Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 91 PGD


__ADS_3

Hari pun menjelang sore, Ana dan Axel bersiap-siap menuju rumah sakit terlebih dahulu sebelum berangkat ke Bandung. Ana ingin berpamitan terlebih dulu dengan mertuanya.


''Mas, nanti gimana kalau Mama sama Papa nggak ngijinin aku kerja lagi,'' tanya Ana menatap suaminya yang tengah fokus berkendara.


''Ya nggak usah pergi An,'' ucap Axel santai.


''Mas,'' rengekk Ana.


''Enggak-enggak, mereka pasti ngijinin. Biar aku yang bicara ke mereka,'' ucap Axel.


Hari ini Ana terlihat lebih manja dan hangat kepada Axel. Axel juga nampak heran dengan sikap Ana yang tiba-tiba berubah. Ini semua pasti berkat mertuanya yang memberi wejangan kepada Ana sebelum pulang kemarin.


''Ingat udah punya suami. Disana enggak usah lirik-lirik lelaki lain,'' ucap Axel fokus menatap ke depan.


''Apa Mas Axel cemburu?'' tanya Ana menoleh ke arah Axel sambil tersenyum.


''Enggak usah di tanya dong An,'' ucap Axel melirik sejenak kepada Ana. Ana hanya membalasnya dengan senyum tipisnya.


Sesampainya di rumah sakit mereka segera masuk ke dalam ruang rawat Mama Tari. KeadaanMama Tari masih sama seperti 3 hari yang lalu.


''Assalamualaikum Ma, Mama gimana keadaannya?'' tanya Ana mendekat ke arah ranjang.


''Walaikumsalam, Mama baik sayang. Kalian mau kemana kok rapi banget?'' tanya Mama Tari pelan. Karna di hidungnya ada selang oksigen yang menancap, jadi sulit untuk di buat berbicara.


''Axel mau antar Ana ke Bandung Ma. Ana besok harus kerja lagi,'' ucap Axel. Ana menundukkan wajahnya, takut jika mertuanya marah.


''Ke Bandung? Apa tidak ada kerjaan di daerah sini?'' kini Papa Adrian yang angkat bicara.


''Gini Ma, Pa. Ana baru sebulan bekerja di perusahaan sahabatnya. Ana tak enak jika harus berhenti dari sana saat ini,'' ucap Axel.


''Terus kalian berjauhan gitu?'' tanya Mama Tari.


''Ya mau gimana lagi Ma. Mama kan sekarang juga masih sakit, aku nggak mungkin kan ninggalin Mama disini,'' ucap Axel.


''Mama kan udah di temeni Papa Nak, kamu ikutlah bersama istrimu. Nanti kamu bisa bekerja di rumah sakit paman kamu yang ada di Bandung,'' ucap Mama Tari.


''Baiklah Ma,'' ucap Axel pasrah. Walaupun ia berat meninggalkan Mamanya yang tengah berjuang melawan penyakitnya, namun ia juga merasa bahagia karna bisa bertemu istrinya setiap hari.


Setelah berbincang-bincang sedikit lama. Ana dan Axel pamit untuk pulang dulu, setelah itu mereka akan berangkat ke Bandung.

__ADS_1


Setelah perjalanan 2 jam lebih, akhirnya mereka sampai di kosan Ana yang terbilang sederhana.


''Nggak pa-pa kan kita tinggal di sini Mas. Ya walaupun kosannya kecil tapi di sini bersih dan nyaman kok,'' ucap Ana.


''Aku nggak masalah An. Yang penting bareng terus sama istriku tercinta,'' ucap Axel sambil tersenyum.


''Ihh Mas Axel apaan sih,'' Ana tiba-tiba mencubit pinggang milik Axel.


''KDRT sih,'' Axel meringis menahan sakit pada pinggangnya.


''Cuma pegang dikit doang katanya KDRT. Ish ish, ya udah aku nggak akan pegang-pegang lagi,'' ucap Ana merajuk.


''Gitu aja ngambek. Sensi banget sih istriku,'' ujar Axel menoel hidung mancung milik Ana.


''Kenapa jantungku deg-degan gini ya saat Mas Axel manggil aku istriku. Masa aku udah mulai nyaman sih sama dia,'' batin Ana menatap Axel dengan seksama.


