Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 85 PGD


__ADS_3

Ana memutuskan menelpon Lufi karna perasaannya yang tak enak sejak kemarin.


Tut tut tut.


''Hallo Fi,'' sapa Ana.


''Ana, aku kangen banget sama kamu. Kamu di mana sekarang?'' tanya Lufi.


''Kamu baik-baik saja kan?'' tanya Ana tiba-tiba. Ia tak menjawab pertanyaan Lufi.


''Iya aku baik-baik saja,'' ucap Lufi.


''Syukurlah,'' ucap Ana bernafas lega. Mungkin kemarin hanya perasaannya saja.


''Kamu di mana An. Aku pengen cerita banyak sama kamu. Aku udah nggak sabar nunggu 10 hari lagi biar bisa ketemu kamu. Aku kesana sekarang ya, ya,'' ucap Lufi.


''Nggak bisa Fi. Saat ini aku sedang kerja. Tunggu saja aku di Jakarta,'' ucapnya.


''An, Kak Leon sudah menikah,'' ucap Lufi yang terdengar lirih.


Deg.


Detak jantung Ana terasa berhenti begitu saja.


''Bagus dong. Berarti Kak Leon sosok yang bertanggung jawab,'' ucap Ana berusaha tersenyum walaupun hatinya saat ini tengah terluka.


''Tapi aku maunya kamu yang jadi ipar aku An,'' rengek Lufi di seberang telepon.


''Bukankah jodoh sudah ada yang mengatur,'' ucap Ana. Lufi diam sejenak, mereka sama-sama berperang dengan fikirannya sendiri.


''Aku nggak suka sama istrinya Kak Leon,'' ucap Lufi terdengar menahan tangis.


''Why?''


''Kak Leon buta An. Masak pilih batu kerikil dari pada berlian,'' ucap Lufi dengan ketus.


''Ha ha ha, itu jodoh Kak Leon Fi. Udah ada yang mengatur,'' Ana pun berusaha tertawa, tapi tak ada yang tau isi hatinya.


''Sampai saat ini aku masih berharap kamu yang akan jadi istri Kak Leon. Aku berharap banget mereka segera cerai,'' ucap Lufi tanpa di filter.


''Hust, kalau ngomong yang bagus dong. Doain mereka biar bahagia terus. Jangan berdoa kayak gitu,'' ucap Ana.


''An, kamu nggak merasa sakit gitu? Kak Leon udah nyakitin kamu loh,'' ucap Lufi.


''Resiko jatuh cinta adalah sakit hati Fi. Kalau nggak mau sakit hati, mending nggak usah jatuh cinta,'' ucap Ana lirih.


''Maafin Kakak aku ya An. Pasti kamu sedih banget mendengar kabar ini,''


''Nggak ada yang perlu di maafkan Fi. Ya mungkin aku sama dia nggak berjodoh,'' ucap Ana, tak terasa tiba-tiba air matanya mengalir di pipi.


Setelah bercakap-cakap sedikit lama. Ana memutuskan mengakhiri panggilannya. Ia melanjutkan pekerjaannya yang membuat ia melupakan semua masalah di dalam hidupnya.

__ADS_1


''Aku nggak boleh memikirkan lagi tentangnya. Dia sudah beristri. Aku tak pantas mengharapkan cinta pada suami orang,'' batin Ana yang berbicara.


*


9 hari pun telah berlalu, hari ini Ana akan kembali ke Jakarta untuk mengikuti acara wisudanya yang akan di selenggarakan besok pagi.


Orang tua Ana saat ini juga tengah perjalanan menuju Jakarta.


''Kamu hati-hati ya An, maaf aku nggak bisa antar dan hadir di acara wisuda kamu. Besok pagi aku harus ke LN,'' ucap Indra menyesal.


''Nggak pa-pa Kak. Aku udah biasa sendiri kok. Kakak tenang aja,'' ucap Ana tengah tersenyum kepada Indra.


''Gimana kalau kamu di antar supirku An. Aku benar-benar khawatir loh,'' ucap Indra dengan raut wajah khawatir.


''Nggak usah Kak. Aku beneran berani sendiri kok,'' Ana pun menenangkan Indra yang terlihat mengkhawatirkan Ana.


''Ya udah deh, nanti aku hubungi Kevin biar jemput kamu, kamu hati-hati ya,'' ucap Indra.


''Iya Kak. Kak Indra nggak usah hubungi Kak Kevin. Aku malah nggak enak jadinya,'' ucap Ana.


''Ya udah deh kalau kamu nggak mau,'' ujar Indra.


