Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 53 PGD


__ADS_3

Sesampainya di perusahaan Leon menahan lapar karna sejak kemarin sore ia belum makan. Leon pun tidak konsen dalam bekerja karna merasakan perutnya yang minta di isi.


''Akhhh sh*tttt, laper banget lagi,'' gumamnya sambil memegang perut.


Sebenarnya tadi pagi ia ingin sekali sarapan. Apalagi di meja makan terhidang menu kesukaannya yaitu nasi goreng. Namun ia teringat jika masih kesal kepada Ana. Jadi Leon urungkan untuk sarapan pagi.


Saat Leon ingin menyuruh Dirga memesankan makanan, tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk dari luar.


''Masuk!'' ucap Leon.


Ceklek.


Leon menatap seseorang yang membuka pintu. Ia kaget saat melihat bidadari hatinya datang ke kantornya.


''Ngapain kamu kesini?'' tanya Leon dengan wajah datarnya.


''Mas Leon belum sarapan. Pasti Mas Leon saat ini lapar. Ini aku bawakan nasi goreng buat Mas Leon. Kita makan sama-sama ya Mas,'' ucap Ana.


''Aku nggak lapar! mending kamu keluar dari sini,'' ucapnya dingin.


''Mas, aku tau aku salah. Aku minta maaf Mas,'' ucap Ana mendekat ke arah meja Leon. Namun Leon sibuk dengan laptop yang ada di depannya.


''Mas,'' rengek Ana.


''Jika kamu kesini hanya ingin menggangguku bekerja mending kamu pulang deh!'' ucap Leon.


''Ya udah kalau nggak mau aku ganggu. Aku pulang!'' ucap Ana meletakkan kotak bekal yang ia bawa tadi di atas meja dengan keras.


''Jangan mencariku lagi!'' ucap Ana yang ikut kesal. Ia sudah capek membuat sarapan dan mengantarnya ke perusahaan, namun saat sampai di sana ia malah di usir oleh kekasihnya sendiri.


Ana berjalan meninggalkan Leon yang tengah menatap Ana yang berjalan meninggalkannya. Kemudian Leon mengunci pintu menggunakan remot otomatis yang ada di dekatnya.


''Kok ke kunci sih, ihhhhh bukaa!!'' ucap Ana kesal.


''Bukain Mas!! Kamu sendiri kan yang menyuruh aku pergi dari sini. Jadi biarkan aku pergi,'' ucap Ana.


''Nggak semudah itu An. Kamu harus di beri pelajaran terlebih dulu,'' ucap Leon mendekat ke arah Ana yang ada di dekat pintu.


''Pelajaran apa?! Jangan ngadi-ngadi deh Mas,'' ucap Ana bertambah kesal.


Cup.


Leon mengecup sekilas bibir Ana.


Leon tersenyum licik ke arah Ana. Ana yang melihat senyum misterius Leon menjadi merinding sendiri. Ia berusaha membuka pintu, namun pintu tak bisa ia buka karna sudah di kunci oleh Leon.

__ADS_1


''Kamu mau ngapain Mas?'' tanya Ana yang menghindar saat Leon mendekatinya.


''Aku ingin kamu menjadi milikku! Aku ingin segera menghalalkanmu An,'' ucap Leon.


''Aku tak tahan melihat mu bersama dengan lelaki lain. Hatiku sakit An, tolong hargai sedikit saja diriku An,'' ucap Leon memelas.


''Aku hanya berteman dengan mereka Mas. Dan aku tak melakukan apapun, jika Mas Leon nggak percaya, Mas Leon bisa tanya sama Lufi. Dia sekarang ada di bawah,'' ucap Ana.


''Bukannya aku nggak percaya sama kamu sayang. Salah satu temanmu itu terlihat menyukaimu, dia ingin selalu dekat denganmu, saat video call kemarin saja ia tidur di dekatmu kan. Aku cemburu An,'' ucap Leon.


''Aku bisa Mas menjaga diriku sendiri. Aku tau batasan-batasanku. Jadi Mas Leon tenang saja. Aku nggak bisa tiba-tiba menghindari mereka. Apalagi Kak Kevin sudah banyak menolongku,'' ujar Ana.


''Terserah jika itu maumu,'' ucap Leon pergi ke kursinya lagi. Ia duduk di sana sambil memejamkan matanya.