''Kenapa lihatin aku sampai segitunya? Awas nanti naksir loh,'' gumam Axel.


''Nggak ada salahnya dong, naksir suami sendiri,'' ucap Ana pelan. Axel menyunggingkan bibirnya.


''Mas Axel mandi dulu sana, aku beresin baju Mas Axel dulu,'' ucap Ana sambil mengeluarkan baju milik Axel dari dalam koper.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Axel keluar dari dalam kamar mandi. Ia mendapati Ana yang masih sibuk beberes.


''Mending kamu mandi dulu. Udah mau adzan magrib loh,'' ucap Axel.


''Iya Mas, sedikit lagi,'' ucap Ana yang masih sibuk dengan pakaian di depannya.


''Biar aku yang beresin. Kamu mandi dulu,'' ucap Axel mendekat ke arah Ana.


''Ya udah, aku mandi dulu,'' Ana berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi. Axel menyelesaikan menata baju di dalam lemari.


Setelah selesai mandi, Axel mengajak Ana untuk sholat berjamaah. Terharu, tentu. Pasalnya Leon tak pernah mengajaknya sholat, bahkan Leon saja sampai lupa dengan bacaan sholat.


''Ya Allah, engkau telah memberikan seseorang yang menuntunku kembali ke jalanmu. Aku ingin dia yang akan menjadi lelaki satu-satunya di hatiku setelah ayahku,'' batin Ana saat berdoa kepada sang pencipta.


''Berikanlah cinta di hatiku untuknya Ya Allah. Aku tak akan menyia-yiakan orang sebaik dan se taat dia,'' sambung Ana lagi.


Setelah selesai sholat magrib. Ana mengajak Axel makan malam di luar. Karena Ana belum sempat berbelanja jika ingin memasak sendiri.

__ADS_1


''Mas Axel mau makan apa?'' tanya Ana saat berada di dalam mobil.


''Makan apa aja aku mau An. Aku nggak pilih-pilih soal makanan. Yang penting makannya sama kamu. Walau tai kucing pun rasanya akan berubah menjadi coklat jika kita makan bersama orang yang kita cintai,'' ucap Axel sambil tertawa.


''Mas Axel mau tai kucing?'' tanya Ana langsung menoleh ke arah Axel saat Axel berkata demikian.


''Ya enggak! Itu perumpamaan istriku,'' Axel mencubit pipi Ana sebelah kanan karna gemas.


''Aku kira mau tai kucing,'' ucap Ana sambil tertawa.


*


Mereka pun makan di cafe teletubis yang ada di Kota itu.


''Aku ke toilet sebentar ya,'' pamit Axel. Ana menganggukkan kepalanya sambil menikmati makanan yang berada di atas meja.


Saat ia menikmati makanannya, ada seseorang yang berjalan tepat di sampingnya lalu tak sengaja menyenggol tubuh Ana karna posisi cafe itu sangat ramai.


''Maaf,'' ucap seseorang itu sambil menoleh ke arah Ana. Ana pun mendongakkan kepalanya melihat ke arah seseorang yang menyenggolnya.


Deg.


''Ana!'' ucap orang itu.


''Mas Leon,'' gumam Ana pelan. Makanan yang ia kunyah pun terhenti di mulutnya.


''Ana, kamu beneran Ana kan,'' ucap Leon kaget bertemu Ana di cafe itu. Ana menganggukkan kepalanya pelan.


''Aku kangen banget sama kamu sayang. Selama ini ternyata kamu ada di Kota ini. Kenapa kamu nggak pernah ngabari aku sih,'' ucap Leon memeluk tubuh Ana dengan erat. Ana hanya diam, ia bingung harus berbuat apa. Fikiran dan tubuhnya sedang tidak sejalan.


''Maafin aku, maafin aku An,'' sambungnya lagi.


''Ehm,'' tiba-tiba seseorang berdehem sedikit keras. Ana langsung tersadar dan melepaskan pelukan Leon.


''Mas Axel,'' Ana berusaha mengusir rasa gugupnya. Ia seperti istri yang ketahuan sedang selingkuh.


*


Jangan lupa tinggalkan jejaknya kawan.

__ADS_1


Like, coment kalian sangat berarti🄰


__ADS_2