''Aku berangkat dulu ya Kak,'' pamit Ana.


Ana pun meninggalkan Indra yang tengah menatap kepergiannya. Indra mengantarkan Ana sampai di terminal, karna Ana ingin naik bus sampai di Jakarta.


Tringg tringg tringg.


''Hallo,'' sapa Ana.


''Kamu jadi pulang kapan?'' tanya si penelpon.


''Ini aku udah ada di bus Mas. Mau perjalanan ke Jakarta,'' ucap Ana.


''Kira-kira sampai sini jam berapa?'' tanya lelaki itu


''Mungkin jam 4 sore. Ada apa Mas?'' tanya Ana.


''Nanti aku jemput kamu di terminal,'' ucap lelaki itu.


''Eh, eng enggak usah Mas. Aku juga nungguin Ibu dan Bapak dulu kok,'' ucapnya.


''Nggak pa-pa. Nggak ada penolakan, okay. Ya udah kamu hati-hati,'' ucap lelaki di balik telepon.


Ana hanya menghembuskan nafasnya kasar. Ia lalu memejamkan matanya dan tertidur.


Jam 4 lebih 15 menit ia telah sampai di Jakarta. Ana turun dari bus dengan mata yang masih sangat mengantuk. Padahal ia sudah tidur 2 jam lebih.


''Ana,'' panggil seseorang.


Mata Ana langsung mencari ke arah sumber suara. '' Mas Axel,'' ucap Ana saat menemukan seseorang yang tengah berdiri tak jauh dari bus itu.

__ADS_1


Axel mendekat ke arah Ana, ia benar-benar rindu dengan gadis di depannya saat ini. Hampir 1 bulan lamanya ia tak bertemu dengan gadis yang selama ini ada di dalam hatinya.


''Gimana kabar kamu?'' tanya Axel memecah keheningan.


''Aku baik Mas, Mas Axel gimana?'' tanya Ana balik.


''Aku juga baik. Tapi Mama, Mama sedang sakit saat ini An,'' ujar Axel terlihat wajahnya yang tengah sedih.


''Mama sakit apa Mas?'' tanya Ana penasaran. Pasalnya 1 bulan yang lalu Mama Tari sehat-sehat saja.


''Mama sakit kanker,'' ujar Axel lirih.


''Kanker?'' Ana kaget saat tau jika Mama Tari mengidap penyakit kanker.


''Iya, aku merasa gagal menjadi seorang Dokter dan seorang anak An,'' ucap Axel.


''Mas Axel nggak perlu menyalahkan diri Mas sendiri. Aku yakin Mama pasti sembuh Mas. Mama pasti bisa melewati penyakit yang di deritanya ini,'' ucap Ana menenangkan Axel.


Axel mengangguk. ''Ibu sama Bapakmu sampai mana?'' tanya Axel mengalihkan pembicaraan.


''Mungkin sebentar lagi mereka sampai,'' ujar Ana. Dan benar saja, bus jurusan kota kelahiran Ana baru saja tiba di terminal.


''Itu busnya kayaknya Mas,'' ucap Ana.


Orang tua Ana turun dari Bus kota. Mereka celingukan mencari keberadaan Ana.


''Ibu, Bapak,'' panggil Ana yang masih sedikit jauh jaraknya.


''Ana,'' ucap Ibu Ana. Ana segera memeluk Ibu dan Bapaknya. Rasa rindu yang selama ini ia rasakan akhirnya terobati.


''Ibu kangen banget sama kamu,'' ucap Ibu Siti.


''Ana juga kangen sama Ibu dan Bapak,'' ucap Ana.


''Oh iya ini bukannya Nak---'' ucapan Ibu Siti menggantung sambil mengingat nama pria yang ada di depannya ini.


''Axel, saya Axel teman Ana Bu, Pak,'' ucap Axel memperkenalkan dirinya.


''Iya namanya Nak Axel. Yang waktu itu kita ketemu di mall besar itu kan,'' ucap Ibu Siti.


''Iya, benar Ibu,'' ucap Axel tersenyum ke arah orang tua Ana.


''Mana Nak Lufi, biasanya kalian selalu sama-sama,'' ucap Ibu Siti mencari Lufi.


''Kan aku sekarang kerja di Bandung Bu. Jadi Aku udah nggak tinggal di rumah Lufi lagi,'' ucap Ana berbicara jujur.



Visual Dokter Axel ya.


Pilih Dokter Axel atau Mas Leon yang udah beristri😁

__ADS_1



__ADS_2