''Mas, jangan marah-marah terus dong. Kan Mas sendiri yang bilang kalau hubungan harus di landasi dengan saling percaya satu sama lain,'' ucap Ana.


Leon menhembuskan nafasnya kasar sambil membuka matanya. ''Aku percaya padamu sayang,'' ucap Leon.


''Temani Mas Makan ya,'' pinta Leon.


''Iya Mas, aku juga belum sarapan tadi pagi,'' ucap Ana membuka kotak bekal yang ia bawa.


''Kenapa belum sarapan? Ini udah hampir jam 9 dan kamu belum sarapan?'' ucap Leon sedikit kesal.


''Ya gimana mau sarapan kalau calon imamnya aja nggak sarapan,'' ucap Ana asal.


''Bukannya makmum yang baik harus mengikuti imam?'' ucap Ana.


''Nggak gitu juga konsepnya Anastasya putriiii!!'' ucap Leon. Mereka tertawa bersama-sama. Hilang sudah rasa marah, kecewa yang ada di dalam hatinya. Yang ada sekarang di gantikan dengan rasa cinta yang menggebu.


Mereka sarapan dengan saling menyuapi.


''Habis sarapan kamu ikut aku ya,'' ucap Leon.


''Kemana?'' tanya Ana mengerutkan dahinya.


''Udah nggak usah banyak tanya. Anggap saja ini sebagai hukuman buat kamu,'' ucap Leon.


''Kan aku udah minta maaf Mas,'' ucap Ana menyebikkan bibirnya.


''Maaf saja nggak cukup An,'' ucap Leon.


Setelah sarapan bersama mereka keluar dari perusahaan Lewis Corp. Entah Ana mau di bawa kemana, Ana sendiri bingung dengan sifat Leon yang kadang baik dan kadang datar kepadanya.


''Mas kita mau ngapain kesini?'' tanya Ana.

__ADS_1


Mereka turun dari mobil dan menuju tempat toko perhiasan yang paling besar di pusat perbelanjaan itu.


''Kita ngapain Mas kesini?'' tanya Ana pelan.


''Pilihlah yang kamu suka!'' perintah Leon. Di sana ada berbagai bentuk cincin yang terbuat dari berlian asli.


''Buat apa?'' tanya Ana sedikit berbisik.


''Pilihlah atau aku tambah hukumannya,'' ancam Leon.


Ana di buat bingung dengan pilihan di depannya, karna menurut Ana semuanya cantik dan mewah.


''Mas, mending kira cari toko yang lain deh. Nggak ada yang cocok buat aku,'' ucap Ana.


''Mbak tolong carikan cincin tercantik dan termewah untuk calon istri saya,'' ucap Leon.


''Baik Tuan,'' ucap Pelayan di toko itu.


''Mas, kita bisa cari di tempat lain. Kayaknya di sini mahal-mahal deh,'' ucap Ana.


''Aku masih mampu membeli perhiasan di sini An. Bahkan untuk membeli tokonya pun aku sanggup,'' ucap Leon.


''Ini Tuan, ada beberapa pilihan perhiasan yang paling cantik di toko ini,'' ucap pelayan itu membawa beberapa cincin.


''Kamu pilih yang mana?'' tanya Leon.


''Cepat pilih An. Aku nggak punya banyak waktu,'' ucap Leon kesal karna sejak tadi Ana hanya diam, enggan untuk memilih.


Ana memilih cincin dengan desain sederhana namun tetap mewah dan elegan saat di pakai.


''Calon istrinya pintar memilih ya Tuan,'' ucap Pelayan itu sambil tersenyum.


''Aku ambil yang ini,'' ucap Leon.


''Baik Tuan, totalnya 569 juta,'' ucap pelayan itu.


''Apaaa?'' Ana melongo mendengar harga dari cincin yang ia pilih tadi.


''Mas, yang benar saja,'' ucap Ana dengan wajah yang lucu menurut Leon. Namun Leon diam saja tak menyahut ucapan Ana. Setelah membayar cincin Ana, Leon mengajak Ana berbelanja pakaian, karna selama ini Leon belum pernah memberi apapun kepada Ana.


*


*


Jangan Lupa Like, coment, vote, fav dan beri hadiah ya.

__ADS_1


Jangan lupa bunga dan kopinya bestieee


__ADS_2