Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 100 PGD


__ADS_3

''Kejar Kak jika dia memang ada di hati Kakak, daripada nanti nyesel. Kalau udah nyesel mau cari kemana lagi coba, dia aja nggak punya ponsel,'' bisik Lufi di dekat telinga Leon.


''Benar yang di katakan Lufi. Aku nggak mau kehilangan orang yang aku sayang untuk kedua kalinya,'' batin Leon langsung berlari ke arah Naswa yang jaraknya sudah lumayan jauh.


''Naswa!'' panggil Leon setengah berteriak.


Naswa menoleh. ''Ada apa Mas?'' tanya Naswa heran kenapa Leon yang memanggil namanya.


''Jangan pergi,'' 2 kata yang keluar dari mulut Leon.


''Tapi Naswa harus pergi Mas. Naswa harus cari pekerjaan,'' ucap Naswa.


''Aku cinta sama kamu Nas. Aku baru sadar jika nama di hati ini sudah di gantikan dengan namamu,'' ucap Leon.


''Apa aku sedang bermimpi?'' batin Naswa. Ia mencoba mencubit lengannya, dan ia merasakan sakit.


Aww.


''Aku nggak mimpi, aku benar-benar nggak mimpi. Mas Leon menyatakan perasaannya untukku?'' batin Naswa yang tak kuat membendung air matanya agar tak jauh saking senangnya.


Leon langsung memeluk tubuh Naswa dengan erat. Ia tak ingin kehilangan orang yang ia cintai lagi.


''Aku mencintaimu Nas, jangan pernah pergi dari sini. Aku nggak mau kehilangan orang yang aku sayangi lagi,'' ucap Leon memohon.


''Kan bener apa kataku. Mereka itu sebenarnya saling suka. Tapi sama-sama saling jaim,'' gumam Lufi menyaksikan Leon dan Naswa berpelukan.


''Will you marry me?'' tanya Leon menggenggam tangan Naswa dan menatap Naswa penuh harap.


Naswa terlihat bingung. ''Tapi aku harus kerja Mas. Aku masih ingin membahagiakan orang tuaku,'' ujar Naswa.


''Kita bisa membahagiakannya sama-sama Nas. Besok kita pergi ke rumah orang tuamu ya. Aku ingin meminta restu kepada mereka,'' ucap Leon.


Naswa pun mengangguk setuju, ia lalu memeluk Leon dengan erat.


''Ehm ehm, udah dong pelukannya. Nanti kalau hamil gimana?'' ucap Lufi mendekat ke arah mereka.


''Kita cuma pelukan Fi. Nggak ngapa-ngapain,'' ucap Leon tak terima.


''Itu kan yang selama ini selalu Kakak tuduhkan kepadaku, aku sama Nino juga cuma pelukan. Tapi Kakak selalu nuduh aku macam-macam, katanya takut hamil lah, ini lah, itu lah,'' gerutu Lufi kesal.


''Iya iya maaf, gitu aja ngambek,'' ucap Leon mencubit pipi Lufi pelan.

__ADS_1


''Idih, siapa juga yang ngambek. Udah kan dramanya, aku mau masuk ke dalam. Panas di sini,'' ujar Lufi meninggalkan mereka berdua.


''Lufi kenapa ya Mas?'' tanya Naswa heran dengan sikap Lufi yang seperti tadi.


''Dia seneng kita bersatu Nas. Kalau kita nikah kan dia juga nyusul nikah,'' ucap Leon.


''Masuk lagi yuk, panas nih,'' ajak Leon. Naswa hanya menurut saja. Naswa lega karna rasa cintanya kepada Leon terbalaskan, walaupun ini masih seperti mimpi untuknya. Seorang Leon, CEO perusahaan besar yang tak sengaja menabraknya sekarang malah membalas cintanya. Sungguh nasib baik berpihak kepada Naswa saat ini.


*


Hoek hoek hoek.


Ana terus menerus mengeluarkan makanan yang ada di perutnya. Sejak pagi tadi ia terus menerus muntah-muntah.


''Apa aku salah makan ya? Tapi biasanya juga makan makanan seperti itu,'' batin Ana mengelap mulutnya menggunakan tisu. Hari ini ia sangat lemas sekali. Apapun yang di makan langsung di keluarkan begitu saja oleh Ana. Perutnya seperti di aduk-aduk saat menerima makanan.


