ma ma ing in kal kalian meni kah,'' ucap Mama Tari. Ana yang mendengar ucapan Mama Tari langsung memandang Axel.
''Ma, Mama istirahat ya,'' ucap Axel mengalihkan pembicaraan karna tak enak dengan Ana.
Mama Tari menggeleng lemah. Namun air matanya keluar dengan deras.
''Mama kenapa menangis? Axel bakal nikah Ma, yang terpenting sekarang Mama sembuh dulu,'' ujar Axel. Saat mendengar ucapan Axel, Mama Tari langsung memegang kepalanya. Selang beberapa saat ia tak sadarkan diri.
''Mama!! Mama bangun Ma,'' pekik Axel sambil menggoyang-goyangkan tubuh Mama Tari.
Pak Husein keluar memanggil Dokter untuk memeriksa Mama Tari. Dokter pun segera masuk ke dalam ruang rawat tersebut.
''Pak Axel, kondisi Ibu anda sangat-sangat memprihatinkan. Ibu Tari bisa bertahan sejauh ini adalah suatu keajaiban. Namun kondisinya sekarang benar-benar lemah,'' ucap Dokter spesialis.
''Apa yang harus saya lakukan Dok!'' Axel menggoyang-goyangkan bahu Dokter itu, Axel tak mau jika sesuatu terjadi kepada Ibunya.
''Kabulkanlah apa yang Ibu anda minta sebelum semuanya terlambat dan anda menyesalinya Pak. Kita tidak tau umur kita semua sejauh mana,'' ujar Dokter.
Axel menghembuskan nafas panjangnya sambil memejamkan matanya.
''Ma, aku harus bagaimana?'' batin Axel.
Ana yang di beri kode oleh Ibu Siti pun ikut keluar dari ruang rawat. Sesampainya di ruang tunggu, Ana dan Ibu Siti pun segera duduk di kursi panjang.
''Nak, apa kamu mempunyai kekasih?'' tanya Ibu Siti. Ana hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
__ADS_1
''Menikahlah dengan Nak Axel. Kasihan Ibu Tari, dia sangat ingin mempunyai menantu sepertimu,'' ucap Ibu Siti.
''Tapi Bu----''
''Fikirkan, bagaimana jadinya jika yang ada di posisi Nak Axel itu adalah kamu. Dan yang di atas blankar itu Ibu kamu,'' ucap Ibu Siti.
''Bu jangan bicara seperti itu,'' ucap Ana dengan mata berkaca-kaca.
''Nak Axel orang yang baik Nak, Ibu yakin dia bisa menjadi imam yang baik untukmu kelak,'' ucap Ibu.
''Tapi Bu----''
''Apa kamu tidak kasihan dengan Ibu Tari. Dia pasti ingin sekali melihat anaknya bahagia, walaupun itu untuk yang terakhir kalinya,'' ucap Ibu Siti.
''Tapi aku tidak mencintai Mas Axel Bu,'' ucap Ana. ''Karna di hatiku masih tertata rapi satu nama yang entah sampai kapan akan menghilangnya,'' batin Ana.
''Cinta bisa datang karna terbiasa An,'' ucap Ibu Siti membujuk Ana.
''Tapi----''
''Bapak juga merestui Nak. Nak Axel orang yang baik. Dia juga terlihat sayang kepadamu, jangan sia-siakan orang seperti Nak Axel An,''' ujar Bapak yang datang secara tiba-tiba. Ana pun menundukkan wajahnya. Ia tak bisa berfikir jika seperti ini.
''Ya Allah, jika Mas Axel adalah sosok seseorang yang kau kirimkan untukku, maka tumbuhkanlah rasa cinta di hatiku setelah pernikahan nanti,'' batin Ana.
Ana mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya kasar. ''Baiklah,'' ucap Ana pasrah.
Ibu Siti mengajak Ana masuk ke dalam ruang rawat Mama Tari. Bu Siti mengambil nafas dalam-dalam sebelum berbicara.
''Nak Axel, Ana ingin berbicara,'' ucap Bu Siti.
Axel yang tadinya hanya fokus kepada Ibunya sekarang beralih menatap ibu dan anak yang ada di ruangannya itu.
''Mau bicara apa An?'' tanya Axel dengan mata sembab.
''Ak akuu mau menikah dengan Mas Axel,'' ucap Ana pelan.
__ADS_1
Deg.
Jantung Axel rasanya ingin melompat dari tempatnya. Pasalnya ini seperti mimpi baginya. Orang yang selama ini ia cintai, tiba-tiba mau menikah dengannya. Ya, walaupun Axel tau cinta Ana hanya untuk Leon. Namun Axel tak akan menyia-yiakan kesempatan ini.