''Sayang, Ana, kamu nggak pa-pa kan?'' Axel terus menerus mengetuk pintu kamar mandi. Axel khawatir terjadi sesuatu dengan istrinya.


Ceklek.


Pintu kamar mandi di buka dari dalam, wajah Ana terlihat pucat pasi saat keluar dari kamar mandi.


''Enggak usah Mas. Mending Mas Axel saja yang memeriksa aku. Kan Mas Axel juga dokter,'' ujar Ana. Axel mendengar ucapan Ana langsung menepuk jidatnya.


''Kenapa Mas sampai lupa kalau Mas ini dokter,'' ujar Axel langsung mengambil peralatan yang di butuhkan.


Axel menempelkan stetoskop ke dada Ana. Ia juga memeriksa tekanan darah Ana. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.


''Yang, bulan ini kayaknya kamu belum haid deh,'' ucap Axel.


Deg.


''Eh, iya Mas. Seharusnya aku haid tanggal 10 tapi ini udah tanggal 25 Mas,'' ujar Ana langsung memeriksa kalender yang ada di mejanya.


''Jangan-jangan,,,'' tebak mereka berdua langsung melebarkan matanya.


''Yang aku ke apotek bentar,'' pamit Axel langsung lari dari hadapan Ana. Ana pun langsung meraba perutnya.


''Apa kamu udah hadir di sini Nak?'' gumam Ana.


Jarak apotek dan rumah mereka tak begitu jauh. Tidak ada setengah jam Axel telah sampai lagi di rumah.

__ADS_1


''Ini Yang. Coba deh kamu periksa,'' ucap Axel yang sudah tak sabar untuk mengetahui hasilnya.


Ana mengambil tespack yang di beli oleh Axel, lalu ia berjalan ke kamar mandi. Axel mondar mandir di depan pintu kamar mandi. Ia benar-benar berharap hasilnya positif.


Di dalam kamar mandi Ana memejamkan matanya saat mengambil tespack yang berada di dalam wadah seperti gelas kecil. Ia harap-harap cemas dengan hasilnya.


''Ya Allah, semoga hasilnya tak mengecewakan Mas Axel,'' batin Ana. Ia membuka matanya sebelah, terlihat samar-samar dua garis merah. Ia langsung membuka kedua matanya, saat melihat hasilnya ia membekap mulutnya agar tak menjerit histeris.


Ceklek.


''Gimana Yang?'' tanya Axel yang sudah berada di dekat pintu.


''Garis satu,'' ucap Ana tertunduk lesu. Namun tespack itu ia sembunyikan di belakangnya.


Axel terlihat menghembuskan nafas panjangnya. ''Ya udah nggak pa-pa, mungkin kita kurang giat bikinnya,'' ucap Axel berfikir positif.


Ana melihat wajah Axel dengan tersenyum. Axel hanya mengeryitkan dahinya.


''Kenapa? Kalau masih negatif ya kita bikin lagi tiap malam, sampai tespack itu bergaris dua,'' ujar Axel.


''Tapi,,,'' Ana menggantungkan ucapannya agar Axel penasaran.


''Tapi apa sih Yang?'' tanya Axel menatap Ana dengan lekad.


''Tapi ini udah garis dua Mas,'' ucap Ana langsung memeluk Axel dengan bahagia. Axel mematung dengan ucapan Ana. Axel tak percaya begitu saja.


''Jangan bercanda deh Yang,'' ucap Axel langsung melihat tespack yang di pegang oleh Ana. Axel pun langsung melebarkan matanya saat dua garis merah ada di tespack itu.


''Aku nggak bercanda kan?'' Ana tersenyum ke arah Axel. Axel langsung mendaratkan kecupannya di kening Ana.


''Makasih sayang. Makasih, ini hadiah terindah di tahun ini,'' ucap Axel memeluk tubuh Ana dengan erat.


''Aku nggak nyangka sebentar lagi kita akan jadi Mama dan Papa Mas,'' ucap Ana.


''Iya Sayang. Jaga dia baik-baik ya,'' ucap Axel.


Axel bahagia karna sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah. Tak hanya itu, bayi yang ada di kandungan Ana saat ini bisa menjadi penguat hubungan di antara mereka.


*


*

__ADS_1


__ADS_2